Lewati ke konten

Festival Tiga Sungai Bulukumba: 500 Kg Sampah Diangkut, Gerakan Jaga Sungai Nusantara Resmi Dimulai

| 3 menit baca |Sorotan | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Sebanyak 500 kilogram sampah diangkut dari Sungai Bialo dalam aksi bersih melibatkan komunitas dan pelajar.
  • Gerakan Jaga Sungai Nusantara dimulai dari Sungai Bialo, Bulukumba, melibatkan komunitas lokal dan masyarakat.
  • Festival Tiga Sungai Bulukumba mendorong pemuda dan warga memperkuat kesadaran bersama menjaga ekosistem sungai.
  • Pelajar dan mahasiswa mengikuti aksi bersih Sungai Bialo sekaligus mendapat edukasi mengenai ancaman mikroplastik.
  • Komunitas lokal didorong menjadi garda terdepan menjaga sungai melalui gerakan Jaga Sungai Nusantara.

 

SEBANYAK 500 kilogram sampah berhasil diangkut dari Sungai Bialo, Kabupaten Bulukumba, dalam aksi bersih sungai yang berlangsung pada Sabtu (8/8/2026). Aksi ini merupakan bagian dari gelaran tahun kedua Festival Tiga Sungai Bulukumba yang diinisiasi oleh Komunitas Peduli Sungai Bulukumba sejak 2025.

Kegiatan melibatkan kolaborasi lintas elemen, mulai dari komunitas lokal, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai. Lebih dari sekadar aksi pembersihan rutin, momentum ini juga menandai dimulainya gerakan lintas daerah bertajuk Jaga Sungai Nusantara.

Panitia Festival Tiga Sungai, Aidil Faizin, menjelaskan festival ini dirancang sebagai ruang edukasi publik untuk meningkatkan kepedulian terhadap ancaman pencemaran air.

“Ini menjadi sarana komunitas memberikan informasi kepada masyarakat dan sekolah. Kami mengajak mereka memahami pentingnya menjaga sungai dari persoalan sampah,” ujar Aidil.

Rangkaian Festival Tiga Sungai sendiri telah bergulir sejak 19 Juli dan dijadwalkan berakhir pada 9 Agustus 2026. Agenda diawali dengan kegiatan jelajah di tiga sungai utama Kabupaten Bulukumba, yakni Sungai Bialo, Bijawang, dan Balantieng.

Menjaga sungai adalah tanggung jawab bersama, melibatkan masyarakat dan generasi muda untuk melindungi ekosistem perairan. | Foto: Fully Syafi

Jelajah bertujuan mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati, sekaligus mendokumentasi berbagai persoalan lingkungan di sepanjang aliran sungai. Dokumentasi itu akan dijadikan bahan edukasi.

Pada puncak kegiatan Sabtu, (1/8/2026) lalu, para peserta mengikuti serangkaian workshop lingkungan, pameran, dan praktik pembuatan eco-enzyme. Bukan itu saja, digelar pula aksi bersih sungai, serta pembekalan edukasi mengenai bahaya mikroplastik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pelibatan generasi muda menjadi salah satu fokus utama agenda ini. Aisyah Afiqah, siswi SMP Negeri 5 Bulukumba, mengaku bersyukur dapat berkontribusi langsung memungut sampah di Sungai Bialo. Sementara itu, Fadilah Sjaga, mahasiswa Biologi Universitas Hasanuddin yang tengah menjalani KKN Gelombang 116 di Desa Bialo, menyebut kegiatan ini memberikan pemahaman teknis yang krusial.

“Materi mengenai mikroplastik membantu kami mengenali karakter sampah secara lebih spesifik, termasuk membedakan persoalan sampah makro dengan ancaman mikroplastik yang lebih kasat mata,” kata Fadilah.

#Gerakan Nasional Berbasis Komunitas

Aksi pemulihan sungai di Bulukumba ini turut mendapat perhatian nasional. Pendiri ECOTON sekaligus Ketua Perkumpulan Telapak, Prigi Arisandi, menegaskan, Sungai Bialo dipilih sebagai titik awal peluncuran gerakan Jaga Sungai Nusantara.

Pemuda dan siswa mengikuti aksi bersih Sungai Bialo dalam rangkaian Festival Tiga Sungai Bulukumba. | Foto: Fully Syafi

“Jaga Sungai Nusantara kita mulai dari Kabupaten Bulukumba. Gerakan ini melibatkan komunitas dan masyarakat untuk menjaga sungai mereka,” kata Prigi. Gerakan ini, masih kata Prigi, dirancang untuk menjangkau berbagai wilayah sungai di Indonesia “Komunitas lokal harus menjadi garda terdepan menjaga sungai mereka. Jaga Sungai Nusantara dimulai dari Bulukumba dan akan bergerak ke seluruh sungai di Indonesia,” jelas Prigi.

Sementara itu, Syahrul, panitia Festival Tiga Sungai, menilai forum ini penting untuk mempertemukan pemuda dan warga lokal. Menurutnya, pertemuan itu menjadi ruang untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga sungai.

“Festival ini menjadi wadah bagi pemuda dan masyarakat lokal untuk bersama-sama menjaga sungai. Dari sini, kesadaran kolektif dan semangat menjaga sungai bisa terus tumbuh,” ujar Syahrul.

Rangkaian festival ditutup pada Ahad (9/8/2026), melalui Dialog Nasional tentang hak atas sungai dan peran pemuda dalam menjaga ekosistem perairan Nusantara. “Perlindungan ekosistem sungai tidak boleh menunggu sampai kerusakannya parah. Upaya menjaga sungai harus dimulai dengan memulihkan hubungan masyarakat dengan sungai yang menjadi bagian dari kehidupan mereka,” tandas Syahrul.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *