Inventarisasi terbaru menunjukkan biodiversitas ikan di Sungai Brantas dan Kali Surabaya terus menyusut akibat pembangunan, pencemaran, serta perubahan habitat.
Seabad terakhir menjadi periode krusial bagi nasib ikan-ikan asli di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Rekonstruksi sejarah lingkungan, perkembangan pemanfaatan sungai, dan hasil inventarisasi ilmiah menunjukkan tren yang konsisten: kekayaan spesies ikan air tawar Jawa Timur terus mengalami penyusutan dari dekade ke dekade.
Temuan paling mutakhir memperlihatkan bahwa sebagian spesies yang dahulu umum ditemukan kini semakin langka. Sejumlah ikan asli yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari ekosistem Brantas kini hanya ditemukan dalam jumlah terbatas, bahkan sebagian mulai menghilang dari lokasi yang sebelumnya menjadi habitat utama.
Perbandingan Data Spesies Asli
- Sungai Brantas (Inventarisasi 2021–2022): Mencatat 42 spesies ikan asli yang tergolong dalam 35 genus dan 21 famili.
- Kali Surabaya (Penelitian 2026): Menemukan hanya 35 spesies ikan asli dari 31 genus dan 17 famili.
Data tersebut tidak sekadar menunjukkan jumlah spesies yang tersisa. Bagi para peneliti, angka itu merupakan penanda perubahan ekologis yang berlangsung selama lebih dari satu abad.
Veryl Hasan, Ketua Tim Inventarisasi Ikan Brantas dari Universitas Airlangga, dalam publikasinya di jurnal Biodiversitas (Volume 23, Nomor 11, November 2022) menjelaskan bahwa informasi mengenai habitat dan interaksi ekologis ikan menjadi kebutuhan mendesak untuk menentukan arah konservasi di masa depan:
“Informasi mengenai penggunaan habitat dan interaksi ekologi ikan di Sungai Brantas sangat diperlukan segera.”
Pernyataan itu menjadi kian relevan ketika sejarah panjang DAS Brantas ditelusuri kembali. Perubahan yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai kebijakan pembangunan, perubahan tata guna lahan, industrialisasi, dan pertumbuhan perkotaan sejak awal abad ke-20.
#Dari Sungai Alami Menuju Lanskap Rekayasa Manusia
Pada awal 1900-an hingga sekitar 1930, Sungai Brantas masih didominasi karakter alami. Vegetasi riparian tumbuh lebat di sepanjang bantaran, rawa banjir musiman masih berfungsi, dan konektivitas antara hulu serta hilir belum banyak terganggu.
Dalam kondisi itu, berbagai spesies ikan lokal berkembang dengan baik. Ikan wader, bader, tawes, nilem, baung, sidat, gabus, uceng, hingga kelompok mahseer Jawa (seperti ikan dewa dan tambra) masih relatif mudah ditemukan. Migrasi ikan berlangsung tanpa banyak hambatan karena jalur pergerakan dari daerah pegunungan menuju dataran rendah tetap terbuka sepanjang tahun.
Kronologi Perubahan Habitat:
- Dekade 1920-an (Kolonial Hindia Belanda): Pemerintah memperluas jaringan irigasi, bendung, pintu pengatur air, dan saluran distribusi. Langkah ini mengubah tata air dan memicu konversi lahan, sehingga mengurangi rawa banjir musiman yang berfungsi sebagai area asuhan (nursery ground) alami bagi larva dan ikan muda.
- Periode 1950–1970 (Revolusi Hijau): Intensifikasi pertanian membawa peningkatan penggunaan pupuk sintetis dan pestisida. Banyak lahan basah dan anak sungai dikonversi menjadi area persawahan, melenyapkan tempat berlindung ikan. Meski spesies sensitif mulai tertekan, dominasi tawes, nilem, wader, baung, dan gabus masih terjaga, dan hasil tangkapan nelayan sungai tetap tinggi.
- Dekade 1970-an (Fase Industrialisasi): Karakter ekologi Brantas berubah total akibat masifnya pembangunan kawasan manufaktur.
-

Potret keragaman ikan air tawar yang tercatat dalam inventarisasi ilmiah Sungai Brantas. Dokumentasi ini merekam puluhan spesies yang masih bertahan, sekaligus menjadi pengingat atas perubahan ekologi yang terus berlangsung di sepanjang aliran sungai. | Capture jurnal
#Industrialisasi Mengubah Wajah Ekologi Brantas
Periode 1970–1985 menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah lingkungan Brantas. Kawasan industri berkembang pesat di Malang, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, hingga Surabaya. Di balik dampak ekonomi yang besar, ekspansi ini menciptakan tekanan baru karena limbah cair mulai masuk ke berbagai segmen sungai, menurunkan kualitas air di kawasan hilir secara bertahap.
Hal ini diperkuat oleh penelitian Seno Adi, Ingo Jänen, dan Tim C. Jennerjahn dalam artikel History of Development and Attendant Environmental Changes in the Brantas River Basin, Java, Indonesia, since 1970 yang dipublikasikan di Sage Journals (1 Januari 2013). Mereka menjelaskan bahwa perubahan besar di DAS Brantas baru berlangsung intensif sejak 1970-an melalui infrastruktur air, irigasi, bendungan, urbanisasi, dan industrialisasi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Secara keseluruhan, debit Sungai Brantas mengalami penurunan di seluruh stasiun pengamatan dari waktu ke waktu, dengan penurunan paling besar terjadi di bagian hilir. Di sisi lain, fluktuasi debit secara musiman juga paling tinggi terjadi pada wilayah hilir.”
Penurunan debit dan fluktuasi ini menjadi indikator awal bergesernya struktur komunitas ikan. Spesies yang toleran terhadap gangguan lingkungan mulai menggantikan kelompok yang lebih sensitif.
Transformasi Era Modern (1985–2000an):
- Pembangunan Bendungan Besar: Kehadiran Bendungan Karangkates, Sutami, dan Wlingi mengubah pola aliran sungai dari alami menjadi terkontrol. Dampaknya, jalur migrasi ikan migratori seperti sidat dari laut ke sungai terganggu, dan habitat arus deras menyusut menjadi perairan tenang.
- Invasi Spesies Introduksi: Ikan nila dan mujair yang awalnya diperkenalkan untuk budidaya berhasil beradaptasi dengan cepat dan mendominasi habitat, menggeser posisi spesies lokal.
- Polutan Domestik & Mikroplastik (Era 2000-an): Urbanisasi yang pesat meningkatkan pencemaran domestik. Ikan sapu-sapu mulai mendominasi karena adaptif di lingkungan yang terdegradasi. Berdasarkan penelitian Distribution of microplastic in relation to water quality parameters in the Brantas River (ScienceDirect, November 2021) serta ekspedisi dari ECOTON, ekosistem Brantas kini menghadapi ancaman polutan baru berupa partikel mikroplastik yang telah mengontaminasi air, sedimen, hingga tubuh organisme akuatik (ikan, udang, bivalvia).

#Ketika Data Ilmiah Membunyikan Alarm Biodiversitas
Memasuki periode 2010–2020, penelitian mengenai biodiversitas ikan Brantas meningkat signifikan. Hasil survei dari berbagai kampus dan lembaga menunjukkan pola seragam: kawasan hilir mengalami penurunan jumlah spesies lokal yang jauh lebih drastis dibandingkan kawasan hulu.
Banyak area reproduksi alami telah beralih fungsi. Kelompok ikan bernilai tinggi dari genus Tor dan Neolissochilus menjadi kelompok yang paling jarang ditemukan. Pada inventarisasi 2021–2022, meski tercatat ada 42 spesies asli yang didominasi famili Cyprinidae, beberapa temuan memicu alarm bahaya: Rasbora lateristriata (wader pari) kini berstatus Rentan (Vulnerable), sementara kelompok Tor dan Neolissochilus hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat terbatas.
Sebaliknya, penelitian tahun 2025 menegaskan bahwa kawasan hulu di wilayah Malang Raya kini menjadi “benteng terakhir” bagi konservasi karena masih menyimpan berbagai spesies ikan air tawar yang sudah punah di bagian hilir.


#Profil 3 Posisi Habitat Kali Surabaya (Riset Maret 2026)
Alarm terbaru datang dari penelitian berjudul Checklist of native freshwater fish from Surabaya River, Indonesia (Maret 2026). Survei di tiga lokasi sepanjang Kali Surabaya ini memperlihatkan gradasi kerusakan habitat dari hulu ke hilir yang memengaruhi keragaman ikan secara tajam:
Status Taksonomi dan Adaptasi Spesies di Kali Surabaya
Penelitian Maret 2026 tersebut berhasil mendokumentasikan 35 spesies ikan asli (31 genus, 17 famili) di Kali Surabaya. Analisis berbasis metode Chao1 dan ACE menunjukkan hasil inventarisasi ini telah mencakup sekitar 94% dari estimasi total spesies yang ada.
- Spesies Adaptif (Ditemukan di semua lokasi): Rasbora argyrotaenia, Barbodes binotatus, Cyclocheilichthys apogon, Labeo chrysophekadion, Labiobarbus leptocheilus, Osteochilus vittatus, Hemibagrus nemurus, Glossogobius giuris, Channa striata, dan Dermogenys pusilla. Ikan-ikan ini terbukti tangguh menghadapi fluktuasi kualitas air.
- Spesies Kritis/Sangat Jarang (Hanya di satu lokasi): Neolissochilus soro, Laides hexanema, Oryzias javanicus, serta Rasbora cf. lateristriata (yang identitas taksonominya masih membutuhkan kajian lebih lanjut).
- Genus Paling Dominan: Sebagian besar genus hanya diwakili oleh satu spesies, kecuali genus Mystus (ketinggian keanekaragaman internal) yang mencakup tiga spesies sekaligus: Mystus singaringan, Mystus nigriceps, dan Mystus abbreviatus.
Temuan ini menegaskan bahwa meskipun tekanan antropogenik dan polusi perkotaan terus meningkat, Kali Surabaya masih menyimpan sisa-sisa kekayaan ikan asli yang bernilai tinggi bagi masa depan konservasi keanekaragaman hayati di seluruh sistem DAS Brantas.***