Riset ECOTON menemukan mikroplastik telah memasuki aliran darah manusia Indonesia, menggeser isu dari pencemaran lingkungan menjadi ancaman kesehatan yang meluas dan sulit dihindari.
Isu mikroplastik di Indonesia mengalami pergeseran makna yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya dipahami sebagai persoalan pencemaran lingkungan, kini riset ilmiah mulai menunjukkan bahwa dampaknya telah melampaui batas ekosistem dan menyentuh aspek paling mendasar dari kehidupan manusia: kesehatan tubuh. Partikel plastik berukuran sangat kecil tidak lagi hanya ditemukan di sungai, laut, atau udara, tetapi juga terdeteksi dalam berbagai sampel biologis manusia.
Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) menjadi salah satu lembaga yang berada di garis depan dalam mengungkap fenomena ini. Sejak 2018, ECOTON mulai menaruh perhatian serius pada krisis mikroplastik melalui penelitian di lingkungan, khususnya di wilayah Daerah Aliran Sungai Brantas. Dari air, sedimen, udara, hingga biota perairan, hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah tersebar luas dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Perkembangan riset global pada 2020 menjadi titik balik penting. Sejumlah studi internasional mengungkap bahwa mikroplastik tidak hanya berhenti di lingkungan, tetapi juga telah ditemukan dalam tubuh manusia, seperti pada feses, air susu ibu, hingga darah. Temuan-temuan ini memicu ECOTON untuk memperluas fokus penelitian ke paparan mikroplastik dalam tubuh manusia di Indonesia.
Jurnalis TitikTerang, Supriyadi, kemudian mewawancarai peneliti ECOTON, Sofi Azilan Aini, S.KM, untuk menggali lebih jauh perjalanan riset tersebut. Dari langkah awal penelitian mikroplastik dalam feses masyarakat bantaran Kali Surabaya pada 2019, hingga pengembangan studi pada sampel darah pekerja sampah pada 2025, wawancara ini menelusuri bagaimana bukti-bukti ilmiah mulai terbangun.
Percakapan ini juga membuka pertanyaan yang lebih besar: seberapa luas sebenarnya paparan mikroplastik di Indonesia, dan apa yang harus dilakukan sebelum dampaknya menjadi semakin sulit dikendalikan. Berikut petikan wawancaranya yang berlangsung di kantor Ecoton di Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, Selasa, 31 Maret 2026.
Sejak kapan Ecoton mulai meneliti keberadaan mikroplastik dalam darah manusia di Indonesia, dan apa yang memicu riset ini?
Sejak 2018, ECOTON mulai menaruh perhatian serius pada krisis mikroplastik, diawali dengan penelitian kontaminasi di lingkungan seperti air, sedimen, udara, dan biota perairan di wilayah DAS Brantas. Dari temuan-temuan tersebut, terlihat jelas bahwa mikroplastik telah tersebar luas di lingkungan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.
Memasuki tahun 2020, perkembangan riset global mulai menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya berhenti di lingkungan, tetapi juga telah terdeteksi dalam berbagai sampel biologis manusia, seperti feses, ASI, darah, urine, hingga organ internal. Temuan-temuan internasional ini menjadi titik pemicu bagi ECOTON untuk memperluas fokus penelitian ke paparan mikroplastik dalam tubuh manusia di Indonesia.
Langkah awal dilakukan pada 2019 melalui penelitian mikroplastik dalam feses masyarakat yang tinggal di bantaran Kali Surabaya. Studi ini kemudian dikembangkan ke penelitian mikroplastik dalam ASI, bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, untuk memahami paparan pada kelompok rentan seperti ibu dan bayi.
Pada tahun 2025, ECOTON bersama Wonjin Institute, Korea Selatan, melakukan penelitian terkait paparan bahan kimia pengganggu hormon (EDCs) dalam darah pekerja sampah. Dari penelitian tersebut, dilakukan analisis lanjutan untuk mengidentifikasi keberadaan partikel mikroplastik dalam sampel darah. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh sampel darah dari 20 pekerja sampah yang diperiksa mengandung mikroplastik.
Temuan ini menjadi dasar penting untuk memperluas penelitian ke kelompok lain, yaitu mahasiswa kesehatan masyarakat di Malang, guna melihat apakah paparan mikroplastik dalam darah juga terjadi pada populasi non-pekerja dengan paparan lingkungan yang berbeda.
Secara keseluruhan, riset ini didorong oleh kekhawatiran bahwa mikroplastik telah menjadi paparan yang tidak terhindarkan (ubiquitous exposure), serta kebutuhan untuk menghadirkan data ilmiah berbasis Indonesia guna memperkuat advokasi kebijakan pengendalian plastik dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Bagaimana metode yang digunakan untuk mendeteksi mikroplastik dalam sampel darah? Seberapa akurat hasilnya?
Dari setiap 1 ml eritrosit sel darah merah yang pindahkan ke glass tube yang sudah dibilas 3x menggunakan filtered aquadesh, selanjutnya sample ditambahkan 5 ml KOH dan ditutup dengan penutup tube yang terbuat dari kayu organik material.
Selanjutnya diinkubasi selama 48 jam seperti jurnal penelitian lainnya. Setelah itu sample disaring menggunakan filter vacuum melalui filter kaca mikrofiber GF/F dengan porositas 0.45 µm. setelah disaring selanjutnya sample diidentifikasi dibawah mikroskop Trinocular Olympus CX33 di Lab ECOTON.
Sudah dipastikan seluruh equipment yang digunakan berbahan kaca non plastic yang sudah dibilas tiga kalo menggunakan ultra pure water, aquaresh yang disaring sehingga dipastikan tidak ada kontaminasi plastik luar. Semua kegiatan preparasi juga dilakukan dalam lemari asam laminar air flow bebas kontaminasi eksternal.

Jenis plastik apa yang paling sering ditemukan dalam darah manusia?
Secara umum, mikroplastik (MPs) yang ditemukan di lingkungan memang memiliki berbagai bentuk, seperti fiber (serat/benang, biasanya dari tekstil), fragment (pecahan plastik keras), film (lembaran tipis dan lentur, seperti kantong plastik), foam (misalnya dari styrofoam), dan beads (partikel bulat kecil dari produk perawatan pribadi).
Namun, ketika kita berbicara tentang mikroplastik yang sudah masuk ke dalam darah manusia, karakteristiknya menjadi berbeda. Partikel yang berhasil menembus barrier tubuh umumnya berukuran sangat kecil dan telah mengalami proses degradasi fisik maupun kimia, sehingga bentuk aslinya seringkali tidak lagi utuh atau sulit dikenali secara visual.
Dalam temuan kami, mikroplastik dalam darah lebih sering tampak menyerupai fragmen kecil atau film/filamen yang sangat halus, dibandingkan bentuk fiber panjang atau beads yang lebih besar. Hal ini kemungkinan karena hanya partikel dengan ukuran mikro yang mampu melewati sistem pertahanan tubuh, seperti epitel usus atau paru, lalu masuk ke dalam sirkulasi darah.
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa identifikasi berdasarkan bentuk saja tidak cukup untuk menentukan jenis plastiknya. Untuk mengetahui jenis polimer secara spesifik—misalnya apakah itu polyethylene (PE), polypropylene (PP), polystyrene (PS), atau polyethylene terephthalate (PET). Diperlukan analisis lanjutan menggunakan teknik seperti micro-FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) atau Raman spectroscopy.
Dari temuan Ecoton, seberapa luas paparan mikroplastik pada masyarakat Indonesia? Apakah sudah bisa disebut darurat?
Berdasarkan temuan ECOTON dan juga konsistensi dengan studi global, paparan mikroplastik pada masyarakat Indonesia dapat dikatakan sangat luas dan hampir tidak terhindarkan. Dalam studi kami sendiri, seluruh sampel darah yang diperiksa menunjukkan adanya mikroplastik.
Ini mengindikasikan bahwa paparan tidak hanya terjadi pada kelompok dengan risiko tinggi seperti pekerja sampah, tetapi juga berpotensi terjadi pada populasi umum dengan jalur paparan sehari-hari, seperti konsumsi makanan dan minuman, serta inhalasi udara.
Terkait apakah ini sudah bisa disebut “darurat”, secara klasik istilah darurat kesehatan biasanya digunakan untuk kondisi dengan dampak akut yang langsung terlihat. Sementara mikroplastik bekerja dengan cara yang berbeda—paparannya bersifat kronis, akumulatif, dan jangka panjang. Artinya, efeknya tidak selalu langsung terasa, tetapi berpotensi memicu gangguan kesehatan seiring waktu.
