- Pemantauan Kali Tengah Gresik menemukan indikasi pencemaran berat dari limbah industri dan sampah domestik.
- Pengujian laboratorium menunjukkan amonia di saluran pembuangan melonjak tajam hingga 10,7 mg/L.
- Kadar oksigen terlarut anjlok hingga 1,2 mg/L, mengancam kehidupan seluruh biota perairan.
- Temuan busa putih, bau menyengat, serta ikan mati memperkuat dugaan pencemaran berlangsung lama.
- Pemulihan Kali Tengah membutuhkan pengawasan ketat industri dan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
Tim Observasi terdiri atas Zilva May Yiswa Sianipar selaku koordinator, bersama Lanties Giantdaru Gading Kuning, Sayidina Allisyiah Khanza, Kurniawan Trianggoro, Novearly Tria Azahra, dan Khonsaa Amalya Kartika. Seluruh anggota merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Universitas Brawijaya.
TIM investigasi mahasiswa menggelar pemantauan kondisi ekosistem Kali Tengah di Bambe, Driyorejo, Gresik. Kegiatan ini berfokus pada observasi lapangan dan pengambilan sampel air sungai.
Koordinator tim, Zilva May Yiswa Sianipar, menyatakan pemantauan bertujuan memetakan tingkat pencemaran air. Sampel yang diambil dari tiga titik langsung dibawa menuju laboratorium.
“Dari hasil observasi lapangan, ditemukan kondisi sungai yang memprihatinkan dengan indikasi pencemaran yang telah berlangsung dalam waktu lama,” ujar Zilva dalam rilisnya, Rabu, (5/8/2026).
Tim juga menmui tumpukan sampah domestik. Dalam catatan mereka, sampah memenuhi permukaan air dan bantaran sepanjang sungai. Serta menemukan tumpukan pembalut wanita bekas.
Indikasi limbah industri terlihat dari endapan gelap pada dasar sungai. Buih putih tebal dan bau menyengat menyelimuti sebagian besar lokasi pengamatan.
Warga setempat menyebutkan bahwa pencemaran sungai ini telah berlangsung bertahun-tahun. Aktivitas industri di sekitar kawasan disinyalir menjadi penyebab utama kerusakan.
“Dua hari yang lalu, Mbak, di kali ini banyak sekali busa berwarna putih dan baunya tidak sedap,” ungkap salah seorang warga sekitar. Keterangan tersebut membuktikan bahwa pembuangan limbah terjadi secara berulang.

#Temuan Lapangan Ekosistem Tak Sehat
Usai menyusuri daratan, tim melanjutkan pemantauan menggunakan perahu karet milik Marinir Karang Pilang. Dalam perjalanan, mahasiswa menemukan seekor ikan sapu-sapu mati di tepi air. Temuan ini menjadi petunjuk visual atas dalamnya tekanan lingkungan perairan.
Personel Marinir yang bertugas di lokasi turut membagikan pengamatannya terkait kondisi sungai. Mereka membandingkan kualitas air kawasan ini dengan sungai wilayah lain.
“Menurut saya, sungai di Surabaya ini yang paling tidak bagus kondisinya. Banyak limbah industri yang mencemari sehingga warna airnya berbeda dan baunya sangat menyengat. Sangat berbeda dengan sungai di wilayah timur yang lebih jernih karena masyarakat di sana lebih peduli terhadap lingkungan,” kata seorang anggota Marinir.
Menanggapi hal tersebut, tim mendorong langkah konkret pemulihan lingkungan secara mendasar. Kolaborasi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat menjadi kunci utama penanganan pencemaran.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Lonjakan Amonia dan Penurunan Oksigen
Tim menguji seluruh sampel air berdasarkan beberapa parameter kualitas lingkungan di laboratorium. Titik pengambilan mencakup kawasan hulu (upstream), saluran buangan (effluent), dan hilir (downstream).
Hasil pengujian mencatat parameter Dissolved Oxygen (DO) di saluran effluent sebesar 1,2 mg/L. Nilai oksigen di hilir sedikit meningkat menuju angka 1,8 mg/L. Angka ini tergolong sangat rendah untuk menopang kehidupan biota air.
Kandungan amonia pada titik pembuangan effluent melonjak hingga mencapai 10,7 mg/L. Angka ini jauh melampaui kadar hulu sebesar 2,9 mg/L. Kadar amonia hilir masih berada pada tingkat 4,14 mg/L.
Tingginya amonia menunjukkan dampak fatal dari limbah domestik dan industri. Senyawa kimia berbahaya ini berpotensi menjadi racun bagi ikan.
Nilai Total Dissolved Solids (TDS) pada effluent melonjak tajam mencapai 753 ppm. Kadar TDS hulu tercatat 278 ppm dan hilir sebesar 425 ppm. Peningkatan TDS menguatkan tingginya konsentrasi zat terlarut dalam aliran air.
Derajat keasaman (pH) masih berada dalam kisaran netral antara 7,25 hingga 8,07. Kadar logam besi dan tembaga dalam pengujian awal tergolong rendah. Suhu air sungai juga relatif stabil pada rentang 28,6 hingga 28,9°C.

#Urgensi Pengawasan dan Pemulihan Ekosistem
Secara keseluruhan, hasil laboratorium memperjelas temuan visual selama observasi lapangan berlangsung. Saluran effluent terbukti menjadi kontributor utama pencemaran di Kali Tengah.
Rendahnya oksigen terlarut dan tingginya amonia berjalan lurus dengan temuan ikan mati. Kondisi buruk ini mengancam keseimbangan ekosistem dan kesehatan warga sekitar.
Temuan ini, tim mendesak penerapan pengawasan ketat terhadap pembuangan limbah industri. Masyarakat juga diimbau untuk berhenti membuang sampah domestik ke aliran sungai.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat memegang peranan sangat krusial. Pemulihan Kali Tengah memerlukan komitmen bersama agar sungai kembali sehat.***