Lewati ke konten

AKSA Delapan Hari Ungkap 354 Kg Sampah, Simokerto Susun Strategi Selamatkan Kali Tebu

| 4 menit baca |Kali Tebu | 29 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • 50 rumah tangga mengikuti Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) selama delapan hari di Simokerto.
  • 354,58 kilogram sampah berhasil dipetakan sebagai dasar penyusunan strategi pengelolaan sampah berbasis data.
  • Sampah organik mendominasi 45,5 persen, sementara material yang dapat didaur ulang mencapai 34,5 persen.
  • Program Kampung MOZAIK disiapkan untuk mengurangi kebocoran sampah plastik menuju Kali Tebu dari sumbernya.
  • Hasil AKSA akan menjadi dasar brand audit dan dibahas dalam forum bersama pemerintah serta masyarakat.

#AKSA Jadi Dasar Penyusunan Strategi Pengelolaan Sampah

PROGRAM Analisis Karakteristik Sampah (AKSA) di RT 04/RW 13, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya, resmi berakhir pada Kamis (23/7/2026). Selama delapan hari, sebanyak 50 rumah tangga memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga untuk mengetahui jumlah, komposisi, serta karakteristik sampah yang dihasilkan.

Kegiatan yang berlangsung sejak 16 Juli itu merupakan bagian dari Program Kampung MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) yang diinisiasi ECOTON bersama para mitra. Tujuan program untuk menekan kebocoran sampah plastik ke Kali Tebu.

Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto dalam rilisnya mengatakan, hasil AKSA ini akan menjadi pijakan menentukan langkah penanganan sampah di tingkat kampung.

“Data yang diperoleh dari AKSA akan menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kampung, “ kata Tonis.

“Dengan mengetahui komposisi sampah yang dihasilkan masyarakat, intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran, mulai dari pengomposan sampah organik, pemilahan daur ulang, hingga pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai yang memicu timbulan sampah residu,”jelasnya.

Masih kata Tonis, melalui pengelolaan sampah sejak dari sumbernya ini, warga memisahkan sampah berdasarkan jenisnya.

“Mulai dari organik, plastik, kertas, logam, kaca, tekstil, popok sekali pakai hingga residu. Seluruh sampah kemudian ditimbang dan dicatat setiap hari sebagai bahan penyusunan strategi pengelolaan sampah berbasis data, “ ujar Tonis.

Stiker pemilahan sampah menandai konsistensi warga RW 13 Simokerto mendukung Program Kampung MOZAIK setiap hari. | Foto: Tonis Afrianto

#Sampah Organik Mendominasi, Potensi Pengurangan Sampah Masih Besar

Diketahui hasil AKSA selama delapan hari itu, menunjukkan total timbulan sampah rumah tangga mencapai 354,58 kilogram. Sampah organik menjadi komponen terbesar dengan persentase 45,5 persen, didominasi sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan material nabati lainnya.

Komponen terbesar berikutnya adalah sampah yang masih berpotensi didaur ulang sebesar 34,5 persen. Sementara itu, 13,2 persen berupa popok sekali pakai dan 6,8 persen merupakan sampah residu yang sulit dimanfaatkan kembali.

Data ini menunjukkan lebih dari tiga perempat sampah rumah tangga sebenarnya masih dapat dikelola melalui pemilahan, pengomposan, dan daur ulang. Pengelolaan dari tingkat rumah tangga dinilai mampu mengurangi volume sampah yang berpotensi mencemari Kali Tebu.

Sementara itu Lurah Simokerto, Arief Insani mengatakan, pola AKSA ini memberikan gambaran nyata, jika jenis sampah paling banyak dihasilkan masyarakat. Kata Insani, sehingga langkah pengurangannya dapat disusun lebih terarah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Semoga tahapan menuju Kampung MOZAIK seperti AKSA pilah sampah ini, bisa direplikasi RT dan RW lainnya, di Kelurahan Simokerto. Sehingga bisa menciptakan Kali Tebu lestari, asri, layak dinikmati oleh masyarakat, serta bebas dari kebocoran sampah plastik ke sungai,” ujarnya.

Hasil pemilahan sampah rumah tangga menunjukkan komitmen warga mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan melalui Kampung MOZAIK bersama. | Foto: Tonis Afrianto

#Brand Audit dan Konsultasi Publik Jadi Tahap Lanjutan Kampung MOZAIK

Usai AKSA, kegiatan pengelolaan sampah di wilayah Simokerto dipastikan tetap berlanjut. Hal ini disampaikan Fasilitator Kelurahan Simokerto sekaligus perwakilan Ketua RW 13, Mujiatiningsih.

Ia mengatakan warga akan meneruskan pemilahan sampah, pengangkutan secara terpilah, serta pengolahan sampah organik melalui sumur kompos yang telah tersedia.

“Setelah AKSA berakhir bukan berarti kegiatan pilah sampah berhenti. Kami akan terus melakukan pengangkutan terpilah dan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos melalui sumur kompos di RW 13 agar masyarakat mampu mengelola sampah hingga tuntas sejak dari sumber,” katanya.

Data AKSA selanjutnya akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan brand audit, yakni identifikasi merek-merek kemasan yang paling banyak ditemukan dalam sampah rumah tangga. Hasil identifikasi tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi produsen sekaligus memperkuat advokasi kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.

Selain itu, temuan AKSA akan dipaparkan dalam forum konsultasi publik yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Pemerintah Kelurahan Simokerto, kader Kampung Sayang Hijau (KSH), pengurus RT/RW, hingga pelaku usaha setempat.

“Forum ini diharapkan menghasilkan kesepakatan bersama mengenai langkah pengelolaan sampah berkelanjutan, sekaligus mendukung target Kampung MOZAIK dalam mengurangi kebocoran sampah plastik ke Kali Tebu, “ pungkas Tonis.***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *