Lewati ke konten

Festival 3 Sungai Petakan Potensi Ekologi dan Budaya Sungai Balantieng di Bulukumba

| 4 menit baca |Ekologis | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Jelajah tujuh kilometer Sungai Balantieng memetakan potensi ekologi, budaya, sekaligus memperkuat kolaborasi pelestarian lintas komunitas Bulukumba.
  • Festival 3 Sungai membawa peserta menelusuri Balantieng untuk mendokumentasikan kekayaan hayati, budaya, dan lingkungan setempat bersama.
  • Penelusuran enam jam mengungkap flora, satwa lokal, serta peluang wisata ekologis berbasis konservasi di Balantieng Bulukumba.
  • Mahasiswa dan komunitas menemukan potensi keanekaragaman hayati serta warisan budaya sepanjang bantaran Sungai Balantieng yang terjaga.
  • Jelajah Sungai Balantieng menghasilkan pemetaan awal mendukung konservasi, penelitian, dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan bersama.

JELAJAH Sungai kembali digelar sebagai bagian utama dari rangkaian Festival 3 Sungai Kabupaten Bulukumba, Ahad (2/8/2026). Pada edisi penjelajahan kali ini, para peserta diajak menelusuri bantaran Sungai Balantieng  dengan tempuh jarak tujuh kilometer di Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale.

Seperti agenda pemetaan terdahulu pada Sungai Bijawang, eksplorasi Balantieng difokuskan pada pemetaan komprehensif terkait kondisi lingkungan hidup sekitar, terutama keanekaragaman hayati kawasan riparian.

Penjelajahan berlangsung selama enam jam, melintasi rentang waktu pukul 10.00 – 16.00 WITA. Berhasil mengungkap kekayaan flora, fauna, hingga potensi sosial budaya yang masih bertahan di sepanjang aliran sungai.

Rusmeliana Malik, mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Hasanuddin, di sela-sela kegiatan pengamatan mengungkapkan, partisipasinya dalam penjelajahan ini tidak hanya bertujuan untuk mengamati kondisi fisik bantaran sungai.

Lebih dari itu, kata dia, kegiatan bertujuan mengidentifikasi persoalan lingkungan serta dinamika sosial yang berkembang. Menurutnya, pemetaan potensi menjadi bagian krusial untuk mendukung upaya pelestarian Sungai Balantieng dalam jangka panjang.

“Potensi yang diamati meliputi keanekaragaman hayati, tanaman obat, tanaman pangan, rempah-rempah, nilai budaya lokal, hingga peluang ekonomi masyarakat yang berkelanjutan,” ujar Rusmeliana, sebagaimana dalam rilis yang dikirim ke TitikTerang, Senin, (3/8/2026).

Ia menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang nyata membangun jejaring lintas komunitas. “Kolaborasi bersama dinilai menjadi kunci utama menjaga keberlanjutan ekosistem sungai yang selama bertahun-tahun menopang kehidupan masyarakat sekitar,” tambahnya.

Diketahui, perserta terdiri dari gabungan mahasiswa lintas disiplin, komunitas pecinta sungai, pegiat lingkungan alam, relawan muda, Juga mahasiswa peserta KKN-Tematik 2026 Desa Barombong.

Peserta Jelajah Sungai Balantieng menyusuri bantaran untuk memetakan potensi ekologi, budaya, dan lingkungan. | Foto: Dok.

#Medan Berat Membuka Banyak Temuan Ekologis

Perjalanan menyusuri bantaran Sungai Balantieng. Tidak sepenuhnya berjalan mudah dirasakan peserta. Pasalnya, beberapa bagian bantaran dihiasi tebing curam, bebatuan ukuran besar, juga perakaran pohon yang menjulur rapat. Ditambah jalur sempit di sisi sungai yang memaksa seluruh peserta melangkah lebih hati-hati dan penuh kewaspadaan.

Namun, justru kondisi medan yang menantang itulah, memberikan pengalaman berbeda bagi peserta. Mereka bisa mengamati secara langsung perubahan variasi bentang alam, kerapatan vegetasi, sampai pola aktivitas harian masyarakat setempat.

Akhmad Ramadhan, mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Hasanuddin mengatakan, di sejumlah titik penjelajahan, vegetasi khas kawasan riparian ditemukan masih tumbuh cukup baik

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Di beberapa titik kami menemukan temulawak yang masih tumbuh liar di bantaran sungai. Tanaman ini masih dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai bahan pengobatan tradisional, sehingga menjadi salah satu potensi hayati yang penting untuk didokumentasikan,” ujar  Ramadhan.

Tak jauh dari lokasi, pohon-pohon kemiri mendominasi sebagian bantaran. Tanaman sumber minyak itu, masih tetap menjadi rempah penting memenuhi kebutuhan rumah tangga dan ekonomi masyarakat Bulukumba.

Selain flora, para peserta juga menjumpai rakkang-rakkang (satwa air lokal). Hewan ini dalam identifikasi peserta, masih banyak ditemui hidup aktif di aliran sungai.

“Keberadaan satwa air lokal ini, masih kami jumpai juga. Bisa dikatakan menjadi indikator biologis, bahwa kualitas habitat perairan Sungai Balantieng, masih mampu mendukung kehidupan berbagai spesies endemic, “ jelasnya.

Temuan-temuan penting ini, lanjut Ramadhan, kemudian ia catat dan didokumentasikan. Ini tujuannya sebagai bagian dari pemetaan lapangan. “Data ini diharapkan menjadi bahan awal penyusunan langkah pengelolaan dan konservasi Sungai Balantieng secara berkelanjutan, “ ucapnya.

Salah seorang peserta menunjukkan tanaman rempah yang ditemukan di bantaran Sungai Balantieng. | Foto: Dok.

#Sungai Menyimpan Jejak Budaya Masyarakat

Penjelajahan tidak berhenti pada pencatatan parameter ekologis. Peserta juga mendatangi kawasan Seppenge. Tempat ini telah lama dikenal masyarakat setempat, sebagai bagian vital dari warisan Sungai Balantieng.

Di lokasi Seppenge, aliran sungai menyempit dengan karakter arus yang relatif tenang dan jernih. Tempat ini menyimpan berbagai cerita dan narasi sejarah yang diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.

Bagi Indana Sulfa Ilmu Tanah Universitas Hasanuddin, perjalanan menysuri  Sungai Balantieng,  memperlihatkan sungai bukan bentang alam fisik semata. Di mana Sungai Balantieng merupakan ruang hidup. membentuk hubungan sosial, tradisi, dan identitas budaya masyarakat Bulukumba.

Kondisi air yang masih sangat jernih turut menjadi perhatian utama selama penjelajahan. Potensi ini membuka peluang besar bagi pengembangan wisata ekologis (ekowisata) yang tetap mengedepankan prinsip-prinsip konservasi dan perlindungan kawasan.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *