Lewati ke konten

Cegah Sampah, REFILIN dan MASDARSA Gresik Bangun Ekosistem Guna Ulang

| 5 menit baca |Ide | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: ADV Editor: Supriyadi
  • REFILIN, MASDARSA, dan TJLS Petrokimia Gresik membangun ekosistem guna ulang di Tlogopojok untuk mengurangi sampah sachet, mencegah polusi plastik, serta mendorong perubahan pola konsumsi.
  • Kolaborasi warga, komunitas lingkungan, dan Petrokimia Gresik melahirkan Toko Refill Komunitas sebagai upaya menekan sampah plastik sekali pakai dari tingkat rumah tangga.
  • Di tengah sulitnya pengelolaan sampah sachet, gerakan guna ulang di Tlogopojok hadir menawarkan solusi pencegahan melalui sistem isi ulang berbasis komunitas warga.

Gerakan guna ulang REFILIN (Refill Loop Indonesia) bersama Kelompok Masyarakat Sadar Pengelolaan Sampah (MASDARSA) dan Tim Tanggung Jawab Lingkungan dan Sosial (TJLS) Petrokimia Gresik membangun sinergi untuk mengurangi timbulan sampah plastik sekali pakai dari sumbernya.

Kolaborasi ditandai melalui kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Gedung Pertemuan Kantor Kelurahan Tlogopojok, Gresik, Rabu (17/6/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 – 11.30 WIB itu, diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri dari anggota PKK Tlogopojok dan kader lingkungan MASDARSA.

Program ini berangkat dari meningkatnya kekhawatiran terhadap dominasi sampah plastik sekali pakai, terutama kemasan sachet yang sulit ditangani karena nilai ekonominya rendah dan sering kali tidak terserap oleh industri daur ulang.

Dalam kegiatan tersebut, REFILIN memperkenalkan pendekatan guna ulang sebagai strategi pencegahan sampah yang dinilai lebih efektif dibanding hanya mengandalkan pengelolaan di tahap akhir.

Jofan Ahmad dari Divisi Guna Ulang REFILIN mengatakan, persoalan sampah plastik tidak dapat diselesaikan hanya melalui daur ulang. Menurutnya, pengurangan sampah harus dimulai dari perubahan pola konsumsi masyarakat.

“REFILIN berdiri untuk menjawab keresahan bersama di mana sampah plastik sekali pakai sangat mendominasi jumlah timbulan sampah skala kawasan akibat pola konsumsi. Gerakan guna ulang ini mengajak masyarakat mengambil peran konkret dalam pencegahan,” ujar Jofan dalam kegiatan sosialisasi.

Ia menjelaskan tentang ancaman mikroplastik yang terjadi dan kini semakin nyata, karena telah masuk ke berbagai rantai makanan. Kata Jofan hal itu sangat berpotensi memengaruhi kesehatan manusia.

Karen itu ia berpendapat, perempuan memiliki posisi penting dalam mendorong perubahan  keputusan konsumsi rumah tangga. Menurt Jofan, karena sebagian besar keputusan itu berada di tangan ibu rumah tangga.

“Guna ulang adalah cara kita memperpanjang usia pakai benda agar tidak terlalu cepat berakhir di tempat pembuangan dan menjadi polusi,” katanya.

Kader lingkungan MASDARSA sekaligus praktisi Bank Sampah Tlogopojok, Impus Siyati Wiramukti, menyampaikan pandangan terkait pengelolaan sampah sachet dalam kegiatan sosialisasi. | Dok RefiliN

#Sampah Sachet Sulit Dikelola

Persoalan sampah sachet menjadi salah satu isu yang banyak mendapat perhatian dalam sosialisasi Rabu itu. Para pengelola bank sampah rata-rata mengakui, jika jenis sampah ini masih menjadi tantangan besar di tingkat praktik.

Menjawab persoalan itu, Kader lingkungan MASDARSA sekaligus praktisi Bank Sampah Tlogopojok, Impus Siyati Wiramukti menyampaikan, jika kemasan sachet sering kali tidak memiliki nilai jual, sehingga kurang diminati pengepul.

Akibatnya, kata Impus, bank sampah kerap mengalami kesulitan dalam menyalurkan hasil pengumpulan kepada pihak yang dapat memanfaatkan kembali material tersebut.

“Di bank sampah, kami agak keberatan menerima sampah sachet karena belum ada pengepul yang mau membeli. Nilai ekonomisnya sangat rendah,” ujar Impus.

Ia menambahkan ukuran sachet yang kecil, membuat sampah jenis ini mudah tercecer dan bercampur dengan sampah lain. “Kondisi ini memperbesar risiko pencemaran lingkungan, terutama di kawasan permukiman padat, “ ucapnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Karena itu, menurut Impus, pendekatan pencegahan melalui sistem isi ulang atau refill merupakan langkah yang lebih realistis. Jika dibanding hanya mengandalkan pengelolaan setelah sampah terbentuk.

Pandangan serupa disampaikan Ketua TP PKK Tlogopojok, Dian Anggraini. Ia menilai masyarakat perlu memahami bahwa prinsip pengurangan sampah. Terutama guna ulang harus menjadi prioritas sebelum berbicara mengenai daur ulang.

“Masyarakat memang harus diajak secara aktif untuk mengurangi penggunaan sachet terlebih dahulu. Pemahaman tentang pencegahan sampah dari rumah tangga ini sudah sangat mendesak,” kata Dian.

Ia berharap edukasi yang diberikan dapat mengubah kebiasaan belanja masyarakat menuju pola konsumsi yang menghasilkan lebih sedikit sampah.

Jofan Ahmad saat memberikan penjelasan mengenai pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya dalam kegiatan sosialisasi program guna ulang. | Dok RefiliN

#Toko Refill Komunitas Segera Diluncurkan

Dukungan terhadap inisiatif tersebut juga datang dari TJLS Petrokimia Gresik. Dalam komitmennya perusahaan ini akan mengintegrasikan konsep guna ulang ke dalam program pemberdayaan masyarakat di wilayah binaannya.

Community Development Officer TJLS Petrokimia Gresik, Amellya Putri Kaharu, menyatakan pihaknya melihat kebutuhan mendesak untuk membangun sistem yang mampu mencegah timbulan sampah sejak awal.

“Kami mewakili Tim TJLS Petrokimia Gresik berkomitmen mendukung ekosistem guna ulang ini terwujud secara nyata. Sebagai langkah awal, gerakan ini akan didirikan di desa binaan kami, tepatnya di Tlogopojok RT 03 RW 07,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, MASDARSA, REFILIN, dan TJLS Petrokimia Gresik sepakat membentuk Toko Refill Komunitas yang menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga dalam sistem isi ulang.

Produk yang akan tersedia antara lain deterjen, sabun cuci piring, sabun mandi cair, dan berbagai kebutuhan domestik lainnya yang selama ini banyak dipasarkan dalam kemasan sekali pakai.

Melalui mekanisme tersebut, warga cukup membawa wadah yang sudah dimiliki dari rumah untuk diisi kembali sesuai kebutuhan. Cara ini diharapkan mampu mengurangi konsumsi kemasan plastik baru secara signifikan.

Selain menekan timbulan sampah, model belanja isi ulang juga dipandang dapat memperkuat partisipasi warga dalam pengelolaan lingkungan berbasis komunitas.

Kolaborasi antara kelompok masyarakat, organisasi lingkungan, dan perusahaan tersebut diharapkan menjadi contoh pengembangan kawasan yang mengedepankan pencegahan sampah sebagai strategi utama menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *