- BRIN dan ECOTON kaji cara edukasi bahaya mikroplastik tanpa turunkan minat masyarakat untuk makan ikan.
- Isu mikroplastik kini viral di kalangan Gen Z, BRIN cegah kepanikan yang hambat kampanye GEMARIKAN.
- Ancaman mikroplastik kini kian nyata dan belum ada regulasi, namun edukasi publik harus hindari kepanikan.
- Strategi komunikasi baru BRIN hadirkan fakta sains mikroplastik secara transparan tanpa mengorbankan gizi konsumsi ikan.
- ECOTON tegas menyatakan paparan mikroplastik berasal dari udara hingga makanan, publik butuh edukasi paling tepat.
MENINGKATNYA kesadaran publik mengenai bahaya mikroplastik, khususnya di kalangan generasi muda melalui media sosial, berpotensi memicu kekhawatiran berlebihan terhadap keamanan pangan laut. Merespons kondisi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru dan lembaga advokasi lingkungan ECOTON mengkaji strategi komunikasi publik yang seimbang.
Riset bertajuk “Eksperimen Dissonance Reduction pada Kampanye Kontradiktif: Ancaman Mikroplastik Versus Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan” ini bertujuan merancang edukasi risiko mikroplastik secara transparan, tanpa mengurangi minat masyarakat dalam mengonsumsi ikan melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN).
Ketua Tim Peneliti, Afred Suci, menjelaskan bahwa kajian ini berfokus pada dinamika persepsi Gen Z yang makin kritis terhadap isu lingkungan dan kesehatan.
“Kita mencoba mengaitkan dua isu ini, apakah isu mikroplastik yang berkembang di kalangan Gen Z melalui media sosial dapat mereduksi gerakan makan ikan. Yang kami khawatirkan akan muncul ketakutan,” ujar Afred saat berkunjung ke markas ECOTON di Wringinanom, Gresik, Jumat (31/7/2026).
#Sumber Paparan Mikroplastik Masih Kompleks
Dalam diskusi ilmiah di ruang utama, Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi, menekankan bahwa belum ada penelitian yang mengonfirmasi bahwa kemasan plastik menjadi sumber tunggal atau dominan masuknya mikroplastik ke tubuh manusia.
Berdasarkan temuan ECOTON, kontaminasi partikel kecil tersebut telah terdeteksi di berbagai lini lingkungan, termasuk udara di 11 kota besar, serta makanan dan minuman harian.
“Ada tiga sumber utama yang kami pelajari, yaitu udara, makanan, dan minuman. Belum ada penelitian yang secara spesifik menyebut sumber dominannya berasal dari kemasan plastik,” terang Prigi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
Ia menambahkan, material plastik yang terbuang ke alam tidak akan hilang, melainkan terus terdegradasi menjadi partikel mikro hingga nanoplastik. Kondisi ini makin krusial mengingat hingga saat ini pemerintah belum menerbitkan regulasi mengenai batas aman paparan mikroplastik bagi tubuh manusia.
#Edukasi Jujur Tanpa Memicu Kepanikan
BRIN mengakui bahwa studi mengenai dampak persepsi mikroplastik terhadap keberhasilan program pangan nasional seperti GEMARIKAN masih tergolong baru. Oleh karena itu, pendekatan lintas disiplin—menggabungkan sains lingkungan dan ilmu komunikasi publik—diterapkan untuk menghasilkan formula kampanye yang edukatif.
Afred menegaskan, luaran dari riset ini tidak bermaksud mengaburkan fakta atau menutupi ancaman bahaya mikroplastik bagi ekosistem.
“Masyarakat tetap berhak mendapatkan fakta ilmiah secara utuh. Namun, penyampaian informasinya harus terukur agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan yang memicu penurunan konsumsi gizi berimbang dari ikan,” pungkasnya.***