HUJAN di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, belakangan bukan cuma bawa hawa adem, tapi juga kiriman partikel plastik super kecil yang nggak kelihatan kecuali pakai mikroskop. Mahasiswa K3 Universitas Sunan Gresik bersama ECOTON menemukan bahwa empat titik wilayah sudah kena “serbuk” mikroplastik.
Dari Wringinanom, yang merupakan wailayah Gresik bagian selatan sampai Manyar, wilayah Gresik bagian utara, seluruh sampel air hujan mengandung fiber, fragmen, dan filamen. Temuan ini bikin para mahasiswa sadar, udara Gresik ternyata punya cerita gelap yang jatuh pelan-pelan bersama hujan. Dan ceritanya tidak manis sama sekali.
#Hujan Datang, Partikel Plastik Mengintai

Kalau dulu hujan dianggap romantis—latar paling pas untuk konten slowmo dan bait galau—di Gresik sekarang hujan justru membawa kabar yang lebih getir dari rindu tak berbalas.
Himpunan Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (HMPK3) Universitas Sunan Gresik bersama tim Ecological Observation and Wetland Conservation (ECOTON) mendapati fakta bahwa air hujan di kota ini ternyata mengandung mikroplastik.
“Ya, mikroplastik. Partikel kecil bisa mengganggu hormon, memperparah pernapasan, dan mungkin juga mempercepat uban sebelum waktunya, “ kata Ayu Sakinah Putri Arrochman, penggagas kegiatan dari HMPK3, ketika sedang melakukan penelitian, Rabu, 19 November 2025 .
Penelitian yang dilakukan dari 16 – 19 November 2025 di empat titik ini, di antaranya Wringinanom, Bunder, Gresik Kota Baru (GKB), dan Manyar.
Sampel diambil langsung saat hujan turun, tanpa filter aesthetic, tanpa lighting tambahan. Setelah itu, sampel dianalisis secara visual di laboratorium bersama tim riset ECOTON.
“Hasilnya. Tidak ada satu pun lokasi yang bebas dari partikel plastik. Bahkan Manyar, yang mungkin selama ini dianggap adem karena anginnya dari arah laut, mencatat jumlah paling tinggi, “ jelas Ayu.

#Dari Wringinanom Sampai Manyar: Semua Kena “Gerimis Plastik”
Angkanya memang bikin alis naik sedikit dalam penelitian mereka. Di Wringinanom, misalnya, ditemukan 12 partikel per liter (dominan fiber), di GKB tercatat 18 partikel per liter dengan komposisi fiber, fragmen, dan filamen yang cukup seimbang.
“Bunder malah lebih tinggi lagi dengan 21 partikel per liter. Dan puncaknya dalam penelitian kami, Manyar menyentuh 25 partikel per liter, terdapat fiber, fragmen, dan filamen lengkap, “ ujar Ayu.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelFenomena ini bukan terjadi karena Gresik sedang viral lalu “dikirimi” polusi. Justru sebaliknya, polusi mikroplastik yang turun bersama hujan kemungkinan besar berasal dari aktivitas sehari-hari warga sendiri, termasuk pembakaran sampah terbuka yang masih sering dilakukan. Sisa pembakaran itu terbang ke udara, naik ke langit, lalu ikut turun lagi bersama rintik hujan. Mirip karma, tapi versi kimiawi.
#Ketika Mahasiswa K3 Turun Tangan: Dari Penasaran Jadi Penelitian Serius
Ayu juga mengaku awalnya hanya penasaran, setelah membaca berbagai media, bahwa hujan saat ini terlah terjadi fenomena dibarengi mikroplastik.
“Setelah mengetahui bagaimana mikroplastik bisa mengacaukan kesehatan organ tubuh. Rasa penasaran saya berubah jadi aksi nyata. Saya dan teman-teman turun langsung untuk mengambil sampel, “ucapnya. “Hasil awal membuktikan seluruh sampel air hujan sudah mengandung mikroplastik.”
Menurutnya, mahasiswa K3 harus paham kondisi lingkungan sebelum melahirkan rekomendasi yang masuk akal. “Kalau datanya nggak ada, solusinya cuma jadi imajinasi,” tambahnya. Dan ia benar, data selalu lebih valid daripada duga-duga tetangga grup WhatsApp.

#Peringatan Lingkungan yang Tak Bisa Di-snooze Lagi
Temuan ini bukan sekadar laporan kelas, tapi peringatan lingkungan yang cukup nyaring untuk didengar masyarakat, komunitas, maupun pemerintah daerah. “Kalau hujan saja sudah tercemar, berarti kualitas udara sedang tidak baik-baik saja, “ ucap Ayu lagi.
Mikroplastik, lanjut dia, di atmosfer bisa masuk lewat pernapasan atau air yang dikonsumsi. “Dampaknya tidak instan, tapi pelan-pelan seperti cicilan KPR, lama-lama terasa, “ kata sambil menganalogikan dan tersenyum getir.
Melalui penelitian ini, mahasiswa berharap ada langkah konkret dari berbagai pihak, kata Ayu. Pengurangan pembakaran sampah terbuka, monitoring kualitas udara, dan edukasi publik agar tidak panik tapi paham. Karena menghadapi mikroplastik tidak bisa hanya mengandalkan masker dan doa. Perlu strategi, aksi, dan kemauan untuk memperbaiki kebiasaan.
Di akhir ahir kalimat Ayu bilang, di balik temuan yang menggelitik dada ini, Gresik mendapat momentum penting, bahwa anak muda, kampus, dan lembaga lingkungan bisa bekerja bersama untuk membuka tabir polusi yang selama ini cuma lewat tanpa disadari. “Hujan memang tak bisa dihentikan. Tapi sumber polusinya, kita masih bisa, “ kata Ayu dengan nada pernuh harap.***