Lewati ke konten

Ironi Hari Bumi: Menanam Pohon, Mewariskan Mikroplastik

| 5 menit baca |Opini | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Nurlita Qoiriananda Editor: Supriyadi

Polibag yang tertanam bersama bibit menjadi jalur sunyi masuknya mikroplastik ke dalam tanah, mengancam kesuburan, ekosistem, dan keberlanjutan lingkungan tanpa banyak disadari publik luas.

Perayaan Hari Bumi setiap 22 April selalu menghadirkan optimisme publik. Penanaman pohon, kampanye peduli lingkungan, hingga aksi bersih-bersih menjadi rutinitas yang mengisi ruang-ruang sosial. Aktivitas tersebut telah menjelma menjadi simbol kepedulian yang mudah dikenali dan terus diulang setiap tahun.

Di tengah semangat itu, terdapat praktik yang jarang dipersoalkan. Bibit tanaman sering ditanam bersama polibag plastik tanpa dilepas. Cara ini dianggap praktis, efisien, dan mempercepat proses kegiatan penghijauan. Dokumentasi diambil, kegiatan selesai, kesan kepedulian pun terbentuk.

Pilihan tersebut menyimpan konsekuensi ekologis. Plastik yang tertanam tidak terurai secara alami. Material ini dapat bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Dalam prosesnya, plastik mengalami fragmentasi menjadi mikroplastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang sulit dideteksi oleh penglihatan.

Tanah yang menjadi fondasi kehidupan berubah menjadi ruang akumulasi polutan. Padahal, tanah berperan dalam menyimpan air, menjaga siklus nutrisi, serta menjadi habitat bagi lebih dari 25 persen keanekaragaman hayati dunia.

Data global menunjukkan penggunaan plastik sektor kemasan mencapai sekitar 146 juta ton per tahun. Lebih dari 50 persen produksi plastik dunia telah menjadi limbah. Di Indonesia, sekitar 3,2 juta ton sampah plastik mengalir ke laut setiap tahun.

Angka itu, tentu saja menunjukkan tekanan besar terhadap lingkungan, termasuk ekosistem daratan.

Perayaan lingkungan menghadirkan refleksi penting. Di balik simbol kepedulian yang tampak di permukaan, terdapat krisis yang berkembang perlahan di dalam tanah.

#Polibag: Jalur Masuk Mikroplastik ke Dalam Tanah

Produksi plastik global terus meningkat seiring pertumbuhan industri dan konsumsi. Material ini dipilih karena ringan, murah, dan praktis. Dari ratusan juta ton yang diproduksi setiap tahun, lebih dari separuh berakhir sebagai limbah. Tingkat daur ulang global masih berada di bawah 20 persen, menunjukkan lemahnya pengelolaan.

Sebagian besar plastik digunakan dalam kemasan sekali pakai dengan masa pakai yang sangat singkat. Setelah dibuang, plastik tidak hilang, melainkan berpindah dan terakumulasi di berbagai lingkungan. Tanah menjadi salah satu media yang sering luput dari perhatian.

Dalam konteks penghijauan, penggunaan polibag menjadi jalur masuk plastik ke dalam tanah. Ketika tertanam, plastik mengalami degradasi fisik akibat tekanan tanah, suhu, dan aktivitas mikroorganisme. Proses ini menghasilkan mikroplastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang bercampur dengan partikel tanah.

Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat mengganggu fungsi ekosistem tanah. Cacing tanah, semut, dan rayap memiliki peran penting dalam proses dekomposisi bahan organik dan pembentukan struktur tanah. Paparan mikroplastik dapat mengganggu sistem biologis organisme tersebut, termasuk aktivitas makan dan pergerakan.

Dampaknya meluas pada kualitas tanah. Struktur tanah menjadi lebih padat, kemampuan menyimpan air menurun, serta siklus nutrisi terganggu. Kondisi ini memengaruhi produktivitas tanaman dan kestabilan ekosistem.

Pencemaran tanah berlangsung tanpa gejala visual yang mencolok. Tidak ada perubahan warna atau bau yang mudah dikenali. Kondisi ini membuat krisis mikroplastik di tanah sering terabaikan dalam kebijakan dan kesadaran publik, padahal dampaknya bersifat jangka panjang dan sistemik.

#Regulasi dan Perubahan Praktik: Jalan Keluar yang Mendesak

Mengatasi persoalan mikroplastik di tanah membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, mencakup perubahan perilaku, inovasi teknologi, serta penguatan regulasi.

Selama ini, kegiatan lingkungan lebih menekankan pada simbol, sementara detail praktik di lapangan kurang diperhatikan.

Langkah paling sederhana dapat dimulai dari kebiasaan melepas polibag sebelum penanaman. Tindakan ini mampu mencegah masuknya plastik ke dalam tanah sejak awal. Dalam skala besar, praktik ini dapat mengurangi akumulasi mikroplastik secara signifikan.

Penggunaan alternatif wadah ramah lingkungan menjadi solusi berikutnya. Pot biodegradable berbahan serat alami atau kompos dapat menggantikan plastik dalam kegiatan pembibitan. Inovasi ini perlu didukung oleh kebijakan agar tersedia secara luas dan terjangkau.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di tingkat regulasi, Indonesia telah memiliki kerangka kebijakan seperti Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang menargetkan pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan 70 persen pada 2025. Selain itu, berbagai daerah mulai menerapkan pembatasan plastik sekali pakai melalui peraturan daerah.

Meski demikian, implementasi masih menghadapi tantangan. Pengawasan di lapangan, ketersediaan alternatif, serta perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan. Regulasi perlu diperkuat dengan mekanisme kontrol dan insentif bagi penggunaan material ramah lingkungan.

Edukasi publik memiliki peran strategis. Kampanye lingkungan perlu mengedepankan pemahaman mengenai dampak mikroplastik terhadap tanah. Informasi berbasis data ilmiah dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Institusi pendidikan juga dapat berperan melalui integrasi materi mikroplastik dalam kurikulum. Pendekatan ini membangun kesadaran sejak dini bahwa tanah merupakan ekosistem hidup dengan fungsi kompleks.

Pengelolaan sampah perlu dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pengurangan produksi plastik menjadi langkah paling efektif dibandingkan penanganan di akhir. Data menunjukkan bahwa lebih dari 40 persen plastik digunakan untuk kemasan sekali pakai, sehingga pengurangan di sektor ini menjadi prioritas.

Momentum Hari Bumi dapat diarahkan sebagai ruang evaluasi kebijakan dan praktik. Perayaan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi titik awal perubahan yang lebih substansial.

Tanah menyimpan lebih dari seperempat keanekaragaman hayati dunia dan berperan dalam produksi pangan global. Ketika mikroplastik terus terakumulasi, dampaknya akan merambat ke sistem pangan, kualitas air tanah, hingga kesehatan manusia.

Perubahan besar memerlukan konsistensi dalam tindakan kecil. Menjaga tanah dari pencemaran plastik menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia dalam jangka panjang.***

 

Daftar Referensi:

  1. de Souza Machado, A. A., Kloas, W., Zarfl, C., Hempel, S., & Rillig, M. C. (2018). Microplastics as an emerging threat to terrestrial ecosystems. Global Change Biology, 24(4), 1405–1416.
  2. (2026). Policy brief: Menuju Jawa Timur bebas plastik sekali pakai. Ecological Observation and Wetlands Conservation.
  3. Lozano, Y. M., Aguilar-Trigueros, C. A., Onandia, G., Maaß, S., Zhao, T., & Rillig, M. C. (2021). Effects of microplastics and drought on soil ecosystem functions and multifunctionality. Journal of Applied Ecology, 58(5), 988–996.

 

Penulis: Nurlita Qoiriananda, mahasiswa Biologi, Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *