Lewati ke konten

Riset Sungai hingga Advokasi Kebijakan, Pelajar SMA Driyorejo dan SMP Wonosalam Raih Penghargaan JAYCA & DOE 2026

| 4 menit baca |Ide | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Ratusan pelajar Jawa Timur diganjar penghargaan JAYCA dan DOE 2026 setelah menjalankan riset sungai, biomonitoring, serta advokasi kebijakan berbasis data di wilayah masing-masing.

Pendopo Kabupaten Bondowoso menjadi titik temu ratusan pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur dalam penganugerahan Jawa Timur Young Changemaker Academy (JAYCA) dan The Duke of Edinburgh’s International Award (DOE) 2026. Kegiatan yang menandai capaian peserta setelah menjalani program pengembangan diri berbasis aksi sosial selama enam bulan ini, mendapat sambutan dari berbagai pihak.

Sebanyak lebih dari 150 pelajar tercatat mengikuti program tersebut. Dari jumlah itu, 66 peserta dinyatakan lulus kualifikasi dan menerima penghargaan. Kabupaten Bondowoso sebagai tuan rumah menyumbangkan 25 peserta yang menuntaskan seluruh tahapan.

Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Ir. Nani Zulminarni, menyampaikan apresiasi terhadap capaian pelajar. “Ketika piagam diterima, di situlah perjalanan dimulai. Changemaking menjadi jalan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” ujar Nani disela acara, Sabtu, (25/4/2026).

Nani juga menilai proses yang dijalani peserta menunjukkan kapasitas anak muda dalam membaca persoalan lingkungan secara kritis. Dan tentu saja, sekaligus menawarkan solusi berbasis data. Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam riset dan advokasi menjadi sinyal perubahan yang bergerak dari bawah.

“Anak-anak ini sudah melampaui apa yang diajarkan di kelas. Mereka turun ke lapangan, membaca realitas, lalu menyusunnya menjadi pengetahuan dan dorongan kebijakan. Itu fondasi penting bagi lahirnya pemimpin masa depan,” terang Nani.

Acara yang diawali dengan pemutaran video dokumentasi, memperlihatkan kondisi sungai di berbagai wilayah, mulai dari tumpukan sampah plastik hingga aksi restorasi yang dilakukan pelajar.

Program DOE merupakan skema internasional yang menilai pencapaian anak muda dalam aspek kepemimpinan, ketahanan diri, dan aksi sosial melalui tahapan berjenjang. Di Jawa Timur, pendekatan ini difokuskan pada persoalan lingkungan, terutama ekosistem sungai.


Siswa SMP Negeri 1 Wonosalam menerima penghargaan dalam program JAYCA dan The Duke of Edinburgh’s International Award 2026. | Foto: Ecoton

#Riset Lapangan dan Temuan Ilmiah

Sejumlah sekolah yang terlibat aktif dalam program ini, di antaranya SMAN 1 Driyorejo, Gresik dan SMP Negeri 1 Wonosalam, Jombang. Kedua sekolah yang selama ini mendapat pendampingan dari Ecoton ini, menetapkan isu kelestarian sungai sebagai fokus utama kegiatan.

Para siswa dibekali pendidikan riset dan melakukan pengamatan lapangan menggunakan metode biomonitoring untuk mengukur kualitas air. Metode ini mengandalkan identifikasi makroinvertebrata sebagai indikator biologis. Keberadaan spesies yang sensitif terhadap pencemaran digunakan untuk menentukan tingkat kesehatan sungai secara ilmiah.

Hasil pengamatan dibukukan oleh siswa SMPN 1 Wonosalam yang tergabung dalam komunitas Polisi Air. Buku berjudul “Patroli di Bawah Arus: Jejak Makroinvertebrata Temuan Polisi Air” memuat pemetaan kondisi sungai dari wilayah hulu hingga hilir secara sistematis.

Sementara itu, Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i (Ra As’ad), dalam tanggapannya mengatakan, program ini mendorong pembentukan karakter generasi muda.

“Program ini memberi ruang bagi anak muda untuk tumbuh menjadi pemimpin yang solutif di daerah masing-masing,” ujar Irwan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Siswa SMAN 1 Driyorejo menyusun policy brief sebagai tindak lanjut riset. Dokumen berbasis kuesioner warga, data timbulan sampah, serta integrasi kurikulum lingkungan di sekolah itu diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai dorongan perubahan kebijakan pengelolaan limbah di Kabupaten Gresik.

Selama ini, SMP Negeri 1 Wonosalam dan SMAN 1 Driyorejo berada dalam pendampingan teknis Ecoton. Organisasi tersebut membekali peserta dengan isu mikroplastik di perairan Jawa Timur, termasuk dampaknya terhadap rantai makanan.

Melihat karya-karya para siswa, Direktur Kerja Sama DOE Indonesia, Drs., Sonny Sukada, M.Sc., mengaku merasa bangga. Tapi dia menekankan pentingnya konsistensi dalam melakukan aksi. “Kalian tidak menunggu masa depan, kalian sedang menciptakannya,” kata Sonny.

Salah satu peserta, Rizki Putri Dwi Artanti, 14 tahun dari SMPN 1 Wonosalam, menyampaikan perubahan yang dirasakan setelah mengikuti program. “Saya dulu kurang peduli terhadap lingkungan. Sekarang saya aktif menyuarakan kondisi sungai di wilayah hulu,” ujar Rizki.

Kegiatan ditutup dengan penampilan dari Teater Nusa yang mengangkat tema refleksi sosial. Pementasan tersebut mengajak peserta melihat kembali peran individu dalam menjaga lingkungan.

Penganugerahan JAYCA dan DOE 2026 menunjukkan keterlibatan pelajar dalam riset ilmiah dan advokasi kebijakan terus menguat. Dari pengamatan sungai hingga penyusunan dokumen kebijakan, langkah yang ditempuh peserta memperlihatkan upaya konkret dalam merespons persoalan ekologi di Jawa Timur.***

RALAT SIARAN PERS

Redaksi menerima koreksi atas rilis sebelumnya terkait penyebutan Wakil Bupati Bondowoso.

Pada naskah sebelumnya tertulis:
Wakil Bupati Bondowoso, Irwan Bachtiar Rahmat, S.T., M.M.

Seharusnya:
Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i (Ra As’ad)

Kami memohon maaf atas kekeliruan tersebut.
Demikian ralat ini disampaikan untuk perbaikan informasi.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *