AIPI dan pakar global menyerukan regulasi ketat pangan ultra proses guna melindungi masa depan anak Indonesia dari ancaman obesitas serta berbagai risiko penyakit tidak menular.
Di balik gemerlap kemasan warna-warni dan kepraktisan yang ditawarkan, tersimpan ancaman senyap yang kini tengah mengepung generasi muda Indonesia. Produk pangan ultra proses (Ultra-Processed Foods/UPF) bukan lagi sebagai pilihan konsumsi, tapi sebuah krisis kesehatan masyarakat yang sistemik.
Guna membongkar bahaya laten ini, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) melalui Komisi Ilmu Kedokteran (KIK) menggelar webinar internasional pada 23 April 2026. Pertemuan krusial ini, yang menggandeng EAT Foundation, FKUI, FK-KMK UGM, GAIN, dan FOLU Indonesia, menjadi ajang bagi para ilmuwan dunia dan pembuat kebijakan untuk menyatukan langkah melawan dominasi pangan industri.
Ketua AIPI, Daniel Murdiyarso, membuka tabir persoalan dengan menyoroti pergeseran drastis dalam ekosistem pangan kita. “Lingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas, termasuk kepada anak-anak. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat,” tegas Daniel dalam rilis yang dikirim, Kamis, 23 April 2026.
Kehadiran tokoh-tokoh kunci seperti Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Deputi Bappenas Pungkas Bahjuri Ali memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah kini mulai serius menguliti kebijakan sistem pangan berbasis bukti ilmiah guna membendung dampak buruk UPF.
#Bahaya Tersembunyi di Balik Kemasan
Para pakar internasional yang hadir, termasuk Neha Khandpur dari Wageningen University dan Juan Rivera Dommarco dari National Institute of Public Health Meksiko, menyodorkan data empiris yang mengkhawatirkan. Konsumsi UPF yang berlebihan terbukti secara ilmiah menjadi pemicu utama beban malnutrisi ganda. Dampaknya tidak main-main: lonjakan angka obesitas anak, defisiensi mikronutrien kronis, hingga munculnya penyakit tidak menular (PTM) di usia yang kian dini.
Perspektif tajam disampaikan oleh Rina Agustina, anggota KIK AIPI dan Komisaris EAT-Lancet. Beliau menegaskan sebuah paradigma baru: kualitas diet seorang anak kini tidak lagi bisa hanya diukur dari sekadar kandungan kalori atau zat gizinya, melainkan dari sejauh mana makanan tersebut telah diproses di pabrik.
Rina menggarisbawahi realitas pahit bahwa edukasi dan pengetahuan orang tua saja tidak akan cukup selama lingkungan di sekitar anak-anak masih “menjebak” mereka dengan akses UPF yang jauh lebih mudah ketimbang pangan sehat. Produk UPF umumnya memiliki karakteristik yang merusak:
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel- Kandungan gula, garam, dan lemak jahat (GGL) yang melampaui batas aman.
- Rendahnya nutrisi esensial dan serat akibat proses pemurnian berlebih.
- Penggunaan aditif industri yang memicu ketergantungan rasa.
#Celah Regulasi dan Jeratan Iklan
Diskusi panel yang dimoderatori oleh Yodi Mahendradata, Dekan FKKMK UGM mengupas tuntas urgensi implementasi PP No. 28/2024. Panelis lintas sektor yang terdiri dari Dian Lenggogeni (Bappenas), Siti Nadia Tarmizi (Kemenkes), Dina Kania (WHO Indonesia), David Colozza (UNICEF Indonesia), Ibnu Budiman (GAIN), dan Supra Wimbarti (AIPI) sepakat bahwa tanpa intervensi radikal, anak-anak Indonesia akan terus terperangkap dalam jeratan pemasaran agresif.
Ada tiga pilar intervensi yang mendesak untuk segera diperkuat. Pertama, penerapan front-of-pack labelling atau pelabelan gizi di depan kemasan secara visual yang mudah dipahami, sehingga orang tua tidak lagi tertipu oleh klaim kesehatan palsu. Kedua, perlindungan ketat dari pemasaran pangan tidak sehat di ruang digital dan lingkungan sekolah yang kian masif mengincar psikologi anak. Ketiga, penguatan kebijakan fiskal melalui cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) dan pemberian insentif agar harga pangan segar lokal lebih kompetitif dibandingkan produk pabrikan.
#Menuju Transformasi Sistem Pangan Nasional
Visi besar transformasi ini adalah mengembalikan kedaulatan meja makan melalui kampanye “Isi Piringku” dan promosi “Real Food“. Tujuannya jelas: mendorong konsumsi makanan asli berbasis bahan lokal yang segar dan minim proses, selaras dengan kerangka global Planetary Health Diet. Langkah ini bukan sekadar urusan gizi, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara kesehatan manusia dan kelestarian ekosistem.
Sebagai tindak lanjut, webinar ini akan menghasilkan sebuah policy brief strategis yang merumuskan rencana aksi jangka pendek hingga panjang. Upaya kolaboratif antara pemerintah, WHO, dan UNICEF diharapkan mampu memperbaiki ekosistem pangan anak yang saat ini sedang carut-marut.
Ketua KIK AIPI, Herawati Sudoyo, memberikan pernyataan penutup yang menjadi pengingat bagi semua pihak. “Jika kita mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat—di mana makanan bergizi mudah diakses dan terjangkau—anak-anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya.
Baginya, menciptakan lingkungan pangan sehat bukan lagi pilihan, melainkan mandat mutlak untuk melindungi hak hidup generasi mendatang.