Lewati ke konten

Air Baku Kalimas Tercemar Ekstrem, PDAM Surya Sembada Surabaya Kewalahan Olah Air Bersih

| 4 menit baca |Sorotan | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • PDAM Surya Sembada mengakui kualitas air baku Sungai Surabaya menurun drastis akibat polutan ekstrem.
  • Air baku sempat berkualitas di atas kelas empat sehingga pengolahan PDAM kewalahan.
  • Busa dan bau muncul akibat tingginya kandungan organik dalam air baku.
  • PDAM memperketat pengolahan, menambah disinfektan, serta membuang air melalui washout
  • Pelanggan diminta membuang sementara air berbusa dan berbau sebelum menggunakannya kembali.

PDAM Surya Sembada Kota Surabaya buka suara soal air keruh pelanggan. Manajemen menyebut penyebabnya ialah lonjakan polutan ekstrem dalam air baku. “Air baku yang masuk instalasi kami tinggi polutan,” ujar Manajer Tata Usaha dan Humas PDAM Surya Sembada, Louis Andilun Gatu, Senin, (7/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat proses pengolahan air sangat kewalahan. Ia menjelaskan cuaca ekstrem awalnya diperkirakan tidak memengaruhi kapasitas air. Namun, evaluasi terbaru menunjukkan persoalan justru terjadi pada kualitas air. “Kualitasnya yang menurun, volumenya juga menurun,” katanya menjelaskan kondisi tersebut.

Akibatnya, konsentrasi pencemar dalam air baku menjadi semakin tinggi. Menurut PDAM, kondisi serupa pernah terjadi pada sekitar 2010. “Ini ekstrem pencemaran di 2010, sekarang kembali lagi,” ujarnya.

Pada kondisi sebelumnya, instalasi pengolahan masih mampu mengendalikan pencemar. PDAM menyebut penanganan dilakukan melalui penambahan bahan kimia dan aerasi. “Kita tambah dosis, kita tambah blower,” katanya menjelaskan.

Langkah tersebut sebelumnya dinilai cukup menjaga proses produksi tetap berjalan. Namun, kondisi terbaru berbeda karena pencemar masuk hingga tahap berikutnya. “Semalam teman-teman sampai kewalahan,” katanya menggambarkan situasi produksi.

#Air Baku Melebihi Kualitas Kontrak

PDAM menjelaskan sumber air bakunya berasal dari sistem penyediaan air baku. Air tersebut dibeli PDAM melalui kerja sama dengan PJT I. “Kami air beli, tidak mengambil saja,” masih kata Louis.

BACA JUGA:  Menyusuri Kali Surabaya, Marcellina Santoso Gugah Kesadaran Generasi Muda Jaga Sungai

Menurutnya, air baku yang dikontrak seharusnya memenuhi kualitas kelas dua. “Yang kami dapat sekarang bisa tiga, bisa empat,” ujarnya. Bahkan, kualitas air disebut sempat berada di atas kelas empat. “Semalam itu bisa lebih dari empat, tidak layak sebenarnya,” katanya.

Kondisi tersebut kemudian memperberat proses pengolahan sebelum air didistribusikan. Perwakilan PDAM menjelaskan sumber air berada di kawasan Sungai Surabaya. Air tersebut kemudian mengalir menuju kawasan Karangpilang sebelum pengolahan.

Ia membandingkan kondisi air antara kawasan Ngagel dan Karangpilang. Menurutnya, kawasan Ngagel mendapat pengaruh proses aerasi alami. “Di Ngagel ada Gunung Sari, ada Dam Jagir,” ujarnya menjelaskan.

Keberadaan bangunan air disebut membantu terjadinya proses aerasi secara alami. “Sehingga di situ terjadi proses aerasi normal, alamiah,” katanya. Proses tersebut membuat kondisi air relatif berbeda dibandingkan bagian lainnya.

#Busa Masuk Jaringan, PDAM Lakukan Penggelontoran

Sebelumnya, pencemar biasanya dapat dihentikan pada tahap pengendapan pertama. “Air kotor bisa kami hentikan di pengendapan pertama,” ujar perwakilan PDAM. Air tersebut biasanya tidak sampai masuk tahap clarifier dan filtrasi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Namun, kondisi terbaru membuat pencemar melewati tahapan pengendalian tersebut. “Semalam benar-benar masuk ke clarifier, tambahan kimia tidak bisa menghentikan,” katanya. Pencemar kemudian mencapai filter sebagai tahap penyaringan terakhir. “Ketika masuk filter, itu penyaringan kami yang terakhir,” ujarnya.

Air yang kemudian keluar dari proses tersebut berpotensi masuk jaringan distribusi. PDAM membantah busa muncul akibat penggunaan bahan kimia berlebihan. “Bukan karena banyaknya bahan kimia yang masuk,” katanya menegaskan.

BACA JUGA:  “Lapor Polisi, Polisi Dilimpahkan ke Polisi”: Kasus Jurnalis Dianiaya, KAJ Jatim Desak Polda Turun Gunung

Menurutnya, busa justru berkaitan dengan tingginya kandungan organik. “Busa itu ditimbulkan karena organik yang muncul tinggi,” ujarnya. Untuk mengantisipasi air tercemar masuk lebih jauh, PDAM melakukan penggelontoran.

Tim pelayanan disebut membuka seluruh saluran washout pada jaringan terdampak. “Yang sudah kadung masuk pipa jaringan, dibuang semua,” katanya. Sementara jaringan dengan air yang dinilai bersih tetap dipertahankan.

PDAM juga menambah disinfektan pada jaringan yang masih terdampak pencemar. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan risiko mikroorganisme dari bahan organik. “Itu kami benar-benar tambah disinfektan,” masih ujar Louis.

Bau kaporit yang dirasakan pelanggan disebut berkaitan dengan penambahan disinfektan. Menurut PDAM, disinfektan diberikan agar bakteri dari bahan organik mati. “Bakteri-bakteri organiknya semuanya kami kurangi dan matikan,” katanya.

PDAM meminta pelanggan tidak langsung menggunakan air berbusa atau berbau. “Memang sebaiknya digelontor, dibuang saja dulu,” ujarnya. Pengelolaan kondisi tersebut dilakukan sejak malam hingga proses pemulihan. “Teman-teman dari produksi sampai pelayanan semuanya lembur,” katanya.

Air dalam jaringan terdampak kemudian dibuang untuk membersihkan saluran distribusi. PDAM menyatakan langkah tersebut diperlukan sebelum pelayanan kembali normal.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *