Lewati ke konten

LESBUMI Serahkan Maklumat Kebudayaan, PWNU Jatim Tegaskan Pentingnya Menjaga Identitas Menghadapi Perubahan Zaman

| 4 menit baca |Sorotan | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Fio Atmadja
  • LESBUMI menyerahkan Maklumat Kebudayaan kepada PWNU Jatim sebagai pedoman menjaga identitas bangsa melalui kebudayaan.
  • PWNU Jatim menilai LESBUMI memiliki peran strategis menjaga nilai kebudayaan dan memperkuat identitas nasional.
  • Maklumat Kebudayaan lahir dari Muktamar Kebudayaan Indonesia di Tambakberas Jombang pada Juni 2026.
  • Tema “Kembali ke Akar” mengajak masyarakat menguatkan kesadaran manusia sebagai subjek dalam kehidupan.
  • Para kiai meminta LESBUMI menjaga keharmonisan masyarakat melalui kebudayaan, agama, ilmu pengetahuan, dan seni.

LESBUMI PWNU Jawa Timur menyerahkan Maklumat Kebudayaan kepada PWNU Jatim. Penyerahan berlangsung di Surabaya, Selasa, 11 Agustus 2026. Dokumen tersebut memuat gagasan kebudayaan dengan tema “Kembali ke Akar”.

Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz menerima maklumat tersebut. Ia menilai kebudayaan berperan penting menjaga identitas bangsa.

“Kami menyambut baik hasil Muktamar Kebudayaan dengan Maklumat Kebudayaan,” kata Kiai Kikin. Ia menyebut gagasan tersebut menunjukkan visi profetik NU melalui LESBUMI.

#Menjaga Identitas Bangsa Melalui Kebudayaan

Menurut Kiai Kikin, eksistensi NU berkaitan dengan identitas bangsa. Nilai kebangsaan juga tumbuh melalui kecintaan terhadap Tanah Air.

Karena itu, LESBUMI memiliki mandat menjaga nilai-nilai kebudayaan masyarakat. Peran tersebut sekaligus memperkuat identitas bangsa menghadapi perubahan zaman.

Kiai Kikin juga menyinggung Qonun Asasi Nahdlatul Ulama. Menurutnya, nilai perjuangan KH Hasyim Asy’ari bersifat universal.

Nilai tersebut, kata dia, menjadi bagian penting menjaga identitas bangsa. Pernyataan itu disampaikan saat menerima Ketua LESBUMI PWNU Jatim Riadi Ngasiran.

Penyerahan berlangsung disaksikan sejumlah jajaran PWNU Jawa Timur. Mereka antara lain KH Abdul Matin Djawahir dan Prof Kacung Marijan.

Hadir pula KH M Taufiq Jalil dan KH Noor Sodiq Askandar. Prof Babun Suharto turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Maklumat Kebudayaan berasal dari Muktamar Kebudayaan Indonesia LESBUMI NU. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

Muktamar berlangsung pada 12 hingga 14 Juni 2026. Tema “Kembali ke Akar” menjadi gagasan utama forum kebudayaan tersebut.

#Pesan Kiai untuk Menjaga Keharmonisan Masyarakat

KH Abdul Matin Djawahir mengingatkan LESBUMI menjaga keharmonisan masyarakat. Keragaman budaya membutuhkan pendekatan yang mengayomi seluruh kelompok.

Menurutnya, kebudayaan juga harus membawa nilai keagamaan dan kesadaran spiritual. Nilai tersebut dapat ditelusuri dari perjuangan Islam dan Walisanga.

“Kita bersama-sama menjaga keutuhan bangsa dan negara di tengah perubahan zaman,” tutur Kiai Matin. Ia juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban.

Sementara itu, Prof Kacung Marijan menyoroti makna huruf ba’. Ia mengajak melihat makna tersebut melalui perspektif tauhid.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak berhenti menjaga peradaban. Tata nilai sosial juga harus berjalan bersama upaya menghindari kebiadaban.

Menurut Kacung, keserakahan menjadi salah satu persoalan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, kebudayaan perlu menghadirkan nilai yang membatasi perilaku tersebut.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#“Kembali ke Akar” dan Tantangan Kebudayaan

Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran menjelaskan makna tema tersebut. Menurutnya, akar manusia terletak pada kesadaran dirinya sendiri.

“Kembali ke akar adalah kembali kepada kesadaran kita,” ujarnya. Manusia, kata Riadi, harus memahami dirinya sebagai subjek kehidupan.

Riadi juga menegaskan seni tidak hanya menjadi ruang para budayawan. Seni merupakan bagian kehidupan seluruh umat manusia.

Ia merujuk pemikiran Ketua LESBUMI PBNU KH Muhammad Jadul Maula. Kebudayaan memiliki ratusan pemaknaan berdasarkan berbagai perspektif.

Namun, kebudayaan pada akhirnya menjadi jalan menghadapi persoalan bangsa. Riadi melihat persoalan tersebut semakin kompleks dalam kehidupan modern.

Menurutnya, keindahan hanya menjadi salah satu unsur dalam seni. Seni juga memberikan pengalaman batin sekaligus menghadirkan cara membaca zaman.

Riadi menyebut kebudayaan idealnya memuat tiga unsur utama kehidupan. Ketiganya mencakup rasionalitas, spiritualitas, dan rasa.

Rasionalitas berhubungan dengan ilmu pengetahuan sebagai salah satu pilar. Spiritualitas bertumpu pada agama sebagai dasar kehidupan manusia.

Sementara itu, rasa hadir melalui seni dan pengalaman kebudayaan. Ketiganya membutuhkan kesatuan agar gagasan abstrak menjadi kenyataan.

Muktamar Kebudayaan juga membahas persoalan sosial dalam kehidupan modern. LESBUMI menyoroti korupsi sebagai salah satu penyakit kehidupan masyarakat.

Selain itu, forum membahas rasa yang tidak tersalurkan manusia. Persoalan tersebut dinilai berkaitan dengan tekanan kehidupan masyarakat modern.

Maklumat Kebudayaan kemudian menjadi hasil refleksi atas persoalan tersebut. LESBUMI menempatkannya sebagai pijakan menghadapi tantangan kebudayaan ke depan.

Penyerahan maklumat berlangsung menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Forum tersebut dijadwalkan berlangsung di Tambakberas pada 27–31 Agustus 2026.

Lokasi tersebut memiliki hubungan historis dengan perjalanan NU. Pondok Pesantren Tambakberas didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah.

Karena itu, “Kembali ke Akar” memiliki konteks sejarah kuat. Tema tersebut menghubungkan kebudayaan dengan kesadaran atas perjalanan NU.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *