- Pengukuran Posko Ijo menemukan pH Kali Tengah mencapai 4,21 setelah kebakaran gudang Wings Driyorejo.
- Busa muncul pascakebakaran, sementara ikan Kali Tengah dilaporkan mabuk dan mengalami gangguan akibat perubahan kualitas air.
- Tiga titik pemantauan Posko Ijo menunjukkan kondisi air asam, termasuk saluran pembuangan PT Wings Surya.
- PJT I meningkatkan debit Bendung Mlirip dari 20 menjadi 25 meter kubik per detik.
- Posko Ijo mendesak pengujian laboratorium menelusuri material pascakebakaran hingga dampaknya terhadap Kali Surabaya.
KEBAKARAN Gudang 2 dan Gudang 3 PT Wings Surya menyisakan persoalan lingkungan. Beberapa hari setelah api padam, busa muncul di Kali Tengah dan ikan dilaporkan mabuk. Pengukuran Posko Ijo menemukan pH air mencapai 4,21 pada salah satu titik pemantauan.
Ketua Posko Ijo, Ruslli Mustika Adya, mengatakan temuan itu perlu diperiksa menyeluruh. Pemantauan dilakukan pada tiga titik Kali Tengah di sekitar kawasan industri Driyorejo. “Kami menemukan indikasi gangguan kualitas air di tiga titik Kali Tengah,” ujar Rulli, Senin (7/9/2026).
Kebakaran terjadi Jumat (4/9/2026) di Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Gresik. Api membakar Gudang 2 dan Gudang 3 PT Wings Surya yang menyimpan bahan baku produksi deterjen.
Kedua gudang berukuran sekitar 29 × 30 meter. Kapasitas penyimpanannya mencapai sekitar 2.000 ton bahan baku untuk kebutuhan produksi deterjen. Karena material terbakar merupakan bahan kimia, pemadaman dilakukan menggunakan foam.
Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran itu berdasarkan informasi yang tersedia. Namun, setelah proses pemadaman, muncul persoalan baru ketika busa terlihat di Kali Tengah.
Aliran Kali Tengah kemudian menjadi perhatian karena bermuara ke Kali Surabaya. Rulli menilai perubahan kualitas air harus ditelusuri dari kawasan sumber hingga bagian hilir.

#Tiga Titik Kali Tengah Menunjukkan Air Asam
Pemantauan Posko Ijo dilakukan pada tiga lokasi Kali Tengah. Titik pertama berada di belakang PT Multimanao/PT Daesang dengan pH 4,23. Suhu air tercatat 25,0°C, sementara parameter lain menunjukkan 13,2 mg/L dan 15,1 mg/L.
Alat juga mencatat angka 29,5 persen dan suhu 29,4°C. Rulli mengatakan hasil itu menjadi bagian dari pemantauan awal kondisi Kali Tengah. Ia meminta hasil lapangan diverifikasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Titik kedua berada di saluran pembuangan PT Wings Surya. Pengukuran menunjukkan pH 4,7 dengan suhu 26,0°C. DO tercatat 12,1 mg/L, sedangkan CD/TDS mencapai 12,9.
Salinitas pada titik itu tercatat 30,7. Alat juga menampilkan angka 30,4 pada parameter Hardness/Resistance. Rulli menilai saluran pembuangan perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut.
Titik ketiga berada di Jembatan Cangkir. Pengukuran menunjukkan pH 4,21 dan suhu 25,0°C. DO tercatat 10,56 mg/L, sedangkan CD/TDS mencapai 13,3.
Salinitas tercatat 30,7, sementara parameter terakhir berada sekitar 30,2. Menurut Rulli, hasil pengukuran itu memperkuat kebutuhan pemeriksaan lanjutan.
Nilai pH 4,21 menunjukkan kondisi air sangat asam. Namun, hasil pengukuran lapangan belum cukup membuktikan sumber pencemaran. “Data lapangan harus diperiksa dengan pengujian laboratorium yang representatif,” kata Rulli.
Menurut dia, pengambilan sampel perlu dilakukan berulang pada lokasi berbeda. Parameter pengujian juga harus disesuaikan dengan material yang terbakar. Langkah itu penting untuk memastikan hubungan kebakaran dengan perubahan kualitas air.

#PJT I Tingkatkan Debit dan Ambil Sampel
Perubahan kualitas air juga mendapat perhatian Perum Jasa Tirta I (PJT I). Pada 6 September 2026, PJT I menyatakan melakukan sejumlah langkah setelah muncul busa putih di Kali Surabaya.
PJT I meningkatkan debit dari Bendung Mlirip sekitar 20 menjadi 25 m³/detik. Penambahan debit dilakukan untuk membantu penggelontoran dan mempercepat pemulihan kualitas air Kali Surabaya. Pengaturan pasokan tambahan juga dilakukan melalui sistem Waduk Sutami.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPetugas PJT I mengambil sampel pada lima lokasi pemantauan. Lokasi itu meliputi Hulu Kali Tengah, Muara Kali Tengah, intake Karangpilang, Gunungsari, dan intake Ngagel.
Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Brantas 3 PJT I, Agung Wicaksono, mengatakan pemantauan dilakukan secara intensif. Menurut Agung, langkah operasional dijalankan sejak informasi penurunan kualitas air diterima.
“Debit dari Mlirip ditingkatkan dari 20 m³/detik menjadi 25 m³/detik,” ujar Agung dalam rilis yang dikirim, Senin (7/9/2026). Tim juga mengambil sampel dan memantau kualitas air pada lima titik.
PJT I juga menutup sementara Pintu Air Wonokromo. Langkah itu dilakukan untuk mencegah aliran terdampak masuk ke Kali Mas. Aliran kemudian diarahkan melalui Kali Wonokromo selama penanganan berlangsung.
PJT I menyebut penurunan kualitas air diduga berkaitan dengan kegiatan pemadaman kebakaran. Proses pemadaman menggunakan foam di gudang bahan baku kawasan industri Driyorejo. Namun, keterkaitan itu masih perlu dibuktikan melalui hasil pengujian kualitas air.
Kondisi busa di Kali Surabaya dilaporkan mulai membaik. Pada Minggu malam hingga Senin (7/9/2026), busa disebut tidak lagi terlihat. PJT I tetap menyiapkan pengambilan sampel ulang untuk membandingkan perubahan kualitas air.

#Hilangnya Busa Tak Mengakhiri Investigasi
Rulli meminta investigasi tidak berhenti ketika permukaan sungai kembali terlihat normal. Menurut dia, zat tertentu dapat tetap berada di air meskipun busa sudah menghilang. Material juga dapat terbawa arus, mengendap, atau mengalami perubahan kimia.
“Sampel hulu, saluran pembuangan, muara Kali Tengah, hingga Kali Surabaya perlu dibandingkan,” tegas Rulli. Perbandingan itu diperlukan untuk melihat pola perubahan kualitas air setelah kebakaran.
Investigasi juga harus menjawab ke mana material pascakebakaran mengalir. Pemeriksaan perlu mengidentifikasi kandungan bahan dalam air secara spesifik. Dampaknya terhadap ikan dan ekosistem sungai juga perlu diuji.
Kali Surabaya memiliki fungsi penting sebagai sumber air baku masyarakat. Karena itu, gangguan kualitas air di Driyorejo memiliki konsekuensi hingga wilayah Surabaya. Rulli menilai perlindungan sumber air harus menjadi prioritas penanganan pascakebakaran.
Pertanyaan penting kini bukan hanya penyebab kebakaran gudang. Publik juga perlu mengetahui dampak material terbakar dan sisa pemadaman. Termasuk kemungkinan limpasan yang masuk ke Kali Tengah dan bergerak menuju Kali Surabaya.
Pertanyaan itu hanya dapat dijawab melalui pemeriksaan ilmiah dan transparan. Hasil laboratorium perlu dibuka agar masyarakat mengetahui kondisi sebenarnya. Pemeriksaan juga harus menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Posko Ijo, pengawasan harus berlanjut sampai kondisi sungai benar-benar terverifikasi. “Masyarakat berhak mengetahui kondisi sungai dan keamanan sumber air,” ujar Rulli.
Pascakebakaran Gudang Wings, busa mungkin telah menghilang dari permukaan sungai. Namun, hilangnya busa tidak otomatis membuktikan air telah pulih. Yang perlu dipastikan sekarang ialah kandungan air, dampaknya terhadap ekosistem, serta keamanan Kali Surabaya sebagai sumber air baku.***