Lewati ke konten

Fildza Sabrina Bertumbuh Bersama Gerakan Ecoton

| 4 menit baca |Sosok | 34 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Tanpa prestasi gemilang, Fildza menemukan ruang bertumbuh di Ecoton, belajar bersuara, membangun jejaring, dan memaknai pendidikan sebagai keberanian terlibat.

Fildza Sabrina Vansyachroni, begitu nama yang tersemat dari orangtunya, – tak pernah memulai ceritanya dengan kebanggaan atas prestasi. Ketika ditanya tentang pencapaian, ia justru memilih jujur. “Kalau ditanya prestasi yang menonjol, saya merasa belum ada,” ucapnya, Jumat, (6/2/2026).

Fildza Sabrina Vansyachroni menjadi bagian dari aksi advokasi yang mendorong Gubernur Jawa Timur memperhatikan dan menindaklanjuti putusan Mahkamah Agung Nomor 821 PK/Pdt/2025, terkait matinya ikan di Sungai Brantas. | Foto: Amiruddin Muttaqin

Bagi Fildza, perjalanan hingga menjadi mahasiswa sudah merupakan kesanggupan yang harus dijalani dan keberuntungan yang patut disyukuri.

Lahir di Situbondo, 14 Juni 2004, Fildza tumbuh dalam keluarga sederhana. Orangtuanya menjadi sumber semangat belajar sekaligus panutan hidup. Ia mengaku bangga pada keduanya. Nama sang ayah bahkan, Syachroni, disematkan di akhir namanya melalui sebutan “Vans”, sebagai penanda kerekatan keluarga.

“Nama itu pengingat saya. Ada harapan orangtua yang harus saya jaga,” katanya.

Riwayat pendidikannya dimulai dari SD Negeri 1 Gudang, Asembagus. Masa sekolah dasar membuatnya sempat berpindah-pindah, meski detailnya kini tak lagi diingat.

Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Asembagus dan SMA Negeri 2 Situbondo. Dari bangku SMA itulah muncul tekad untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Kini, Fildza tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Penyuluhan Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Jember. Baginya, kuliah bukan hanya soal gelar, melainkan kesempatan memperluas pandangan hidup.

“Saya merasa beruntung bisa kuliah. Tidak semua orang punya kesempatan yang sama,” ujarnya.

#Organisasi, Musik, dan Proses Menempa Diri

Fildza Sabrina Vansyachroni (bertopi merah) saat mengikuti kegiatan Make Mangrove Green Again di kawasan Hutan Mangrove Surabaya, dalam bimbingan langsung pendiri Ecoton, Prigi Arisandi (topi hitam), sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem pesisir. | Foto: Supriyadi

Di luar ruang kelas, Fildza aktif dalam organisasi International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS). Ia dipercaya menjadi bendahara di salah satu departemen yang menangani exchange, pertukaran magang, dan bahasa.

Peran itulah yang kemudian membuatnya belajar bertanggungjawab dan bekerja dalam tim lintas latar belakang.

Fildza juga pernah masuk nominasi mahasiswa berprestasi di tingkat program studi dan fakultas, meski akhirnya tidak terpilih. Ia tidak melihat pengalaman itu sebagai kegagalan.

“Saya anggap itu proses. Setidaknya saya pernah mencoba dan belajar dari situ,” katanya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di sela aktivitas akademik, musik menjadi teman setia. Fildza menyukai musik pop, selera yang ia warisi dari keluarga. Ayahnya gemar mendengarkan lagu-lagu pop lama dan bermain musik. Kebiasaan itu menular ke seluruh anggota keluarga.

“Musik jadi cara kami melepas penat bareng, bersama keluarga,” tuturnya.

Karakter Fildza yang mudah bersosialisasi membuatnya senang bertemu orang baru. Ia menikmati percakapan dan diskusi, terutama dengan mereka yang memiliki pengalaman berbeda. Sifat inilah yang kelak menemukan ruang paling luas ketika ia bergabung dengan Ecoton.

#Ecoton, Ruang Belajar dan Keberanian Bersuara

Fildza Sabrina Vansyachroni (pegang mic) saat mengikuti kegiatan Membongkar Imajinasi Mahasiswa di Ecoton, sebuah ruang diskusi yang mendorong kesadaran dan keberanian mahasiswa dalam isu lingkungan. | Foto: Supriyadi

Pengalaman paling berpengaruh dalam perjalanan Fildza datang ketika menjalani studi independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton). Hingga 18 Februari 2026 nanti, terlibat aktif dalam berbagai kegiatan riset, advokasi, dan komunikasi lingkungan.

Di Ecoton pula, Fildza ikut terlibat dalam pendirian komunitas replast_genz, sebuah inisiatif anak muda yang mendorong kesadaran soal sampah plastik.

Fildza merasakan perubahan besar dalam dirinya. “Di kampus, saya terbiasa bicara dengan dosen. Di Ecoton, saya bisa berdiskusi langsung dengan aktivis, masyarakat, bahkan anggota DPRD Jawa Timur, ketika mendorong terciptanya Perda sampah,” ujar Firza, sambil mengingat gelaran aksi jalan kaki dari Gedung DPRD Jawa Timur hingga Kantor Gunernur Jawa Timur, pada Senin, (2/2/2026).

Pengalaman itu membuatnya lebih percaya diri menyampaikan pendapat di ruang publik. Dan tentu saja mengubah diri mampu berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya. “Jujur saja saya banyak belajar dari figur-figur di Ecoton, terutama Pak Prigi (Prigi Arisandi, pendiri Ecoton), “ ucap Fildza.

Bagi Fildza, ukuran “hebat” bukan soal jabatan, melainkan konsistensi memperjuangkan nilai. “Saya melihat langsung bagaimana keberanian dan komitmen itu dijalani. Itu sangat memotivasi saya,” katanya.

Ecoton menjadi ruang yang mempertemukan ilmu penyuluhan dengan realitas sosial dan lingkungan. Fildza belajar, penyuluhan pertanian  tidak hanya menyampaikan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran, keberanian, dan empati. “Di sini saya belajar bicara, mendengar, dan terlibat,” ujarnya.

Meski merasa belum memiliki prestasi gemilang, Fildza Sabrina Vansyachroni terus bertumbuh melalui proses panjang di Ecoton.

Dari Situbondo hingga ruang-ruang advokasi lingkungan, ia menapaki jalan sunyi pembelajaran, menjadi mahasiswa yang perlahan menemukan suara, peran, dan keberaniannya sendiri.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *