Harga Pertamax resmi naik. Pengendara motor di Surabaya mulai mengencangkan anggaran harian dan mempertimbangkan BBM subsidi.
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat di Surabaya. Sejumlah pengendara sepeda motor mengaku harus menyesuaikan anggaran bulanan, sementara antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite terlihat semakin padat di beberapa SPBU.
Pantauan di SPBU kawasan Jalan Raya Gubeng menunjukkan pergeseran pilihan konsumen setelah harga baru diberlakukan. Jalur pengisian Pertalite dipenuhi antrean kendaraan roda dua, sedangkan dispenser Pertamax tampak lebih lengang dibanding hari-hari sebelumnya.
Fenomena tersebut mencerminkan upaya masyarakat untuk menekan pengeluaran transportasi di tengah meningkatnya biaya hidup. Bagi sebagian pekerja yang bergantung pada kendaraan pribadi, selisih harga BBM kini menjadi komponen pengeluaran yang sulit diabaikan.
Rian Kurniawan (28), seorang karyawan swasta di Surabaya, mengaku kenaikan harga Pertamax langsung berdampak pada perencanaan keuangannya. Ia menggunakan sepeda motor setiap hari untuk bekerja dengan jarak tempuh yang cukup jauh.
“Jujur saja, kenaikan harga Pertamax kali ini benar-benar terasa berat bagi saya yang mengandalkan motor untuk kerja jarak jauh setiap hari. Motor matik saya ini spesifikasinya mengharuskan pakai Pertamax agar mesinnya awet, tapi kalau harganya naik terus seperti sekarang, anggaran transportasi bulanan saya bisa jebol,” kata Rian.
Menurut Rian, kebutuhan mobilitas tidak bisa dikurangi. Karena itu, penyesuaian harus dilakukan pada pos pengeluaran lain yang dianggap tidak mendesak. Ia memilih mulai mengurangi pengeluaran untuk rekreasi akhir pekan dan kebiasaan membeli kopi harian (ngopi). Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan bahan bakar tetap terpenuhi tanpa mengganggu pengeluaran pokok lainnya.
“Pos hiburan yang akhirnya harus dikurangi. Jarak perjalanan kerja tidak berubah, jadi saya harus mencari ruang penghematan di sektor lain,” ujarnya.
Meski demikian, Rian mengaku tetap mempertimbangkan untuk beralih menggunakan Pertalite apabila kondisi ekonomi semakin menekan dalam beberapa bulan ke depan. Namun, ia masih menimbang-nimbang kebutuhan kendaraan dan rekomendasi penggunaan bahan bakar dari pabrikan.

#Perubahan Pola Konsumsi di SPBU
Perubahan perilaku konsumen juga dirasakan langsung oleh pengelola SPBU. Kenaikan harga Pertamax disebut langsung memengaruhi volume transaksi hanya beberapa jam setelah kebijakan diumumkan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSupriyanto (35), pengawas lapangan di salah satu SPBU kawasan Jalan Raya Gubeng, mengatakan penurunan jumlah pembeli Pertamax terlihat cukup signifikan. Sebaliknya, jumlah kendaraan yang mengisi Pertalite meningkat dibanding hari-hari sebelumnya.
“Seirama dengan hari pertama penyesuaian harga Pertamax diumumkan, terjadi penurunan volume penjualan yang cukup signifikan di jalur Pertamax. Sebaliknya, beban antrean di Pertalite melonjak hingga membuat petugas kami harus bekerja ekstra mengatur antrean,” ungkap Supriyanto.
Menurut Supriyanto, peningkatan permintaan Pertalite membuat antrean kendaraan lebih panjang, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Kondisi tersebut memerlukan pengaturan tambahan agar tidak mengganggu akses keluar masuk kendaraan di area SPBU. Ia menilai tren perpindahan konsumen dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi pola distribusi pasokan di lapangan.
#Khawatir Kuota Pertalite Jebol
Selain perubahan antrean, pengelola SPBU juga mulai mencermati kemungkinan meningkatnya tekanan terhadap kuota Pertalite. Jika perpindahan konsumen berlangsung dalam jangka panjang, kebutuhan harian dapat meningkat di atas rata-rata normal.
“Kami mengkhawatirkan jika migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite ini terus bertahan dalam jangka panjang, pasokan kuota Pertalite harian bisa habis lebih cepat dari jadwal pengiriman rutin,” ujar Supriyanto khawatir.
Ia berharap koordinasi distribusi dapat disesuaikan dengan kondisi permintaan di lapangan. Menurutnya, langkah antisipatif diperlukan agar tidak terjadi kekurangan stok yang berpotensi menimbulkan keluhan masyarakat.
Kenaikan harga Pertamax pada akhirnya tidak hanya memengaruhi pilihan bahan bakar, tetapi juga mengubah cara masyarakat mengelola pengeluaran sehari-hari. Di Surabaya, sebagian pengendara kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan jenis BBM yang sesuai spesifikasi kendaraan atau beradaptasi dengan opsi yang lebih ekonomis demi menjaga keseimbangan anggaran rumah tangga.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.