Lewati ke konten

Angkot Jadi Kelas Hidup Siswa Ketintang Surabaya

| 5 menit baca |Rekreatif | 65 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Marga Bagus

Siswa SMK Ketintang menembus batas kelas formal dengan menjadikan angkot sebagai medium membaca kota, merawat ingatan sejarah, serta melatih empati sosial.

Halaman SMK Ketintang Surabaya tak menampilkan rutinitas sekolah pada umumnya pada Sabtu pagi, 25 April 2026. Puluhan siswa berdiri di tepi jalan, bukan menunggu bel masuk, melainkan menanti angkutan kota yang kian terdesak oleh dominasi aplikasi transportasi daring. Di tengah arus modernitas yang menuntut kecepatan, pilihan itu terasa seperti langkah mundur—atau justru manuver strategis yang jarang dipikirkan sekolah lain.

Program bertemakan “Literasi Angkot” lahir dari kegelisahan terhadap praktik belajar yang kian steril dari realitas sosial. Di ruang kelas konvensional, pengetahuan sering diproduksi secara satu arah, terputus dari denyut kehidupan kota. SMK Ketintang mencoba memutus rantai itu. Jalanan Surabaya diubah menjadi ruang belajar terbuka, dengan angkot sebagai wahana utama.

Di dalam angkot, batas sosial mencair. Siswa duduk berdempetan dengan penumpang lain: pedagang, buruh, lansia. Percakapan terjadi tanpa skrip. Seorang siswa terlihat membantu penumpang lanjut usia mengangkat barang, sementara yang lain menyimak cerita sopir tentang sepinya penumpang sejak layanan daring menjamur.

Fahrudin Imam Nurkolis, pembina literasi sekolah, menyebut angkot sebagai ruang yang menghadirkan kejujuran sosial. “Di sini interaksi tidak dimediasi algoritma. Siswa belajar membaca ekspresi, mendengar keluhan, dan merasakan langsung ritme kota,” ujarnya.

Pilihan menggunakan angkot mengandung kritik implisit terhadap pendidikan yang terlalu bergantung pada layar. Gawai memang memperluas akses informasi, tetapi juga menciptakan jarak emosional. Program ini justru memaksa siswa bersentuhan langsung dengan realitas yang sering luput dari perhatian generasi digital.

Pengalaman sensorik—bau bensin, suara mesin, panas udara kota—menjadi bagian dari proses belajar. Hal-hal yang selama ini dianggap remeh berubah menjadi bahan refleksi. Kota tidak lagi dipandang sebagai latar pasif, melainkan teks hidup yang menuntut pembacaan kritis.

Di dalam angkot yang mulai tersisih oleh zaman, siswa SMK Ketintang justru menemukan ruang belajar paling jujur: tanpa sekat, tanpa algoritma. Kota berbicara lewat percakapan sederhana, dan mereka memilih mendengar. | Foto: Ulung

#Membaca Sejarah di Ruang Ingatan Kolektif

Perjalanan berakhir di kawasan Museum 10 November, yang berdiri di kompleks Tugu Pahlawan. Di titik ini, agenda bergeser dari literasi sosial menuju literasi sejarah. Kontras terasa jelas: dari hiruk-pikuk jalanan menuju ruang sunyi penuh artefak perjuangan.

Di dalam museum, siswa tidak sekadar berjalan melihat koleksi. Mereka diminta membaca ulang narasi sejarah dengan pendekatan kritis. Seragam pejuang yang lusuh, senjata sederhana, serta dokumentasi perang menjadi pintu masuk untuk memahami konteks sosial-politik masa lalu.

Program ini menggandeng komunitas literasi lokal, Main Baca. Komunitas tersebut berperan menghidupkan cerita di balik artefak. Pendekatan yang digunakan bukan ceramah satu arah, melainkan dialog terbuka yang memancing rasa ingin tahu.

Seorang fasilitator dari komunitas itu mengajukan pertanyaan kepada siswa: “Bagaimana arek-arek Suroboyo menggerakkan massa tanpa media sosial?” Pertanyaan tersebut memicu diskusi panjang. Siswa mencoba membandingkan strategi komunikasi masa lalu dengan praktik digital saat ini.

Fahrudin mengatakan pendekatan ini penting untuk membangun kesadaran historis. “Sejarah tidak boleh berhenti sebagai hafalan tanggal. Siswa harus memahami relevansinya terhadap kehidupan hari ini,” katanya.

Diskusi berkembang ke isu identitas kota. Surabaya dikenal sebagai kota perjuangan, tetapi makna itu kerap tereduksi menjadi slogan. Melalui program ini, siswa diajak menafsirkan ulang identitas tersebut secara lebih kontekstual.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Beberapa siswa mencatat kesamaan antara semangat kolektif masa lalu dengan tantangan sosial hari ini, seperti ketimpangan ekonomi dan degradasi lingkungan. Sejarah, dalam konteks ini, berfungsi sebagai cermin sekaligus peringatan.

Di ruang tenang Museum 10 November, sejarah tidak lagi diam. Siswa duduk rapat, menatap masa lalu yang perlahan dibongkar—bukan untuk dikenang, tapi untuk dipertanyakan ulang. | Foto: Ulung

#Dari Pengalaman ke Narasi Akademik

Kegiatan tidak berhenti pada observasi lapangan. Sekolah menuntut setiap siswa menyusun laporan dalam bentuk makalah. Tahap ini menjadi ujian sejauh mana pengalaman dapat diolah menjadi pengetahuan yang terstruktur.

Data yang dikumpulkan beragam: hasil wawancara dengan penumpang angkot, catatan observasi lingkungan, serta refleksi atas kunjungan museum. Semua itu harus diramu dalam kerangka analisis yang runtut. Proses ini menuntut disiplin berpikir sekaligus kemampuan menyaring informasi.

Fahrudin menegaskan bahwa literasi tidak berhenti pada pengalaman. “Siswa harus mampu mengubah pengalaman menjadi argumen. Di situ letak kekuatan literasi,” ujarnya.

Setelah penulisan, siswa mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Forum ini menjadi ruang adu gagasan. Setiap siswa mempertahankan argumen sekaligus belajar menerima kritik. Dinamika diskusi memperlihatkan bahwa pengetahuan berkembang melalui pertukaran perspektif.

Beberapa presentasi menunjukkan kedalaman analisis yang tak terduga. Ada siswa yang menyoroti penurunan jumlah angkot sebagai dampak disrupsi digital. Ada pula yang mengaitkan pengalaman di angkot dengan isu ketimpangan akses transportasi publik.

Program ini secara tidak langsung melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta empati sosial. Kombinasi tersebut jarang ditemukan dalam model pembelajaran konvensional yang cenderung menekankan aspek kognitif semata.

Di sisi lain, pendekatan ini juga membuka ruang evaluasi. Tidak semua siswa mudah beradaptasi dengan metode belajar di luar kelas. Sebagian mengalami kesulitan dalam mengolah data menjadi tulisan akademik. Tantangan ini menjadi catatan penting bagi pengembangan program ke depan.

Meski demikian, langkah SMK Ketintang menunjukkan keberanian untuk keluar dari zona aman. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan sebagai upaya membentuk kesadaran.

Kota Surabaya, dengan segala kompleksitasnya, telah dihadirkan sebagai buku terbuka. Angkot menjadi halaman pertama, museum menjadi bab refleksi, dan makalah siswa menjadi penutup yang merangkum perjalanan intelektual tersebut.

Program “Literasi Angkot” menegaskan satu hal: belajar tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk kembali ke ruang-ruang sederhana yang menyimpan makna paling mendasar tentang kehidupan sosial dan sejarah.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *