- Puluhan ibu-ibu Darwis di Desa Suko, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC).
- Pelatihan ini memperkenalkan cara mengolah sisa sayuran, kulit buah, dan limbah organik lain menjadi pupuk.
- Kegiatan melibatkan POKJA III Darwis dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Suko sebagai mitra pelaksana.
- Selain mengajarkan teknik pembuatan POC, mahasiswa juga mengenalkan peluang penghematan biaya pertanian.
- Program diharapkan menjadi langkah awal agar masyarakat mampu mengelola sampah organik.
Puluhan ibu-ibu Darwis mengikuti penyuluhan pembuatan pupuk organik cair (POC) yang diselenggarakan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 149 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya di rumah Kepala Desa Suko, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Jumat (3/7/2026).
Kegiatan merupakan kolaborasi mahasiswa dengan POKJA III Darwis dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Suko. Fokus pada pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair.
Pupuk oragnik itu diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Bahan bakunya berasal dari sisa sayuran, kulit buah, dan limbah dapur lain yang selama ini umumnya dibuang begitu saja.
Mahasiswa KKN memperkenalkan metode pembuatan POC , yaitu menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Pendekatan ini dipilih agar masyarakat dapat mempraktikkannya, tanpa memerlukan peralatan khusus maupun biaya besar.
Intan Fatimah Az-zahrah, mahasiswa Biologi angkatan 2023 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, mengatakan pengelolaan limbah organik dapat dimulai dari tingkat rumah tangga. Menurutnya, limbah dapur masih memiliki nilai guna apabila diolah melalui proses yang tepat.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik tidak selalu menjadi limbah. Dengan pengolahan sederhana, masyarakat dapat menghasilkan pupuk organik cair yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus mengurangi volume sampah rumah tangga,” ujar Intan dalam rilisnya yang dikirim, Kamis, 9 Juli 2026.
Kegiatan mendapat sambutan positif dari warga. Sejak sesi pembukaan hingga praktik berlangsung, peserta aktif menyimak materi, mencatat tahapan pembuatan, serta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai proses fermentasi.

#Praktik Langsung Permudah Pemahaman Peserta
Materi pelatihan disampaikan secara bertahap agar mudah dipahami peserta. Mahasiswa menjelaskan fungsi setiap bahan yang digunakan, mulai dari sampah basah, sampah kering, EM-4, air cucian beras, sekam atau serbuk kayu, hingga tetes tebu sebagai pendukung proses fermentasi.
Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai tahapan pencampuran bahan, masa fermentasi, proses penyaringan, hingga cara penyimpanan pupuk agar kualitasnya tetap terjaga. Penjelasan tersebut dilengkapi dengan demonstrasi langsung.
Sesi praktik menjadi bagian yang paling banyak menarik perhatian peserta. Ibu-ibu Darwis menyaksikan seluruh proses pembuatan POC secara langsung sambil berdiskusi mengenai ukuran bahan, lama fermentasi, hingga ciri-ciri pupuk yang siap digunakan.
Berbagai pertanyaan muncul selama praktik berlangsung. Sebagian peserta ingin mengetahui penyebab munculnya bau fermentasi, sementara peserta lain menanyakan efektivitas pupuk organik cair untuk berbagai jenis tanaman pekarangan maupun tanaman pangan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelTim KKN menilai pemahaman mengenai setiap tahapan sangat menentukan kualitas hasil pupuk. Karena itu, peserta didorong untuk mengikuti prosedur secara benar agar proses fermentasi berjalan optimal.
Dukungan juga datang dari perangkat desa dan BPD Suko yang hadir selama kegiatan berlangsung. Kehadiran pemerintah desa dinilai memperkuat peluang agar pelatihan serupa dapat dikembangkan menjadi program masyarakat secara berkelanjutan.

#Berpotensi Kurangi Sampah dan Tekan Biaya Pertanian
Selain mengajarkan keterampilan teknis, penyuluhan ini menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan. Pemanfaatan limbah dapur menjadi pupuk dinilai mampu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa penggunaan pupuk organik cair dapat membantu memperbaiki struktur tanah serta menambah unsur hara secara alami. Dengan demikian, masyarakat memiliki alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Aspek ekonomi turut menjadi pembahasan dalam kegiatan tersebut. Biaya produksi POC relatif rendah karena bahan bakunya sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga yang tersedia setiap hari.
Menurut tim KKN, apabila diproduksi secara berkelompok dan dilakukan secara konsisten, pupuk organik cair berpotensi dikembangkan menjadi produk rumahan yang memiliki nilai ekonomi. Peluang tersebut dinilai dapat membantu menghemat pengeluaran sekaligus membuka tambahan sumber pendapatan bagi masyarakat.
Sejumlah peserta mengaku tertarik menerapkan teknik yang diperoleh selama pelatihan di rumah masing-masing. Mereka menilai proses pembuatannya mudah dipahami dan menggunakan bahan yang selama ini tersedia di dapur.
Menutup kegiatan, Tim KKN 149 UIN Sunan Ampel Surabaya berharap penyuluhan ini menjadi awal dari penerapan pengelolaan limbah organik secara mandiri di Desa Suko. Mahasiswa juga mendorong peserta untuk terus mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun kebutuhan pertanian keluarga.***

Rilis ini dikirim oleh Intan Fatimah Az-zahrah, mahasiswa Biologi angkatan 2023 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dalam kegiatan tersebut, ia menjadi pemateri sekaligus merupakan bagian dari komunitas @zero.micro_.