Empat siswa SD belajar membaca laut di Gili Noko, mengenali plankton hingga makroalga, sambil menyerap kesadaran menjaga ekosistem pesisir tropis sejak usia dini.
Gili Noko datang tanpa banyak suara hari itu. Angin bergerak pelan, ombak kecil menyapu pasir putih seperti bisikan yang berulang. Air bening memantulkan langit, membuat batas antara atas dan bawah nyaris hilang.
Di tepian itu, empat siswa berdiri dengan botol sampel di tangan. Mereka tidak sedang bermain seperti hari-hari sebelumnya. Tatapan tertuju pada air, pada sesuatu yang tak terlihat, pada kehidupan yang selama ini selalu muncul tanpa disadari.
Mereka mengenal laut sebagai ruang bermain, untuk berenang, mencari kerang, berlari di tepian pantai. Tapi pada hari itu, tanggal 5 dan 6 April 2026, maknanya berubah. Air menjadi bacaan, arus menjadi penjelasan, dan setiap makhluk hidup menjelma bahan pelajaran.
SDIT Al Huda Bawean dan mahasiswa dari UIN Sunan Ampel Surabaya hari itu menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Buku pelajaran tidak ditinggalkan, tetapi diperluas. Laut menjadi halaman tambahan yang tak pernah selesai dibaca.
Guru pendamping, Inayatul Fitriah, mengikuti setiap langkah siswa di tepi air. Sesekali memberi arahan, lebih sering membiarkan mereka bertanya. “Anak-anak cepat memahami ketika melihat langsung. Laut yang setiap hari mereka lihat ternyata menyimpan banyak pengetahuan,” katanya, Selasa, 6 April 2026.
Empat nama disebut satu per satu: Syarif Hidayatulloh, Nur Jihan Fauziyah, Nur Kamiliyah Izzarah, dan Ahmad Galih Alfarizqi. Mereka datang dengan rasa ingin tahu, pulang dengan lebih banyak pertanyaan.
Di antara mereka, enam mahasiswa Ilmu Kelautan mendampingi. Tidak ada jarak yang kaku. Penjelasan mengalir seperti percakapan. Metode ilmiah dikenalkan tanpa istilah rumit dari mengambil sampel, mengamati, mencatat, lalu mencoba memahami.
Rifky Ananda Rahman, guru pendamping lain, berdiri sedikit menjauh, memperhatikan ekspresi para siswa sambil berkata: “Hal-hal kecil yang dulu tidak diperhatikan sekarang menjadi penting, ”.
Di pulau seperti Pulau Bawean, laut bukan sesuatu yang jauh. Laut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Justru karena kedekatan itu, banyak hal dianggap biasa. Kegiatan ini membuka kembali rasa ingin tahu yang sempat tertutup kebiasaan.
Program sekolah ekologis yang dijalankan SDIT Al Huda Bawean menemukan bentuk konkret di sini. Bebas plastik bukan hanya aturan, melainkan cara berpikir. Laut yang bersih bukan kebetulan, melainkan hasil dari kesadaran.
Semangat “From The Island To The World” terasa tidak muluk. Karena didasari inspirasi yang panjang. Tentu melihat hal itu, dari pulau kecil ini, pelajaran besar dimulai. Sains hadir dalam bentuk sederhana, tanpa jarak, tanpa kerumitan.

#Kehidupan Kecil yang Menopang Laut
Di dalam botol sampel yang tampak biasa, tersimpan kehidupan yang tak terlihat. Plankton. Kata itu sering terdengar di ruang kelas. Tentu saja kini hadir dalam bentuk nyata, meski penglihatan tak mampu menatap.
Davin Jauhar Bernarddien, mahasiswa Ilmu Kelautan, memulai penjelasan dari hal paling dasar. Dua jenis plankton diperkenalkan, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Tidak ada papan tulis, tidak ada gambar besar. Hanya air laut dan dipandu imajinasi yang kuat.
“Fitoplankton menghasilkan oksigen. Zooplankton memakan fitoplankton dan menjadi bagian dari rantai makanan,” kata Davin memulai menjelaskan.
Kalimat itu sederhana, mudah dingat, tetapi dampaknya luas. Siswa mulai memahami bahwa kehidupan laut tidak berdiri sendiri. Ada hubungan yang saling terikat, dari yang paling kecil hingga yang terlihat jelas.
Syarif Hidayatulloh mengangguk pelan, mencoba mencerna. “Ternyata yang kecil itu penting sekali. Kalau tidak ada plankton, ikan juga bisa tidak ada,” ucapnya sambil memandangi teman-temannya.
Hari itu pengamatan tidak berhenti pada plankton. Tim juga mengukur kualitas air, mulai dari Dissolved Oxygen (DO), pH, dan suhu. Angka-angka itu muncul dari alat ukur, lalu diterjemahkan menjadi cerita tentang kondisi laut.
DO tercatat 8,76 mg/L. pH berada di angka 9. Suhu mencapai 31 derajat Celsius.
Davin menjelaskan dengan perlahan. “Oksigen terlarut tinggi berarti kehidupan bisa berkembang dengan baik. Nilai di atas 6 sudah mendukung banyak organisme laut,” katanya.
Air di Gili Noko menunjukkan kondisi yang sehat. Jernih, hangat, dan kaya oksigen. Tidak banyak gangguan dari aktivitas manusia.
Perbandingan dengan Surabaya muncul dalam penjelasan. Di kawasan pesisir perkotaan, tekanan lingkungan lebih terasa. Suhu cenderung tinggi sejak pagi, kualitas air dipengaruhi limbah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Lingkungan berbeda akan menghasilkan kondisi berbeda,” ucap Davin.
Siswa mulai melihat laut sebagai sesuatu yang bisa berubah. Tidak selalu sama. Tidak selalu aman. Data yang mereka catat menjadi alat untuk membaca perubahan itu.
Dari titik ini, sains menjadi terasa dekat. Tidak lagi sekadar teori, melainkan cara memahami dunia di sekitar. Setiap angka memiliki arti, setiap perubahan memiliki alasan.

#Lato’ dan Harapan dari Dasar Laut
Perhatian kemudian bergeser ke sesuatu yang terlihat jelas, yaitu makroalga. Di antara terumbu karang, hamparan hijau lato’ tumbuh dengan tenang. Bentuknya menyerupai butiran kecil, seperti anggur yang menempel di dasar laut.
Dewi Fitriana, salah satu mahasiswa yang juga warga Pulau Bawean, memimpin pengamatan ini. Dengan perlahan ia lakukan, sampel diambil dari kedalaman satu hingga dua meter. Para siswa memperhatikan dari tepian, mengikuti setiap gerakan.
“Caulerpa sp. atau lato’ memiliki peran penting. Menjadi makanan bagi biota laut dan juga bisa dikonsumsi manusia,” ujar sambil menatap para siswa yang berada ditepian.
Lato’ dikenal sebagai green caviar. Teksturnya unik, kandungan gizinya tinggi. Di beberapa tempat, sudah menjadi bagian dari pangan alternatif.
Kehadiran lato’ dalam jumlah banyak menunjukkan kondisi lingkungan yang baik. Air bersih, cahaya cukup, dan substrat yang mendukung menjadi syarat utama.
Dewi menggambarkan kondisi di Gili Noko dengan tenang. “Air sangat jernih. Terumbu karang masih berwarna. Ikan-ikan kecil terlihat di sekitar,” katanya.
Tidak terlihat tanda pemutihan karang. Tidak ada indikasi kerusakan yang berarti. Ekosistem berjalan dalam keseimbangan.
Pemandangan ini memberi kesan kuat. Laut yang sehat bukan hanya indah, tetapi juga produktif. Kehidupan berkembang dalam berbagai bentuk.
Rifky pun melihat perubahan cara pandang para siswanya. “Ketika melihat langsung, muncul rasa memiliki. Ada keinginan untuk menjaga,” ujarnya.
Pengalaman selama dua hari itu tidak berhenti pada siswa. Para guru pun mendapatkan cara baru dalam mengajar. Pendekatan berbasis pengalaman membuka kemungkinan yang lebih luas.
“Metode seperti ini bisa diterapkan di kelas. Siswa menjadi lebih aktif dan terlibat,” ucap Rifky.
Harapan tumbuh dari kegiatan sederhana ini. Pendidikan lingkungan tidak harus rumit. Yang dibutuhkan adalah kedekatan dengan sumber belajar itu sendiri.
Di tengah berbagai cerita tentang kerusakan laut, Gili Noko menawarkan narasi lain. Laut yang masih terjaga, anak-anak yang belajar dari alam, dan proses memahami yang berlangsung perlahan.
Syarif menatap laut sebelum kembali. Ada jeda sebelum berbicara. “Belajar di sini menyenangkan. Banyak yang harus dijaga,” katanya.
Kalimat itu singkat, tetapi cukup. Dari rasa ingin tahu, lahir pemahaman. Dari pemahaman, tumbuh kesadaran.
Melihat Gili Noko, laut tidak hanya memberi kehidupan. Laut juga mengajarkan cara menjaga kehidupan itu sendiri.***

Penulis, Thara Bening Sandrina, Staf Divisi Fundraising dan Investasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Artikel ditulis saat mendampingi mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya dalam penelitian di Pulau Bawean.