Namun justru di sinilah letak kekhawatirannya. Mikroplastik adalah partikel asing yang tidak memiliki fungsi biologis dalam tubuh, dan keberadaannya dapat memicu berbagai respons, seperti stres oksidatif, peradangan kronis, serta gangguan pada sistem seluler dan hormonal.
Dalam beberapa studi eksperimental, jenis polimer tertentu seperti polystyrene juga dikaitkan dengan perubahan pada sistem pembekuan darah, termasuk peningkatan faktor koagulasi yang dapat berkontribusi pada kondisi hiperkoagulasi, pembentukan trombosis, dan gangguan mikrosirkulasi.
Jika paparan ini terjadi terus-menerus dalam jangka panjang, maka ada potensi kontribusi terhadap berbagai penyakit kronis, termasuk gangguan kardiovaskular, gangguan metabolik, hingga penurunan fungsi organ. Meski hubungan kausal langsung pada manusia masih terus diteliti, sinyal risikonya sudah cukup kuat untuk tidak diabaikan.
Apa saja jalur utama mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh hingga mencapai aliran darah?
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Mikroplastik (MPs) masuk melalui 3 jalur yaitu makanan dan minuman (ingesti) Mikroplastik masuk lewat air minum, makanan laut, dan kontaminasi dari kemasan plastik, lalu partikel kecil dapat menembus dinding usus ke darah. Udara (inhalasi) Partikel mikroplastik dari debu dan serat pakaian terhirup, masuk ke paru-paru, dan yang sangat kecil bisa menembus ke aliran darah. Paparan sehari-hari Dari produk plastik dan aktivitas harian yang terus-menerus, menambah paparan total hingga sebagian partikel akhirnya masuk ke tubuh dan bersirkulasi.
Tidak semua mikroplastik bisa masuk ke aliran darah. Hanya partikel dengan ukuran sangat kecil yang mampu. Menembus dinding usus atau paru. Menghindari sistem pertahanan tubuh Masuk ke pembuluh darah dan bersirkulasi Setelah berada dalam darah, partikel ini berpotensi tersebar ke berbagai organ. dalam penelitian ini ukuran partikel yang ditemukan adalah 2-7 mikron sedangkan ukuran kapiler pembuluh terkecil adalah 5-10 mikron.
Apakah ada kelompok masyarakat yang lebih rentan terpapar mikroplastik dalam darah?
Secara umum, semua kelompok usia rentan terpapar mikroplastik, karena kontaminasinya sudah sangat luas – mulai dari makanan, air minum, hingga udara yang kita hirup setiap hari. Artinya, paparan ini memang sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, jika berbicara tentang kelompok yang paling rentan terhadap dampak kesehatannya, maka periode yang paling krusial adalah 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Pada fase ini, organ tubuh, sistem imun, dan metabolisme sedang berkembang sangat cepat, sehingga lebih sensitif terhadap paparan zat asing, termasuk mikroplastik.
Paparan pada fase awal kehidupan ini dikhawatirkan dapat memicu efek jangka panjang, seperti: gangguan perkembangan sistem imun, peningkatan risiko penyakit metabolik, serta potensi gangguan kesehatan lain di kemudian hari.
Apakah mikroplastik dalam darah bisa dikeluarkan oleh tubuh, atau justru terakumulasi?
Saat ini, bukti ilmiah menunjukkan bahwa mikroplastik dalam tubuh memiliki dua kemungkinan. Sebagian kecil bisa dikeluarkan, tetapi sebagian lainnya cenderung bertahan dan terakumulasi. Ada mekanisme eliminasi, tetapi sangat terbatas.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tubuh dapat mengeluarkan mikroplastik, terutama: melalui feses (untuk partikel yang tidak terserap), dan sebagian kecil melalui urine, khususnya untuk partikel yang sangat kecil (nanoplastik).
Namun, studi eksperimental menunjukkan bahwa nanoplastik lebih mudah diekskresikan, sedangkan mikroplastik berukuran lebih besar cenderung bertahan lebih lama dalam tubuh. Still limited study showing how mps interact in human body. (Sun, Wei, Cuihong Jin, Yinglong Bai, Ruixue Ma, Yuan Deng, Yuan Gao, Guowei Pan, Zuosen Yang, and Lingjun Yan. “Blood uptake and urine excretion of nano-and micro-plastics after a single exposure.” Science of the total environment 848 (2022): 157639).
Bagaimana temuan di Indonesia dibandingkan dengan studi global terkait mikroplastik dalam darah manusia?
Berdasarkan data yang terlihat, Sofi Azilan Aini menunjukkan penelitian yang mengidentifikasi berbagai jenis polimer yang umum ditemukan dalam sampel, seperti PET, PE, PS, PMMA, dan PP.
Pada penelitian lain, variasi polimer yang terdeteksi lebih beragam, mencakup PE, PVC, PS, PMMA, PET, PP, PC, serta Nylon-6 dan Nylon-6,6.
Dari sisi kuantitatif, hasil pengukuran menunjukkan rentang konsentrasi mikroplastik sebesar 75,2 µg/g hingga 432,9 µg/g. Hal ini mengindikasikan adanya variasi tingkat kontaminasi yang cukup signifikan antar sampel atau lokasi penelitian.
Secara keseluruhan, ditunjukkan dalam infografis berikut yang menggambarkan bahwa munculnya mikroplastik dalam berbagai bentuk polimer dengan konsentrasi yang bervariasi, tergantung pada lokasi, jumlah sampel, serta metode atau instrumen penelitian yang digunakan.

Selanjutnya, apa tantangan terbesar dalam meneliti mikroplastik dalam darah di Indonesia?
MPs ini isu baru dampak dari over production dari plastik sehingga Standarisasi metode nya belum seragam, sehingga keterbatasan fasilitas dan teknologi analisis, peneliti belum menemukan best methode menggunakan FTIR atau Raman atau GCMS atau LCMS.
Semua ini bisa mendeteksi polimer plastik tapi tidak dengan karakter fisik plastik yg harus menggunakan mikroskop stereo atau SEM, untuk menguji sample menggunakan alat ini juga tidak murah lebih lanjut. Risiko kontaminasi yang sangat tinggi karena mikroplastik ada di mana-mana, mulai dari udara hingga pakaian peneliti, menjaga agar sampel darah tidak terkontaminasi selama proses penelitian menjadi tantangan besar. Diperlukan prosedur yang sangat ketat agar hasil yang diperoleh benar-benar berasal dari dalam tubuh, bukan dari lingkungan saat analisis.
Dari perspektif Ecoton, kebijakan apa yang paling mendesak dilakukan pemerintah untuk menekan risiko mikroplastik bagi kesehatan manusia?
Jika pemerintah benar-benar melihat mikroplastik sebagai isu serius bagi kesehatan masyarakat, maka langkah penting yang perlu dilakukan adalah mulai menyusun kerangka kebijakan yang komprehensif, tidak hanya di hilir tetapi juga dari hulu.
Pertama, memang perlu dipertimbangkan pengembangan baku mutu atau ambang batas paparan mikroplastik, baik di lingkungan (air, udara, pangan) maupun dalam konteks biomonitoring manusia. Walaupun secara ilmiah ini masih menantang karena risetnya terus berkembang, langkah awal seperti baseline data nasional sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Kedua, pemerintah perlu memperkuat sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Saat ini, kebocoran plastik ke lingkungan masih tinggi—mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan akhir. Tanpa perbaikan sistemik, mikroplastik akan terus terbentuk dan menyebar ke air, udara, dan rantai makanan.
Ketiga, diperlukan regulasi tegas terhadap praktik berisiko tinggi, seperti pembakaran sampah terbuka. Praktik ini tidak hanya menghasilkan polusi udara berbahaya, tetapi juga mempercepat fragmentasi plastik menjadi partikel mikro dan nano yang lebih mudah masuk ke tubuh manusia.
Keempat, penting untuk mendorong pengurangan plastik dari sumbernya, melalui pembatasan plastik sekali pakai, dorongan terhadap alternatif ramah lingkungan, serta tanggung jawab produsen (extended producer responsibility).
Kelima, edukasi dan perubahan perilaku masyarakat juga menjadi kunci. Mendorong gaya hidup minim sampah (zero waste) bukan hanya pilihan individu, tetapi harus didukung oleh sistem dan kebijakan yang memudahkan masyarakat untuk melakukannya.***