Masjid Cheng Hoo Surabaya menghadirkan ruang ibadah sekaligus simbol akulturasi budaya, toleransi, dan wajah pluralisme perkotaan modern.
Di Jalan Gading Nomor 2, Surabaya, sebuah bangunan bercat merah menyala berdiri di tengah kepadatan kawasan kota lama. Bentuknya menyerupai pagoda Tionghoa dengan detail ornamen khas negeri tirai bambu, jauh dari stereotip visual masjid pada umumnya.
Bangunan itu adalah Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya. Sejak diresmikan pada 2003, masjid ini berkembang bukan hanya sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga ruang sosial yang merepresentasikan perjumpaan budaya, sejarah, dan toleransi di Kota Pahlawan.

Keberadaan masjid tersebut menarik perhatian banyak pengunjung karena menggabungkan unsur arsitektur Tionghoa dengan identitas Islam secara terbuka. Dominasi warna merah, hijau tua, dan kuning emas tampak berpadu dengan ukiran kaligrafi Arab di hampir setiap sudut bangunan.
Bagi sebagian warga Surabaya, Masjid Cheng Hoo menjadi penanda bahwa identitas budaya tidak selalu harus dipisahkan dari keyakinan. Bangunan ini justru menunjukkan keduanya dapat berjalan berdampingan dalam ruang yang sama.
#Ruang Ibadah dengan Jejak Sejarah
Nama Cheng Hoo diambil dari Laksamana Cheng Hoo atau Zheng He, pelaut muslim asal Yunnan, Tiongkok, yang melakukan pelayaran ke Nusantara pada abad ke-15. Dalam catatan sejarah, Cheng Hoo dikenal menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya dan perdagangan yang damai.
Masjid ini dibangun oleh Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia sebagai penghormatan terhadap tokoh tersebut. Kehadirannya sekaligus menjadi representasi komunitas muslim Tionghoa yang telah lama hidup di Surabaya sebagai kota pelabuhan multietnis.
Bangunan utama masjid berukuran 11 x 9 meter. Angka tersebut merujuk pada ukuran Ka’bah pada masa awal dan jumlah Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa.
Atap segi delapan menyerupai pagoda menjadi salah satu ciri paling mencolok. Bentuk itu melambangkan keterbukaan dan delapan arah mata angin dalam filosofi budaya Tionghoa.
Di ruang utama salat, suasana terasa tenang dengan pencahayaan hangat dari lampu gantung kristal. Pilar-pilar berwarna emas dan mimbar kayu berukir memperkuat nuansa akulturasi yang menjadi identitas masjid.

Abdullah (58), salah satu pengurus masjid, mengatakan konsep bangunan sengaja mempertahankan unsur budaya leluhur tanpa meninggalkan nilai spiritual Islam.
“Masjid Cheng Hoo ini dibangun bukan untuk eksklusivitas satu golongan saja, melainkan sebagai jembatan persaudaraan universal. Kami ingin menunjukkan bahwa Islam bisa tumbuh tanpa mencabut identitas budaya lokal,” ujarnya.
Menurut Abdullah, keterbukaan menjadi prinsip utama pengelolaan masjid. Pengunjung dari berbagai agama dan negara kerap datang untuk melihat langsung sejarah dan arsitektur bangunan tersebut.
“Kami menerima banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Mereka datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga belajar tentang sejarah toleransi di Surabaya,” katanya.
#Akulturasi yang Hidup di Tengah Kota
Filosofi akulturasi tampak hingga detail kecil bangunan. Relief kapal layar bergaya Tionghoa dipasang berdampingan dengan bedug tradisional Jawa di area luar masjid.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Ornamen naga dan motif awan khas budaya Tionghoa juga terlihat menyatu dengan lafaz kaligrafi Arab. Perpaduan itu menciptakan identitas visual yang berbeda dibanding masjid lain di Surabaya.
Di tengah perkembangan kota yang semakin modern, Masjid Cheng Hoo tetap mempertahankan fungsi sosialnya. Kompleks masjid sering digunakan untuk kegiatan budaya, diskusi lintas komunitas, hingga kunjungan edukasi pelajar.

Citra (32), warga Surabaya yang berkunjung ke masjid tersebut, menilai suasana di Masjid Cheng Hoo memberikan pengalaman berbeda dari citra Surabaya yang identik dengan ritme kota besar yang keras dan cepat.
“Duduk di halaman masjid saat sore memberi saya perspektif baru tentang Surabaya yang multikultural. Tempat ini terasa teduh dan terbuka untuk siapa saja,” ujarnya.
Menurut Citra, ruang seperti Masjid Cheng Hoo penting dipertahankan di tengah meningkatnya polarisasi sosial yang berkembang melalui media digital. Ia menilai generasi muda perlu diperkenalkan langsung pada ruang-ruang akulturasi yang nyata.
“Masjid Cheng Hoo bukan sekadar objek wisata arsitektur. Tempat ini menyimpan nilai sosial tentang bagaimana perbedaan bisa hidup berdampingan,” katanya.
Keberadaan Masjid Cheng Hoo memberi warna tersendiri bagi wajah sosial Kota Surabaya. Di tengah dinamika politik dan sosial yang kadang memunculkan gesekan identitas, masjid ini hadir sebagai ruang publik yang relatif cair dan terbuka.
Bagi pengurus maupun warga sekitar, merawat bangunan ini bukan hanya menjaga tempat ibadah, tetapi juga menjaga simbol toleransi yang telah tumbuh selama bertahun-tahun di kota tersebut.
Menjelang petang, cahaya matahari memantul di dinding merah dan atap pagoda masjid. Di luar pagar, kendaraan terus melintas membawa ritme khas Surabaya yang sibuk.
Namun di dalam kompleks masjid, suasana tetap terasa tenang. Masjid Cheng Hoo terus berdiri sebagai pengingat bahwa pluralisme di Kota Pahlawan tidak hanya hadir dalam slogan, tetapi hidup dalam keseharian warganya.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.