Lewati ke konten

Ngintir Kali Surabaya, Tim Rasakan Gatal di Aliran Driyorejo dan Temukan 247 Bangunan Liar

| 5 menit baca |Sorotan | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Ekspedisi menyusuri Kali Surabaya menemukan pencemaran plastik, limbah domestik, dan bangunan liar memenuhi bantaran sungai di Gresik.

Tim gabungan komunitas lingkungan menemukan ribuan sampah plastik, ratusan bangunan liar, serta indikasi pencemaran limbah domestik saat melakukan penyusuran Kali Surabaya dari kawasan Wringinanom hingga Desa Cangkir, Driyorejo, Gresik, Jawa Timur.

Temuan itu diperoleh dalam kegiatan “ngintir” sungai yang digelar menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni mendatang.

Kegiatan dimulai dari kawasan penambangan di Desa Wringinanom, pukul 07.15 WIB dan berakhir di Desa Cangkir, Driyorejo, pukul 13.30 WIB. Tim memperkirakan jarak penyusuran mencapai 17 hingga 20 kilometer mengikuti aliran Kali Surabaya.

Sampah plastik melilit pepohonan di bantaran Kali Surabaya saat tim Ngintir melakukan dokumentasi kondisi sungai | Dok. Ngintir

Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya, mengatakan kegiatan itu merupakan kolaborasi sejumlah komunitas pemerhati sungai dan lingkungan hidup. Di antaranya Posko Ijo, Ecoton, AKAMSI, River Warrior, dan TitikTerang.

“Ini kegiatan kolaborasi komunitas yang peduli terhadap lingkungan, khususnya kondisi sungai,” kata Rulli saat meyertai peserta ngintir dari darat, sambil mendokumentasi, Ahad, 31 Mei 2026.

Kegiatan tersebut merupakan lanjutan ekspedisi sebelumnya yang dimulai dari Pintu Air Mlirip, Mojokerto, pada Sabtu, 30 Mei 2026. Setelah sekitar tiga jam menyusuri aliran sungai, tim tiba di kawasan Wringinanom, Gresik.

Sebagaimana dalam catatan mereka saat “ngintir” pada Sabtu itu, Terdapat 180 pohon terlilit sampah plastik. 80 titik timbunan sampah liar ditemukan di bantaran. Ditemukan pula, 120 bangunan berdiri di kawasan sempadan sungai

#Tumpukan Sampah dan Limbah Domestik

Manager Edukasi dan Kampanye Ecoton, Alaika Rahmatullah, mencatat sedikitnya 215 pohon di bantaran sungai terlilit sampah plastik. Selain itu, tim menemukan 127 titik timbulan sampah atau lokasi pembuangan liar di sepanjang jalur penyusuran.

Menurut Alaika, kondisi bantaran sungai menunjukkan tekanan ekologis yang semakin besar akibat aktivitas manusia. Sebagian besar sampah yang ditemukan berupa plastik rumah tangga, styrofoam, kain bekas, hingga kemasan sekali pakai yang tersangkut di vegetasi bantaran.

Tim Ngintir Kali Surabaya bergerak menyusuri sungai dari Wringinanom menuju Driyorejo dalam pemantauan kondisi ekologis sungai. | Dok. Ngintir

“Banyak pohon di tepi sungai berubah seperti tempat sangkutan sampah. Plastik menggantung hampir di setiap tikungan sungai,” ujarnya.

Selain sampah, tim juga mencatat keberadaan 247 bangunan liar yang berdiri di atas bantaran sungai. Beberapa bangunan disebut langsung membuang limbah domestik ke badan air melalui saluran pembuangan terbuka.

Tim juga menemukan indikasi pengurukan baru di sejumlah titik bantaran. Material tanah dan puing terlihat menjorok ke badan sungai, mempersempit aliran air di beberapa lokasi. Juga perusahan besar yang membuang limbahnya

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Alaika menyebut kondisi itu mengindikasikan adanya pencampuran limbah domestik maupun limbah cair lain yang masuk langsung ke Kali Surabaya. “Meski demikian, tim belum melakukan uji lab terhadap kandungan air di lokasi, “ ujar Alaika.

#Melihat Sungai dari Dalam

Di mata peserta, penyusuran sungai memberikan pengalaman berbeda dibanding pengamatan dari darat. Anggota AKAMSI, Jofan Ahmad Arianto, mengatakan pencemaran sungai tidak bisa dipahami hanya dari pengamatan di tepi jalan.

“Kalau melihat dari atas jembatan atau jalan raya, kondisi sungai sering terlihat biasa saja. Tapi ketika masuk langsung ke sungai, baru terlihat sumber-sumber pencemarannya,” kata Jofan.

Tim Ngintir Kali Surabaya mengamati aliran air yang diduga berasal dari pembuangan limbah pabrik di bantaran sungai wilayah Gresik. | Dok. Ngintir

Selama perjalanan, tim melewati bantaran padat permukiman, kawasan industri, area penambangan, hingga titik-titik pembuangan sampah liar. Di sejumlah lokasi, vegetasi alami bantaran mulai tergantikan bangunan semi permanen dan saluran limbah rumah tangga.

Tim, selain Alaika Rahmatullah dan Jofan Ahmad, juga ikut serta kegiatan ngintir ini, pendiri Ecoton Prigi Arisandi, Volunter Lingkungan Heri Purwanto, dan Jurnalis Supriyadi.

Mereka juga mendokumentasi perubahan karakter sungai dari wilayah hulu menuju hilir. Di beberapa bagian arus masih relatif terbuka dengan vegetasi bambu dan pohon waru, namun semakin mendekati kawasan padat penduduk, tim menemukan lebih banyak sampah terapung dan endapan limbah di tepian.

Kegiatan “ngintir” dilakukan dengan cara mengikuti arus sungai menggunakan perlengkapan pelampung sederhana. Metode itu dipilih agar peserta dapat mengamati langsung kondisi badan sungai dari dekat, termasuk titik pencemaran yang sulit terlihat dari akses jalan.

sumber Tim Ngintir Kali Surabaya

Saat memasuki wilayah Driyorejo, perubahan kualitas air mulai terasa. Air sungai mulai berbau tak sedap, terasa lengket, dan menimbulkan gatal saat bersentuhan dengan kulit.

“Nah di sini, bisa kita lihat dan rasakan. Biasanya kalau sudah di wilayah sini, biasanya para nelayan tidak mau memakan ikannya. Mereka pilih untuk dijual, “ ucap Heri.

Komunitas yang terlibat berharap hasil dokumentasi dan catatan, elama ekspedisi dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah dan instansi pengelola sungai. Mereka juga meminta penertiban bangunan liar di bantaran serta pengawasan lebih ketat terhadap pembuangan limbah domestik ke Kali Surabaya.

“Kondisi sungai tidak bisa dipulihkan hanya lewat seremoni. Harus ada penanganan nyata terhadap sumber pencemaran yang terlihat langsung di lapangan,” kata Rulli.***

Catatan Redaksi: Terdapat kekeliruan pada data temuan yang sebelumnya ditulis “1.215 pohon di bantaran sungai terlilit sampah plastik”. Data yang benar berdasarkan catatan, tim Ngintir Kali Surabaya adalah 215 pohon terlilit sampah plastik. Sementara temuan lain, yakni 127 titik timbulan sampah liar dan 247 bangunan liar di bantaran sungai, tetap. Redaksi juga telah menyesuaikan isi berita dan tabel data untuk kenyamanan pembaca. Terima kasih.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *