Lewati ke konten

MOZAIK: DLH Surabaya Angkut 16 Ton Sampah dari Kali Tebu

| 6 menit baca |Ekologis | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Fia Atmadja
  • DLH Surabaya bersama tim kebersihan Kecamatan Kenjeran dan MOZAIK Ecoton mengangkat 16 ton sampah dari Kali Tebu dalam operasi pembersihan selama dua hari.
  • Sampah yang ditemukan didominasi plastik sekali pakai, seperti kemasan makanan dan minuman, sachet, botol plastik, serta styrofoam.
  • Penelitian mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya menemukan 103 partikel mikroplastik di enam lokasi sekitar Kali Tebu, termasuk kawasan permukiman.
  • Kelurahan Simokerto menjadi lokasi dengan jumlah mikroplastik tertinggi, sementara jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah serat (fiber).
  • Pengujian kualitas air menunjukkan kadar fosfat di seluruh titik pengamatan melampaui baku mutu, mengindikasikan tekanan pencemaran dari aktivitas domestik, pertanian, dan industri.

Sebanyak 16 ton sampah diangkat dari Kali Tebu, Surabaya, dalam operasi pembersihan selama dua hari, 20–21 Juni 2026. Sampah itu didominasi kemasan makanan dan minuman berbahan plastik, sachet, botol air minum dalam kemasan, serta styrofoam.

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 30 petugas Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya. Tim kebersihan Kecamatan Kenjeran turut terlibat. Tim Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) Ecoton juga bergabung dalam operasi itu.

Sampah yang diangkat berasal dari aliran sungai sebelum mencapai Selat Madura. Temuan tersebut menunjukkan tingginya beban sampah plastik di sungai perkotaan. Pada saat yang sama, penelitian terbaru menemukan mikroplastik telah menyebar melalui udara dan air di sekitar Kali Tebu.

Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya bersama tim Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) Ecoton mengampanyekan larangan membuang sampah ke Kali Tebu, Kecamatan Kenjeran, Surabaya, melalui poster edukasi kepada warga, Ahad (21/6/2026). Edukasi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembersihan sungai untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam mengurangi pencemaran sampah plastik di aliran sungai. | Foto: MOZAIK

#Mikroplastik Ditemukan di Seluruh Lokasi

Manager Data dan Informasi Program MOZAIK Ecoton, Alaika Rahmatullah, mengatakan sampah yang mendominasi Kali Tebu berasal dari produk sekali pakai. Jenis sampah itu digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

“Selama dua hari kegiatan pembersihan, kami mengangkat sekitar 16 ton sampah dan sebagian besar berupa kemasan makanan dan minuman berbahan plastik, sachet, botol air minum dalam kemasan, serta styrofoam. Jenis sampah ini terus muncul dan menjadi penyumbang utama timbulan sampah di sungai,” ujar Alaika, Ahad, (21/6/2026).

Menurut Alaika, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengurangan plastik sekali pakai. Upaya pembersihan sungai dinilai tidak cukup. Pengendalian harus dimulai dari sumber sampah.

Ia menilai kemasan sachet menjadi salah satu penyumbang utama. Wadah makanan berbahan plastik juga masih banyak ditemukan. Demikian pula botol minuman dan styrofoam.

“Kita perlu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, terutama kemasan sachet, wadah makanan berbahan plastik, botol minuman kemasan, dan styrofoam. Jika tidak, beban pencemaran di sungai akan terus berulang,” katanya.

Di tengah kegiatan pembersihan itu, mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melakukan penelitian lingkungan. Penelitian dilakukan saat menjalani program studi independen di Ecoton. Fokus penelitian mencakup keberadaan mikroplastik di udara sekitar Kali Tebu.

Tim peneliti terdiri dari Davin Jauhar B, Ardina M, Intan Aura Cinta, Dito Herdianto, Elsa Pratiwi, dan Dewi Fitriana. Hasil penelitian menunjukkan mikroplastik ditemukan pada seluruh lokasi pengamatan. Temuan itu mencakup kawasan sungai dan permukiman.

Ketua tim penelitian, Davin Jauhar B, mengatakan partikel mikroplastik ditemukan di semua titik penelitian. Kondisi tersebut menunjukkan penyebaran pencemaran yang lebih luas. Dampaknya berpotensi dirasakan masyarakat sekitar.

“Kami menemukan mikroplastik pada seluruh lokasi pengamatan. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil telah menyebar ke lingkungan sekitar sungai dan berpotensi terpapar kepada masyarakat melalui udara yang mereka hirup setiap hari,” katanya.

Penelitian mencatat sedikitnya 103 partikel mikroplastik. Pengamatan dilakukan pada enam lokasi. Lokasi tersebut meliputi Makam Rangkah, Bulak Banteng, Trash Boom, Tanah Merah, Simokerto, dan Kapas Jaya.

Kelurahan Simokerto mencatat jumlah tertinggi. Sebanyak 37 partikel ditemukan di lokasi itu. Jumlah terendah ditemukan di kawasan Trash Boom dengan lima partikel.

Seruan menjaga kebersihan Kali Tebu sebagai pengingat kepada warga agar tidak membuang sampah ke aliran air. Upaya edukasi ini dilakukan untuk mencegah pencemaran sungai yang masih didominasi sampah plastik sekali pakai dan mendukung pemulihan kualitas lingkungan di kawasan Kenjeran, Surabaya. | Foto: MOZAIK

#Serat Plastik Mendominasi Temuan

Peneliti menemukan dua bentuk utama mikroplastik. Bentuk tersebut berupa fiber dan fragmen. Jenis fiber menjadi yang paling dominan.

Di Simokerto ditemukan 22 partikel fiber. Sebanyak 15 partikel lainnya berupa fragmen. Sementara di Bulak Banteng ditemukan 22 partikel yang didominasi kedua jenis tersebut.

Menurut Davin, dominasi fiber menunjukkan pengaruh aktivitas manusia. Sumbernya diduga berasal dari tekstil sintetis. Aktivitas rumah tangga juga berkontribusi terhadap pencemaran tersebut.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Selain itu, degradasi berbagai produk plastik turut menghasilkan serat mikroplastik. Partikel tersebut dapat berpindah melalui udara. Sebagian juga masuk ke badan air.

Temuan ini memperlihatkan perubahan karakter pencemaran plastik. Sampah yang semula terlihat secara fisik mengalami pelapukan. Setelah itu berubah menjadi partikel berukuran sangat kecil.

Partikel tersebut lebih sulit dikendalikan. Penyebarannya juga lebih luas. Dampaknya terhadap lingkungan masih menjadi perhatian para peneliti.

Alaika menilai temuan mikroplastik memperlihatkan tantangan baru dalam pengelolaan lingkungan. Persoalan pencemaran tidak lagi terbatas pada sampah yang terlihat. Dampaknya kini menjangkau udara dan perairan.

Menurut dia, pengurangan plastik sekali pakai perlu berjalan bersamaan dengan pengelolaan sampah yang lebih baik. Pengawasan kualitas lingkungan juga harus diperkuat. Langkah tersebut diperlukan untuk menekan sumber pencemaran.

Grafik hasil penelitian mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya menunjukkan mikroplastik ditemukan di seluruh lokasi pengamatan di sekitar Kali Surabaya. Kawasan Simokerto mencatat jumlah partikel tertinggi, sedangkan serat plastik (fiber) menjadi jenis mikroplastik yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan pencemaran plastik telah berkembang melampaui sampah yang terlihat di permukaan sungai, menjadi partikel mikroskopis yang dapat menyebar melalui udara dan berpotensi terpapar kepada masyarakat. | Dok. Penelitian

#Fosfat Air Lampaui Baku Mutu

Selain meneliti mikroplastik, tim peneliti juga menguji kualitas air. Pengujian dilakukan pada sejumlah titik sekitar Kali Tebu. Hasilnya menunjukkan kadar fosfat cukup tinggi.

Seluruh sampel melampaui baku mutu air kelas I, II, dan III. Standar tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Temuan itu mengindikasikan adanya tekanan pencemaran terhadap kualitas air.

Konsentrasi fosfat tertinggi ditemukan pada titik ketiga. Nilainya mencapai 8,1 miligram per liter. Sementara konsentrasi terendah berada pada titik pertama dengan nilai 4,2 miligram per liter.

Tingginya kadar fosfat diduga berasal dari berbagai sumber. Limbah domestik menjadi salah satunya. Aktivitas pertanian dan industri juga berpotensi memberikan kontribusi.

“Kadar fosfat yang tinggi menunjukkan adanya tekanan pencemaran yang cukup serius terhadap kualitas air. Kondisi ini berpotensi memicu eutrofikasi dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,” ujar Davin.

Berbeda dengan fosfat, hasil pengujian klorin bebas menunjukkan kondisi berbeda. Seluruh titik pengamatan mencatat nilai 0,00 miligram per liter. Angka tersebut masih berada di bawah ambang baku mutu.

Melihat temuan mahasiswa, Alaika mengatakan pencemaran di Kali Tebu telah berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks. Sampah plastik tidak berhenti sebagai limbah padat. Sebagiannya berubah menjadi mikroplastik yang menyebar melalui udara dan air.

“Ketika plastik mulai terurai menjadi mikroplastik, dampaknya menjadi lebih luas karena dapat berpindah melalui air maupun udara. Karena itu, pengurangan plastik sekali pakai, penguatan sistem pengelolaan sampah, dan pengawasan kualitas lingkungan perlu dilakukan secara bersamaan,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat terlibat dalam upaya pemulihan sungai. Menurutnya, keberhasilan menjaga kebersihan Kali Tebu membutuhkan partisipasi warga. Pemerintah tingkat kelurahan, RT, dan RW juga perlu memperkuat koordinasi pengelolaan lingkungan.

Temuan di Kali Tebu sejalan dengan studi internasional yang dipublikasikan dalam jurnal One Earth pada 20 Mei 2026. Studi tersebut menganalisis data dari 112 negara. Hasilnya menunjukkan kemasan makanan dan minuman menjadi jenis sampah plastik yang paling banyak ditemukan di lingkungan pesisir dunia, termasuk Indonesia.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *