- Siswa SDIT El Haq Sidoarjo mengikuti Microplastic Journey ECOTON, memperkuat komitmen sekolah mengurangi plastik sekali pakai sejak MPLS.
- Bukan bisa dikatakan edukasi belaka, SDIT El Haq telah menerapkan tumbler wajib, kantin bebas kemasan plastik, dan administrasi paperless bagi seluruh warga sekolah.
- Ratusan siswa belajar mengenali bahaya mikroplastik, sementara lebih dari 60 poster terbaik dipasang sebagai pengingat mengurangi plastik sekali pakai setiap hari.
Lebih dari 600 siswa SD Islam Terpadu El Haq Sidoarjo mengikuti edukasi Microplastic Journey yang digelar ECOTON, Kamis, 9 Juli 2026. Program yang menjadi bagian dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) itu, sekaligus memperkuat kebijakan sekolah yang telah menerapkan pembatasan plastik sekali pakai. Melalui kewajiban membawa tumbler, wadah makan guna ulang, kantin bebas kemasan plastik, serta administrasi berbasis paperless.
Kegiatan diikuti siswa kelas 1 hingga kelas 6, juga ikut serta lebih dari 20 ustaz dan ustazah. Selain mengenalkan bahaya mikroplastik, ECOTON mengajak peserta memahami hubungan antara kebiasaan sehari-hari dengan pencemaran lingkungan yang semakin meluas.

#Keran Mengalirkan Sampah
Di tengah halaman sekolah berdiri sebuah instalasi, menarik perhatian para siswa. Bentuknya menyerupai keran air, tetapi yang keluar bukan air melainkan botol serta berbagai jenis sampah plastik.
Instalasi bertopik “Keran Plastik” itu menjadi pintu masuk bagi siswa memahami persoalan yang lebih besar. Pesannya mudah diingat siswa: selama plastik sekali pakai terus digunakan dan dibuang, lingkungan akan terus menerima limpahan sampah. Lambat laun sampah-sampah terurai menjadi mikroplastik.
Zada, siswi kelas 6A, mengatakan instalasi membuatnya langsung memahami persoalan yang kemudian ia sampaikan.
“Biasanya keran mengeluarkan air, tapi ini malah mengeluarkan botol-botol plastik. Jadi aku langsung paham kalau sampah plastik sudah sangat banyak dan harus dikurangi,” katanya, sambil memandangi arah instalasi keran plastik.
Setelah itu, siswa diajak mengenal lima jenis mikroplastik melalui patung edukatif berwarna. Fiber diperkenalkan sebagai serat yang berasal dari kain sintetis. Filamen berasal dari plastik tipis seperti kantong kresek. Fragmen pecahan plastik keras. Biasanya digunakan tutup botol dan kemasan sachet. Granul berasal dari butiran mikroplastik. Banyak ditemukan pada produk perawatan diri, sedangkan foam berasal dari styrofoam.
Melalui media peraga, siswa diperlihatkan sumber mikroplastik. Dipastikan tidak hanya berasal dari sampah yang terlihat di sungai atau pantai. Sebagian justru berasal dari benda-benda yang digunakan masyarakat setiap hari.

#Kebiasaan Dimulai dari Sekolah
Berbeda dengan banyak sekolah yang masih menyediakan air minum kemasan, SDIT El Haq telah mewajibkan seluruh siswanya membawa botol minum dari rumah. Kebijakan itu menjadi salah satu upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah.
Farukh, siswa kelas 6, mengatakan aturan sudah menjadi kebiasaan seluruh siswa sudah lama. Karena dia memahami kalau botol plastik sekali pakai tidak dirancang untuk digunakan berulang.
“Di SDIT El Haq kami diwajibkan membawa botol minum dari rumah dan tidak boleh menggunakan air minum dalam kemasan plastik sekali pakai. Botol plastik sekali pakai kalau sering terkena panas atau diremas bisa melepaskan partikel mikroplastik,” ujarnya.
Pengetahuan mengenai mikroplastik juga diperoleh siswa melalui berbagai media belajar. Adam, siswa kelas 6, mengaku telah mengenal dampak mikroplastik setelah membaca komik edukasi.
“Aku sudah tahu bahaya mikroplastik setelah baca buku komik. Mikroplastik bisa membuat orang sakit dan membuat lingkungan menjadi kotor,” katanya.
Komitmen sekolah juga terlihat di kantin. Makanan tidak lagi disajikan menggunakan kemasan plastik sekali pakai, melainkan dengan piring yang dapat digunakan berulang.
Alma dan Malika, siswi kelas 2A, mengatakan aturan itu berlaku bagi seluruh siswa.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kalau jajan di sekolah sudah disediakan piring yang bisa dipakai kembali. Kalau tidak menggunakan piring yang disediakan, kami tidak bisa membeli jajanan,” ujar keduanya.

#Edukasi Berlanjut hingga ke Rumah
Rangkaian kegiatan tidak berhenti di halaman sekolah saja. Sehari sebelum acara, seluruh siswa diminta membuat poster bertema pengurangan plastik sekali pakai bersama keluarga mereka.
Malik, siswa kelas 5, mengatakan ia menyelesaikan posternya bersama ayahnya di rumah.
“Poster edukasi mikroplastik ini aku buat bersama ayah di rumah. Jadi ayah juga jadi tahu tentang bahaya mikroplastik dan sampah plastik,” tuturnya.
Lebih dari 600 poster terkumpul selama kegiatan. Dari jumlah itu, lebih dari 60 karya dipilih sebagai poster terbaik. Karena dinilai tim Ecoton, mampu menyampaikan pesan lingkungan secara kreatif.
Kepala SD Islam Terpadu El Haq, Ustadz Abdul Aris, S.Pd.I., mengaku sangat senang dengan kegiatan ini. Ia pun mengatakan, seluruh poster akan dipasang di berbagai sudut sekolah. Kata Aris, agar menjadi pengingat bagi warga sekolah mengenai pentingnya mengurangi plastik sekali pakai.
Menurut Aris, komitmen sekolah tidak berhenti pada penggunaan tumbler dan wadah makan guna ulang saja. Sekolah juga mengurangi penggunaan styrofoam, sedotan, sendok plastik, botol minuman sekali pakai, serta kemasan sachet dalam berbagai aktivitas.
“Kami ingin pengurangan plastik sekali pakai menjadi budaya di sekolah. Karena itu, berbagai produk plastik sekali pakai secara bertahap kami kurangi dalam kegiatan sehari-hari,” kata Aris.
Di bidang administrasi, masih kata Aris, sekolah telah menerapkan sistem paperless. Mulai dari surat-menyurat dan memanfaatkan media digital dalam penyebaran informasi. Termasuk pada penerimaan peserta didik baru. Sehingga anak-anak tidak lagi bergantung pada media cetak yang berpotensi menjadi limbah.
“Anak-anak kami harapkan menjadi agen perubahan. Mereka tidak hanya menerapkan kebiasaan ini di sekolah, tetapi juga mengajak keluarganya mengurangi plastik sekali pakai dari rumah. Dengan cara itu, pendidikan lingkungan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan menyebar ke masyarakat,” ujarnya.
Melalui Microplastic Journey, ECOTON menempatkan edukasi sebagai pintu masuk perubahan perilaku. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pencemaran mikroplastik di Indonesia, sekolah menjadi salah satu ruang yang dinilai paling strategis untuk membangun kebiasaan baru, dimulai dari keputusan sederhana: membawa botol minum sendiri, menggunakan wadah makan guna ulang, dan menolak plastik sekali pakai.***

Jofany Ahmad merupakan penulis dan pegiat lingkungan yang fokus pada kampanye pengurangan sampah plastik serta bahaya mikroplastik. Sebagai Koordinator Refilin, ia aktif mengampanyekan sistem belanja isi ulang kepada masyarakat dan institusi.