- PISANG DANOR melibatkan 31 kecamatan Surabaya dan 186 peserta untuk mendorong pemilahan sampah dari rumah.
- Penilaian lomba mencakup pemilahan, pengelolaan residu, pencatatan data, serta dukungan warga terhadap kebersihan lingkungan setempat.
- Sebanyak 186 peserta diseleksi melalui profil dan mini vlog sebelum menjadi 31 perwakilan kecamatan akhirnya.
- PKK Surabaya menargetkan kebiasaan memilah tetap berjalan setelah perlombaan selesai dan hadiah dibagikan kepada pemenang.
- Dukungan ECOTON, MOZAIK, dan Refillin membantu warga mengenali plastik, kertas, popok, organik, serta residu rumah tangga.

Penulis: Alexandra Anastasia Liegouri, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (ECOTON), yang berlangsung pada 31 Agustus–11 Desember 2026.
PISANG DANOR melibatkan seluruh 31 kecamatan di Kota Surabaya. Program ini dirancang untuk mendorong pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.
Pelaksanaan perdana berlangsung pada 2026 dengan melibatkan perwakilan enam RW. Dari tahapan tersebut, tercatat 186 peserta mengikuti proses seleksi awal.
Peserta kemudian mengerucut menjadi 31 perwakilan berdasarkan profil dan mini vlog. Materi tersebut digunakan untuk melihat dukungan warga terhadap gerakan pemilahan.
Ketua Pokja III TP PKK Kota Surabaya, Reisye Anggraeni, menjelaskan latar belakang program. Menurutnya, PISANG DANOR lahir dari keresahan terhadap kepedulian lingkungan masyarakat.
“Beberapa tahun warga banyak tertidur dengan lingkungan,” ujar Reisye pada Kamis, 10 September 2026 . Karena itu, lanjut Reisye, PKK berupaya menggerakkan kembali kepedulian warga terhadap lingkungan sekitar.
PISANG DANOR merupakan program Pokja III TP PKK Kota Surabaya. Fokus utamanya adalah pemilahan sampah organik dan anorganik rumah tangga.
Namun, penilaian program tidak berhenti pada pemisahan kedua jenis sampah. Sampah residu juga menjadi bagian penting dalam evaluasi peserta.
Pendekatan tersebut menunjukkan persoalan sampah tidak selesai dengan pemilahan. Sampah yang sulit didaur ulang tetap membutuhkan pengurangan dan penanganan.

#Residu dan Data Menjadi Bagian Penilaian
Penjurian berlangsung di Kelurahan Simokerto dan Tanah Kali Kedinding. Peserta memperlihatkan praktik pengelolaan sampah yang dilakukan lingkungan masing-masing.
Aspek penilaian mencakup kondisi lingkungan, pengelolaan residu, dan pencatatan data. Artinya, warga tidak hanya dituntut memilah sampah secara fisik.
Pencatatan menjadi penting untuk mengetahui jenis serta jumlah sampah. Data tersebut dapat menjadi dasar mengevaluasi perubahan kebiasaan warga.
Dalam kegiatan tersebut, warga juga mendapatkan edukasi pengelolaan berbagai jenis sampah. Materinya mencakup kardus, kertas, plastik, popok, organik, dan residu.
Edukasi didukung tim ECOTON, MOZAIK, serta Refillin dalam rangkaian kegiatan. Pendampingan tersebut membantu peserta memahami perbedaan karakter setiap jenis sampah.
Persoalan residu menjadi tantangan karena sebagian sulit dimanfaatkan kembali. Kondisi tersebut membuat pengurangan sampah sejak sumber menjadi semakin penting.
Evaluasi di Tanah Kali Kedinding turut mendorong pengurangan timbulan residu. Warga diarahkan untuk melihat sampah dari proses awal hingga penanganan akhir.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelSarah Azizah, warga yang terlibat dalam persiapan kegiatan, mengatakan pemilahan sudah berjalan. Menurutnya, perlombaan lebih banyak menjadi momentum memperkuat kegiatan tersebut.
“Persiapan memang singkat, tapi kegiatan pilah sampah sudah berjalan,” ujar Sarah. Peserta kemudian menata kembali hasil kegiatan untuk kebutuhan presentasi.
Keterangan tersebut menunjukkan lomba tidak selalu menjadi titik awal perubahan. Di sejumlah lingkungan, praktik pemilahan telah berlangsung sebelum proses penjurian.

#Tantangan Terbesar Ada Setelah Perlombaan
PKK Surabaya menargetkan PISANG DANOR berkembang menjadi kebiasaan warga. Target tersebut menghadapi tantangan menjaga konsistensi setelah perlombaan berakhir.
Reisye mengingatkan warga agar tidak menghentikan kebiasaan setelah menerima hadiah. “Jangan sampai setelah mendapat hadiah, kebiasaan baiknya berhenti,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan lingkungan akan dilanjutkan melalui program lain. PISANG DANOR kemudian dijalankan kembali mengikuti siklus kegiatan berikutnya.
Dalam setahun, kegiatan tersebut diproyeksikan berlangsung dua hingga tiga kali. Pelaksanaannya disesuaikan dengan siklus program lingkungan di Surabaya.
Yoyok, salah satu pihak yang terlibat, menilai kekompakan warga menentukan keberlanjutan. Menurutnya, lingkungan sulit terjaga apabila masyarakat tidak kompak dan rukun.
“Apapun itu tergantung dari warganya,” ujar Yoyok. Ia menilai partisipasi warga menjadi faktor penting menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Sarah juga menilai generasi muda perlu mengambil peran dalam gerakan tersebut. Menurutnya, Gen Z dapat berkontribusi melalui aksi langsung dan media sosial.
“Sebagai Gen Z, anak muda alangkah baiknya kita lebih peka,” ujar Sarah. Menurutnya, kepedulian lingkungan perlu dibangun sejak generasi sekarang.
Dengan melibatkan 31 kecamatan, cakupan program ini tergolong luas. Namun, jumlah peserta belum otomatis menunjukkan perubahan perilaku seluruh warga.
Ukuran keberhasilannya justru terlihat setelah kegiatan dan penjurian selesai. Konsistensi memilah, mengurangi residu, dan mencatat sampah menjadi indikator penting.
PISANG DANOR akhirnya menghadapi pekerjaan lebih besar daripada menentukan pemenang. Tantangannya adalah memastikan kebiasaan memilah bertahan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kebiasaan berhenti setelah lomba, dampaknya hanya bersifat sementara. Sebaliknya, pemilahan yang konsisten dapat mengurangi sampah sejak sumbernya.***