Lewati ke konten

Sperma Plastik: Sri Astika akan Bongkar Horor Mikroplastik di Balai Budaya Jakarta

| 3 menit baca |Ide | 43 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Pemutaran film dan diskusi publik mengungkap temuan mikroplastik dalam sperma dan air ketuban, memicu kekhawatiran serius tentang dampaknya terhadap kesehatan reproduksi manusia global.

Dok Ecoton

Isu mikroplastik mengemuka melalui agenda nonton bareng (nobar) film dan diskusi bertemakan “Uji Mikroplastik dalam Sperma dan Air Ketuban”. Kegiatan ini dijadwalkan akan berlangsung di Balai Budaya Jakarta, Menteng, pada 8 April 2026 pukul 14.00 WIB, serta pemutaran film untuk umum pada 4–9 April, pukul 18.30 WIB.

Forum menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain penulis #ResetIndonesia Farid Gaban, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton Rafika Aprilianti, serta peneliti mahasiswa biologi Universitas Negeri Surabaya, Sri Astika.

Mereka akan membahas temuan ilmiah terbaru yang menunjukkan keberadaan partikel mikroplastik dalam cairan tubuh manusia.

Penelitian yang akan dipaparkan Astika berjudul “Keberadaan Mikroplastik dalam Cairan Sperma dan Pengaruhnya bagi Kesehatan Reproduksi Manusia.”

Temuan Astika menambah daftar panjang bukti kalau mikroplastik tidak lagi terbatas pada pencemaran lingkungan, melainkan telah memasuki sistem biologis manusia.

Partikel mikroplastik diduga berasal dari berbagai sumber sehari-hari, seperti plastik sekali pakai, udara tercemar, hingga air minum. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini masuk ke dalam tubuh tanpa disadari.

Dok Ecoton

#Risiko Reproduksi Kian Menguat

Rafika Aprilianti menilai temuan ini sebagai sinyal peringatan serius. “Kami melihat indikasi kuat jika mikroplastik tidak hanya masuk ke tubuh, tetapi juga berpotensi memengaruhi sistem reproduksi manusia. Maka perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat yang lebih luas, melalui pemutan film,” ujar Rafika, Kamis, (2/4/2026).

Menurut Rafika, bentuk partikel yang tidak beraturan serta ukurannya yang mikroskopis memungkinkan mikroplastik menembus jaringan biologis. Dampak yang kini tengah dikaji meliputi peradangan, stres oksidatif, hingga gangguan hormonal.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sri Astika menambahkan, jika keberadaan mikroplastik dalam sperma membuka kemungkinan gangguan terhadap kualitas sel reproduksi.

“Ada indikasi potensi penurunan motilitas atau kemampuan gerak sperma. Itu kami ketahui selama melakukan penetilian. Selain itu, kami juga mengkaji kemungkinan dampaknya terhadap bentuk dan jumlah sperma,” kata dia.

Meski demikian, ia menegaskan, penelitian ini masih berada pada tahap awal. “Belum bisa disimpulkan sebagai hubungan sebab-akibat. Tapi pola temuan yang konsisten menjadi dasar penting untuk riset lanjutan,” ujarnya.

Penyelenggara menegaskan, nobar ini tidak berhenti pada pemutaran film, melainkan menjadi ruang dialog yang mempertemukan peneliti, akademisi, dan masyarakat. Upaya ini dimaksudkan untuk memperluas sosialisasi, seiring persoalan plastik yang telah berkembang menjadi ancaman global bagi lingkungan.

Dok Ecoton

Selain menyajikan temuan ilmiah, forum tersebut juga mengulas langkah mitigasi. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pembenahan sistem pengelolaan limbah, hingga dorongan terhadap riset lanjutan menjadi sejumlah rekomendasi yang mengemuka dalam diskusi.

Seiring bertambahnya bukti ilmiah, isu mikroplastik diperkirakan akan semakin menonjol dalam agenda kesehatan lingkungan. Kegiatan ini diharapkan mampu menjembatani jarak antara temuan ilmiah dan pemahaman publik, sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup yang lebih ramah lingkungan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *