Lewati ke konten

Ecoton dan Stakeholder Tebar Puluhan Ribu Bibit Ikan Lokal di Kali Surabaya Gresik

| 6 menit baca |Ekologis | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Fio Atmadja
  • Ecoton bersama Jasa Tirta I dan BBWS Brantas menebar puluhan ribu bibit ikan endemik di kawasan Kali Surabaya, Wringinanom.
  • Pelepasan jenis ikan bader, gabus, dan tombro bertujuan memulihkan keanekaragaman hayati serta menjaga kestabilan rantai makanan ekosistem sungai.
  • Ikan lokal berfungsi sebagai indikator biologis utama untuk memantau kualitas air dan mencegah munculnya fenomena ledakan populasi alga.
  • Aliran Kali Surabaya sepanjang 41 kilometer merupakan penopang utama sekitar 98 persen bahan baku air minum PDAM masyarakat.
  • Rangkaian kegiatan perlindungan sungai ini dilengkapi edukasi lingkungan melalui kompetisi kreatif menggambar serta pembuatan video pendek bagi pelajar.

LEMBAGA konservasi dan lahan basah Ecoton menggelar aksi penebaran puluhan ribu bibit ikan di Kali Surabaya, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Langkah konservasi ini menjadi upaya nyata untuk menjaga keberlanjutan ekosistem serta memulihkan keanekaragaman hayati sungai.

Aksi lingkungan ini merupakan hasil kolaborasi bersama Perum Jasa Tirta I (PJT I) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup Gresik, Dinas Perikanan, masyarakat desa, hingga pelaku industri sekitar turut mendukung kegiatan ini.

Dalam aksi pelepasan ini, panitia memfokuskan penebaran pada jenis ikan lokal dan endemik non-invasif. Langkah ini diambil untuk mengembalikan populasi ikan serta melestarikan rantai makanan yang mulai terganggu di sepanjang aliran sungai.

Beberapa jenis ikan yang dilepas mencakup wader 3.000 ekor, bethik 500 ekor, sepat 400 ekor, muraganting 400 ekor, nilem 9.000 ekor, sengkaring 100 ekor, dan gabus 5.000 ekor.

Penambahan benih ikan endemik ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem perairan darat yang terus menghadapi ancaman pencemaran lingkungan.

Staf Teknis Perum Jasa Tirta I (PJT I) Bayu Sasmita menyampaikan pentingnya menjaga kualitas air sungai. | Foto: Supriyadi

#Sinergi Pengelolaan Air Baku dan Pelestarian Lingkungan

Staf Teknis Perum Jasa Tirta I (PJT I), Bayu Sasmita, menyatakan bahwa kegiatan ini selaras dengan tugas instansinya. PJT I dan BBWS Brantas bertanggung jawab menjaga kontinuitas, kuantitas, serta kualitas air baku sungai.

BACA JUGA:  Ecoton, Jejak, dan Brantas Mbois Gelar Brand Audit di Bendungan Karangkates: Tandon Plastik Kota Malang yang Diabaikan Pemerintah

“Selain menjamin ketersediaan air baku yang dimanfaatkan masyarakat dan industri, kami juga bertanggung jawab atas pemantauan dan evaluasi kualitas air. Penebaran bibit ikan ini diharapkan mampu mendukung penambahan keanekaragaman hayati sekaligus memberikan nilai manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” ujar Bayu ketika memberi sambutan, Jumat (11/9/2026).

Langkah kolaboratif ini dirancang agar memberikan dampak jangka panjang bagi ekosistem perairan. Pengawasan kualitas air terus dilakukan secara berkala guna memastikan benih ikan yang telah dilepas dapat tumbuh dengan baik.

Perwakilan dari Bagian Hukum dan Komunikasi Publik BBWS Brantas, Yudhia Abrianto, menambahkan bahwa kegiatan konservasi ini diharapkan dapat berlangsung secara konsisten. Sinergi antarlembaga menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan kawasan sempadan sungai.

“Langkah kolaboratif ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai acara seremonial. Kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan untuk merefleksikan kepedulian bersama terhadap pelestarian sungai,” kata Yudhia.

Dukungan dari pemerintah daerah dan sektor industri diharapkan dapat memperkuat perlindungan kawasan sungai. Kesadaran bersama menjadi pondasi penting untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih parah di masa depan.

Infografis penebaran 18.400 bibit ikan lokal untuk menjaga keanekaragaman hayati Kali Surabaya. | Desain: AI

#Ikan Sebagai Indikator Utama Kesehatan Sungai

Sementara itu, Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan pentingnya keberadaan ikan lokal bagi ekosistem air tawar. Ikan berperan sebagai indikator biologis alami untuk mengukur tingkat kesehatan dan kebersihan air sungai.

Dalam struktur rantai makanan, ikan memegang peranan kunci untuk mengontrol populasi mikroorganisme dan alga. Pengendalian populasi ini sangat penting agar tidak terjadi ledakan alga atau blooming yang merusak kualitas air.

“Ikan adalah cermin kesehatan sungai. Apabila terjadi kasus kematian ikan secara massal, itu menandakan ada yang salah dengan kondisi air kita,” tegas Prigi.

Prigi menjelaskan bahwa Kali Surabaya memiliki peran sangat vital bagi masyarakat Jawa Timur. Aliran sungai sepanjang 41 kilometer ini menjadi penopang utama kebutuhan air bersih publik.

BACA JUGA:  Kali Surabaya Tak Lagi Layak Jadi Sumber Air Baku Warga

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sekitar 98 persen bahan baku air minum PDAM untuk wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berasal dari sungai ini. Tingginya ketergantungan masyarakat menjadikan kelestarian Kali Surabaya sebagai prioritas utama yang harus dijaga bersama.

Oleh karena itu, Prigi mengimbau seluruh pelaku industri di sepanjang bantaran sungai untuk meningkatkan pengolahan limbah. Setiap pabrik wajib mengolah limbah cair dengan benar sebelum dibuang ke badan air.

Siswa turut terlibat dalam penebaran bibit ikan lokal ke Kali Surabaya. | Foto: Supriyadi

#Edukasi Generasi Muda dan Budidaya Berkelanjutan

Koordinator Program Petro-Tirta, Amalia Fibrianty, menekankan pentingnya menjaga kelestarian Kali Surabaya yang melintasi wilayah Driyorejo. Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah kegiatan edukasi lingkungan bersama warga dan komunitas pelajar.

Amalia menyoroti perubahan kondisi Kali Surabaya jika dibandingkan dengan masa lalu. Dulu, sungai tersebut kerap digunakan warga untuk mandi, memancing, hingga tempat berkumpul karena airnya yang masih bersih. Namun saat ini, kualitas air sungai dinilai makin mengkhawatirkan akibat pencemaran sampah dan limbah.

Perubahan ini juga dikonfirmasi oleh anggota komunitas Adiwiyata dari SMA Driyorejo, Abhi, yang rutin melakukan uji sampel air di sepanjang aliran sungai. Dari pengujian berkala tersebut, terindikasi adanya penurunan kualitas air yang berdampak pada ekosistem sekitar.

Dalam pemaparannya, Amalia menjelaskan bahwa ikan memegang peranan kunci sebagai indikator kesehatan sungai serta penyeimbang rantai makanan untuk mencegah terjadinya ledakan alga (blooming). Kasus kematian ikan secara massal—seperti yang sempat terjadi di pintu air Jagir—menjadi alarm keras bahwa kondisi perairan sedang tidak sehat. Mengonsumsi ikan yang mati akibat pencemaran juga sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

BACA JUGA:  Fildza Sabrina Bertumbuh Bersama Gerakan Ecoton

“Fenomena kematian ikan ini bukan hal baru, penelitian Ecoton mencatat kejadian serupa pernah terjadi di tahun 2025 bahkan sejak era 1970-an,” ujarnya.

Mengingat Kali Surabaya merupakan sumber bahan baku utama air minum PDAM, Wadulink menginisiasi program restorasi ikan lokal melalui kegiatan pemuliaan dan pembudidayaan spesies asli seperti ikan bader, keting, dan wader.

Ecoton juga mendorong program Petro Tirta bersama para mitra pendukung. Program ini berfokus pada pembudidayaan ikan lokal guna memastikan ketersediaan benih secara mandiri dan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan stok bibit ikan endemik di masa mendatang. Pembudidayaan lokal menjadi solusi strategis untuk mengatasi kelangkaan benih ikan asli sungai.

Selain fokus pada pemulihan ekosistem, rangkaian acara ini diisi dengan edukasi lingkungan bagi generasi muda. Panitia menggelar berbagai perlombaan kreatif yang melibatkan ratusan pelajar di wilayah Wringinanom.

Siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Wringinanom berpartisipasi aktif dalam lomba menggambar tema lingkungan. Sementara itu, para pelajar tingkat SMA mengikuti lomba pembuatan konten video pendek di platform TikTok.

Kegiatan edukatif ini dirancang agar generasi muda semakin mengenal dan mencintai lingkungan sungai mereka. Keterlibatan anak-anak sejak dini menjadi investasi sosial yang penting bagi masa depan kawasan perairan.

Melalui pendekatan edukasi dan aksi nyata, para pemangku kepentingan berharap kelestarian Kali Surabaya terus terjaga. Kesadaran masyarakat yang meningkat akan menjadi benteng utama dalam melindungi sumber daya air.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *