Lewati ke konten

Ikuti Aliran Kali Surabaya, Mahasiswa Universitas Brawijaya Temukan Jejak Dugaan Dampak Limbah Industri

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
  • Mahasiswa menemukan perubahan warna dan bau air setelah melewati saluran pembuangan limbah di kawasan industri.
  • Pengambilan sampel pagi dan sore menunjukkan kondisi fisik air berubah pada titik setelah pembuangan limbah industri.
  • Penelitian dilakukan di tiga kawasan industri dengan sembilan titik pengamatan untuk membandingkan kualitas air sungai.
  • Air di sekitar saluran limbah tampak lebih keruh, kecokelatan, dan mengandung endapan dibanding bagian hulu sungai.
  • Temuan lapangan memperkuat pentingnya pengawasan limbah industri demi menjaga kualitas Kali Surabaya sebagai sumber air.

 

 

Penulis: Zilva May Yiswa Sianipar merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 6 Juli – 14 Agustus 2026.

 

Kali Surabaya masih menjadi sumber air penting bagi masyarakat dan berbagai sektor di Kota Surabaya. Namun, penelitian di lokasi mahasiswa Universitas Brawijaya memperlihatkan, kondisi fisik air berubah setelah melewati sejumlah saluran pembuangan limbah industri.

Pengamatan yang dilakukan secara langsung melalui pengambilan sampel di tiga kawasan industri itu. Para mahasiswa menemukan banyajejak dugaan limbah industri dengan sampel air yang diambill pada pagi dan sore hari pada Jumat, 10 Juli 2026.

Dalam kegitan mereka juga menggunakan water quality control. Gunanya untuk pengukuran langsung sampel air. Kemudian sampel itu diuji ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut. Tim mengatakan, “Kami ingin membandingkan kondisi air pada waktu berbeda.”

Lokasi penelitian berada di sekitar PT Adiprima Suraprinta, PT Dayasa Ariaprima, dan PT Daesang Miwon. Pada setiap kawasan, pengamatan dilakukan di tiga titik, yakni upstream sebelum pembuangan limbah, effluent pada saluran limbah industri, dan downstream setelah air limbah bercampur dengan aliran sungai.

Menurut tim, “Tiga titik dipilih agar perubahan kualitas air mudah dibandingkan.” Pendekatan tersebut membantu menggambarkan kondisi sungai sebelum dan sesudah menerima air buangan dari masing-masing industri.

#Perbedaan Kondisi Air Terlihat Tanpa Alat Khusus

Selama pengambilan sampel, mahasiswa menemukan perbedaan cukup jelas pada kondisi air. Di beberapa saluran pembuangan, air terlihat berwarna cokelat keruh dengan aroma menyengat yang dapat tercium dari jarak tertentu.

Kondisi itu berbeda dibandingkan bagian hulu sungai. Walaupun air di upstream belum sepenuhnya jernih, warnanya masih tampak lebih alami dibandingkan air di sekitar titik pembuangan limbah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Para mahasiswa mengatakan, “Perubahan warna air terlihat jelas setelah titik pembuangan limbah.”

Perubahan paling mencolok terlihat pada bagian downstream. Setelah bercampur dengan air limbah, aliran sungai berubah menjadi lebih pekat, keruh kecokelatan, dan membawa endapan yang mudah diamati secara visual.

Menurut hasil pengamatan di lokasi, “Perbedaan sebelum dan sesudah pembuangan tampak sangat nyata.” Temuan tersebut menunjukkan adanya perubahan karakteristik fisik air setelah menerima buangan limbah dari kawasan industri.

#Pengawasan Limbah Bagian Penting

Pencemaran limbah industri tidak hanya mengubah tampilan air. Tetapi juga berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem sungai. Air limbah yang belum diolah secara optimal dapat mengandung bahan organik, zat kimia, maupun padatan tersuspensi yang berisiko menurunkan kualitas air.

Dampak yang mungkin muncul antara lain penurunan kadar oksigen terlarut, terganggunya kehidupan organisme perairan, serta berkurangnya fungsi sungai sebagai sumber air bagi masyarakat.

Karena itu, setiap industri memiliki tanggung jawab memastikan air buangan telah memenuhi baku mutu melalui pengolahan di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Tim menegaskan, “Pengolahan limbah menjadi tanggung jawab setiap pelaku industri.”

Bagi mahasiswa, kegiatan ini tak hanya dikatakan latihan pengambilan sampel. Penelitian di lokasi telah memberi kesempatan memahami kondisi sungai secara langsung. Selain itu sekaligus menghubungkan teori dengan fakta di lapangan.

Belajar pemantauan kualitas air memerlukan pengamatan konsisten, serta analisis laboratorium.

Tim berharap penelitian semacam ini dapat mendukung upaya menjaga kualitas Kali Surabaya.  Sekaligus juga meningkatkan kepedulian terhadap keberlanjutan sumber daya air. Saat terakhir pengamatan tim sepakat mengatakan, “Sungai yang sehat membutuhkan pengawasan dan kepedulian bersama.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *