Lewati ke konten

Menggugat Masa Depan Kali Surabaya: Ketika Penyangga Kehidupan Kalah oleh Syahwat Industri

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

 

  • Kali Surabaya menopang kehidupan jutaan warga, tetapi kini menghadapi tekanan berat akibat aktivitas industri yang terus berkembang.
  • Investigasi mahasiswa mengungkap perubahan fisik Kali Surabaya, memunculkan pertanyaan serius tentang tanggung jawab pengelolaan limbah industri.
  • Masa depan Kali Surabaya bergantung pada keberanian menyeimbangkan pertumbuhan industri dengan perlindungan ekosistem dan hak masyarakat.

 

Penulis: Novearly Tria Azahra, Lanties Giantdaru G. K dan Kurniawan Trianggoro merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 6 Juli – 14 Agustus 2026.

 

Di atas peta, Kali Surabaya hanya tampak sebagai garis biru yang menghubungkan Dam Mlirip di Kabupaten Mojokerto hingga Jagir Wonokromo di Kota Surabaya. Namun, bagi jutaan warga Jawa Timur, sungai ini adalah segalanya. Celakanya, potret yang kami rekam selama menjalani magang bersama ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) justru menelanjangi ironi besar: sungai yang menghidupi peradaban ini dipaksa menjadi tong sampah raksasa bagi industri.

Sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya, kami turun melakukan investigasi dan pengambilan sampel air di titik upstream, effluent, dan downstream pada pagi serta sore hari di sekitar tiga raksasa industri: PT Adiprima Suraprinta, PT Dayasa Aria Prima, dan PT Daesang Miwon.

Sebelum hasil laboratorium keluar dan menjadi angka-angka mati, sungai ini telah “berteriak” kepada kami. Air yang cokelat pekat, aroma kimia menyengat yang menusuk hidung, hingga endapan sedimen hitam di dasar sungai adalah bukti tak terbantahkan bahwa Kali Surabaya sedang sekarat di bawah cengkeraman korporasi.

#Ancaman Krisis Air Baku

Sebagai urat nadi ekologis, Kali Surabaya adalah penyedia air baku utama bagi PDAM Kota Surabaya dan sekitarnya. Sungai ini adalah biosfer yang menopang jutaan nyawa. Akan tetapi, apa yang terjadi ketika fungsi vital ini diracuni secara sadar?

Saat kami mengambil sampel di titik effluent (saluran pembuangan langsung pabrik), air limbah berwarna cokelat gelap berbusa mengalir deras tanpa malu-malu, langsung bercampur ke badan sungai. Di titik downstream, vegetasi bantaran sungai meranggas dan mati. Ini bukan sekadar penurunan kualitas air; ini adalah sabotase ekologis.

Jika industri terus dibiarkan menggelontorkan limbah pekatnya, kita sedang menabung bencana keracunan massal bagi jutaan manusia yang meminum air dari aliran ini. Sungai memiliki batas kemampuan memulihkan diri (self-purification), dan batas itu telah lama dilangkahi.

# Fondasi Ekonomi Pemukiman

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sejarah mencatat bahwa peradaban besar Jawa Timur lahir dan tumbuh di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Kali Surabaya secara historis adalah ruang sosial-budaya tempat masyarakat berinteraksi, serta fondasi ekonomi yang menyediakan jalur perdagangan dan irigasi pertanian.

Sangat kontras dan menyakitkan saat menyaksikan mesin-mesin pabrik bergemuruh mencari keuntungan, truk logistik keluar masuk membawa pundi-pundi rupiah, sementara tepat di sampingnya, para petani dan nelayan tradisional harus bertaruh nyawa menggunakan air yang telah tercemar. Industri telah memindahkan beban biaya lingkungan (environmental cost) mereka kepada masyarakat. Manfaat ekonomi yang diklaim oleh korporasi-korporasi ini menjadi tidak ada artinya ketika mereka menghancurkan ruang hidup dan ekonomi lokal yang sudah bertahan lintas generasi di sepanjang tepian sungai.

#Lumpuhnya Mitigasi Bencana

Fungsi vital yang sering diabaikan dari Kali Surabaya adalah peran strategisnya sebagai benteng utama mitigasi bencana. Pemeliharaan DAS yang sehat adalah kunci agar wilayah sekitarnya terhindar dari siklus banjir bandang dan kekeringan ekstrem.

Investigasi kami di lokasi menemukan bahwa limbah padat dan cair yang dibuang bertahun-tahun telah memicu sedimentasi parah. Sedimen hitam kecokelatan mengendap tebal di dasar sungai, membuat kedalaman air menyusut drastis.

Ketika kapasitas tampung sungai dikebiri oleh limbah industri dan sampah plastik yang tersangkut di sela-sela vegetasi yang mati, maka banjir luapan tinggal menunggu waktu saat intensitas hujan meninggi. Merusak Kali Surabaya sama saja dengan meruntuhkan sistem pertahanan hidrologi Jawa Timur.

#Menuntut Tanggung Jawab

Data dari lokasi yang kami kumpulkan bukanlah bukan angka-angka pengujian semata. Warna air yang berubah pekat dan bau menyengat yang memaksa kami menutup hidung adalah pertanda bahaya yang sudah berbunyi nyaring. Pengawasan IPAL oleh pemerintah yang selama ini terkesan formalitas harus dirombak total menjadi penegakan hukum yang radikal dan transparan.

Pertanyaan mendasar yang harus kita ajukan sekarang adalah: sampai kapan kita membiarkan Kali Surabaya membayar harga dari keserakahan ekonomi industri? Pertumbuhan investasi tidak boleh ditukar dengan kematian ekosistem.

Jika industri tetap dibiarkan meracuni aliran ini tanpa sanksi tegas, maka masa depan Jawa Timur akan ikut membusuk bersama air Kali Surabaya yang perlahan kehilangan kehidupannya. Sudah saatnya kita berhenti menjadi saksi bisu dan mulai menuntut keadilan bagi sungai kita.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *