Lewati ke konten

Kali Surabaya Didominasi Ikan Betina, Sensus Temukan Potensi Gangguan Ekosistem Perairan

| 9 menit baca |Eksploratif | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
  • Sensus Ikan Kali Surabaya menemukan sekitar 80 persen ikan berjenis kelamin betina, memunculkan perhatian terhadap keseimbangan populasi dan kesehatan ekosistem perairan.
  • Pada segmen Perning-Sumberame, 14 dari 18 ikan tercatat betina, dengan komposisi 77,8 persen berdasarkan pengukuran tim sensus lapangan.
  • Ikan jendhil menjadi jenis paling dominan, dengan 12 betina dari 13 ekor yang terukur dalam Sensus Ikan Kali Surabaya.
  • Peneliti Ecoton Heri Purnomo meminta dugaan pengaruh pencemar terhadap rasio kelamin ikan diuji melalui penelitian kualitas air dan kontaminan.
  • Dominasi ikan betina belum disimpulkan sebagai gangguan reproduksi, tetapi menjadi alasan memperluas penelitian terhadap pencemaran, habitat, dan populasi ikan.

TIM Sensus Ikan Kali Surabaya 2026 menemukan dominasi ikan betina. Dalam rangkaian pengamatan, ditemukan 80 persen ikan berjenis kelamin betina. Sensus berlangsung sejak Jumat, 11 September 2026.

Dominasi betina menjadi perhatian tim sensus. Karena rasio kelamin sangat menentukan keberlanjutan populasi. Namun berdasar pengamatan, tim belum menyimpulkan adanya gangguan reproduksi.  Mereka masih memerlukan penelitian dan pengujian lanjutan dari penyebab ketimpangan rasio kelamin ini.

Peneliti senior Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Heri Purnomo, mengatakan rasio kelamin ini penting , gunanya untuk membaca kondisi populasi ikan. Menurut Heri, dominasi betina perlu dibandingkan dengan kondisi lingkungan pada setiap lokasi. Mulai kualitas air, suhu, habitat, makanan, serta paparan pencemar perlu diperiksa.

Empat nelayan asal Jombang, Suprio, Bagus, Pariyono, dan Yanto, menyusuri Kali Surabaya menggunakan perahu saat mengikuti Sensus Ikan Kali Surabaya 2026 bersama peneliti dari Ecoton. | Foto: Fully Syafi

“Rasio ikan jantan dan betina penting untuk melihat kondisi populasi ikan. Kalau jumlah betina jauh lebih dominan, kita perlu mencari tahu faktor yang memengaruhinya,” ujar Heri, Ahad (13/9/2026).

Perubahan rasio kelamin, kata Heri, dapat dipengaruhi berbagai faktor lingkungan. Karena itu, hasil sensus ini, belum dapat menunjuk satu penyebab tertentu. Masih diperlukan pengujian membedakan faktor alami dengan tekanan lingkungan.

“Perubahan rasio kelamin dapat dipengaruhi berbagai faktor lingkungan. Hasil sensus ini belum dapat menunjuk satu penyebab tertentu secara pasti, sehingga pengujian lanjutan diperlukan untuk membedakan faktor alami dengan tekanan lingkungan,” kata Heri.

#Sensus Perning-Sumberame Temukan 14 Betina

Sebagaimana dalam data pengukuran di segmen Perning, Jetis, Mojokerto – Sumberame, Wringinanom, Gresik. Dari 18 ikan yang diukur, 14 ekor berjenis kelamin betina. Empat ekor lainnya tercatat berjenis kelamin jantan. Komposisinya mencapai 77,8 persen betina dan 22,2 persen jantan. Rasio betina terhadap jantan mencapai sekitar 3,5 banding satu.

Sensus yang menggunakan jala berdiameter 15 meter dengan mata tiga inci itu. Tim melakukan 37 kali tebaran jala selama pengambilan sampel. Pengamatan dilakukan mengikuti aliran sungai pada segmen penelitian.

Tabel data pengukuran 18 ekor ikan hasil Sensus Ikan Kali Surabaya pada segmen Perning–Sumberame, mencatat empat jenis ikan dan komposisi 14 betina serta empat jantan. | Sumber: Sensus Ikan Kali Surabaya 2026

Empat jenis ikan tercatat dalam pengukuran Perning-Sumberame. Jenis ikan meliputi rengkik, jendhil, bader merah, dan palung. Jendhil menjadi jenis dengan jumlah tangkapan terbanyak selama pengukuran.

Sebanyak 13 ekor jendhil berhasil dicatat tim sensus. Dari jumlah itu, 12 ekor merupakan betina dan seekor jantan. Dominasi betina pada jendhil mencapai sekitar 92,3 persen.

BACA JUGA:  Ikan Kali Surabaya Mati Usai Kebakaran Wings, Foam Pemadam Jadi Sorotan

Rengkik ditemukan dua ekor dengan satu jantan dan satu betina. Bader merah juga ditemukan dua ekor dengan komposisi seimbang. Satu ekor palung yang tercatat berjenis kelamin jantan.

Pola paling mencolok terlihat pada ikan jendhil. Namun, sampel Perning-Sumberame belum menggambarkan seluruh populasi Kali Surabaya. Sensus berulang diperlukan untuk melihat konsistensi pola kelamin ikan.

Tim yang dibentuk Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) ini, melibatkan komunitas nelayan dari Dusun Paras,  Desa Turi Pinggir, Kecamatan Megaluh, Jombang. Mereka melakukan penangkapan untuk mengidentifikasi jenis dan kelamin ikan.

Pada Sabtu, 12 September 2026, empat nelayan bergabung bersama peneliti. Tim lapangan terdiri atas empat nelayan dan enam peneliti. Mereka menggunakan dua perahu untuk menyusuri aliran Kali Surabaya.

Dua ikan jendhil hasil tangkapan nelayan diukur panjang tubuhnya dalam Sensus Ikan Kali Surabaya 2026. | Foto: Fully Syafi

Satu perahu berukuran empat meter, sedangkan lainnya perahu karet lima meter. Empat anggota tim darat bergerak menggunakan sepeda motor. Pengamatan Perning-Sumberame mencakup jarak sekitar empat kilometer.

Pada Ahad, 13 September 2026, pengamatan berlanjut menuju Legundi, Gresik. Rute penelitian membentang dari Sumberame menuju Jembatan Legundi, Gresik. Jarak perjalanan lanjutan ini mencapai sekitar 11 kilometer. Data pengukuran morphometrik menunjukkan signifikan.

Dari sampel spesies jendhil (Pangasius sp.) yang berhasil diidentifikasi, populasi betina kembali menunjukkan dominasi yang ketat. Sebanyak sembilan ekor tercatat berjenis kelamin betina, sementara lima ekor sisanya merupakan jantan dari total 14 data jendhil dalam lembar pengamatan utama.

Rentang ukuran ikan jendhil yang diukur berada pada kisaran panjang total (PJ) 29 hingga 49 sentimeter, dengan bobot terberat mencapai 1,295 kilogram pada spesimen betina. Selain 14 data utama tersebut, tim lapangan juga merekam dua individu jendhil berukuran lebih kecil dengan panjang 21 dan 22 sentimeter yang keduanya teridentifikasi berjenis kelamin betina. Temuan ini semakin memperkuat indikasi tingginya persentase betina pada populasi jendhil di aliran sungai.

Selain spesies jendhil, pencatatan hari itu turut mendokumentasikan keberadaan beberapa spesies asli Kali Surabaya lainnya. Satu ekor bader putih (Barbonymus gonionotus) berjenis kelamin betina tercatat memiliki panjang total 27 sentimeter dan bobot 0,280 kilogram, disusul satu ekor bader merah (Barbonymus balleroides) betina berukuran 24 sentimeter. Tim sensus juga mengidentifikasi keberadaan satu ekor muraganting serta dua ekor ikan montho atau nilem (Oxyeleotris marmorata).

Catatan lapangan Sensus Ikan Kali Surabaya memuat pengukuran jendhil serta ikan bader putih, bader merah, muraganting, dan montho di segmen Sumberame–Jembatan Legundi, Gresik, 13 September 2026. | Sumber: Sensus Ikan Kali Surabaya 2026

Pencatatan data pada 13 September 2026 ini merupakan rangkaian pengamatan lanjutan yang terpisah dari data awal 18 ekor ikan di segmen Perning–Sumberame. Seluruh hasil pengukuran morphometrik, bobot, dan identifikasi jenis kelamin ini menjadi basis data penting bagi tim peneliti untuk memetakan struktur populasi serta kesehatan ekosistem Kali Surabaya secara lebih akurat dan objektif.

BACA JUGA:  Simbol Guna Ulang Global Diluncurkan, Sistem 'Reverse Logistics' Indonesia Masih Nihil

#Bahan Kimia Diduga Berpengaruh, Perlu Pengujian

Heri mengatakan sejumlah sumber pencemaran perlu diperiksa dalam penelitian lanjutan. Salah satunya paparan bahan kimia dari limbah perairan. Limbah industri dan domestik menjadi sumber pencemaran yang perlu diawasi.

Menurut Heri, limbah industri dapat membawa berbagai jenis polutan. Polutan yang perlu diperiksa antara lain kadmium, besi, merkuri, dan timbal. Limbah juga dapat mengandung nitrat, nitrit, fosfat, dan senyawa lainnya.

“Sedangkan jenis industri kertas, gula, produsen tepung dan penyedap masakan mengeluarkan bahan organik dan mikroplastik,” ucap Heri.

Nelayan Jombang mengangkat jala berisi hasil tangkapan ikan saat Sensus Ikan Kali Surabaya 2026 di segmen Sumberame–Jembatan Legundi, Gresik. | Foto: Fully Syafi

Limbah domestik juga menjadi perhatian dalam pengamatan Kali Surabaya. Air buangan kamar mandi, toilet, dan laundry membawa sejumlah polutan. Di antaranya fosfat, amonium, nitrat, dan nitrit.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sampah plastik, popok, serta mikroplastik turut menjadi perhatian tim. Menurut Heri, beberapa bahan pencemar dapat mengganggu sistem hormonal. Namun, hubungan dengan dominasi betina masih harus dibuktikan melalui penelitian.

Heri menyebut senyawa itu sebagai endocrine disrupting chemical compounds. Menurut dia, senyawa pengganggu hormon dapat memengaruhi organisme perairan. Pengaruh terhadap perkembangan kelamin ikan memerlukan pengujian khusus.

“Limbah cair ini merupakan endocrine disruption chemical compound atau senyawa pengganggu hormon,” jelas Heri.

Ikan mengalami pembuahan eksternal dengan mempertemukan sperma dan ovum. Proses reproduksi berlangsung di lingkungan perairan tempat ikan hidup. Karena itu, kondisi air menjadi faktor penting dalam reproduksi ikan.

Heri meminta rasio kelamin dibandingkan berdasarkan jenis dan lokasi. Data itu perlu dikaitkan dengan kualitas air dan kondisi sedimen. Pemeriksaan kontaminan diperlukan untuk memperkuat analisis penyebab ketimpangan.

“Yang penting sekarang adalah tidak berhenti pada temuan dominasi betina. Kita perlu mencari penyebabnya dengan penelitian yang lebih mendalam,” ujar Heri.

Penelitian berikutnya, menurut Heri, perlu melihat pola antarjenis ikan. Perbandingan juga diperlukan pada sejumlah lokasi sepanjang Kali Surabaya. “Dengan begitu, konsistensi dominasi betina dapat diketahui lebih jelas, “ ucap Heri.

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) tercatat sebagai spesies invasif dalam identifikasi Sensus Ikan Kali Surabaya 2026. | Sumber: Sensus Ikan Kali Surabaya 2026

Temuan keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) dalam sensus ini menunjukkan ancaman besar bagi habitat asli Kali Surabaya. Spesies invasif tersebut memiliki daya tahan tinggi terhadap pencemaran dan pola reproduksi yang sangat cepat. Menurut Heri, dominasi sapu-sapu berpotensi merebut ruang hidup serta sumber makanan bagi ikan-ikan lokal khas Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Heri menegaskan, populasi ikan sapu-sapu yang tidak terkendali kian memperberat tekanan ekologis di Kali Surabaya. Persaingan ruang hidup sangat berisiko dan bisa menggeser keberadaan spesies ikan asli DAS Brantas menuju kepunahan lokal, sehingga pengendalian spesies invasif wajib menjadi perhatian utama dalam evaluasi kesehatan sungai.

BACA JUGA:  Prigi Arisandi Resmi Pimpin Perkumpulan Telapak Periode 2026–2030, Ajak Perkuat Gerakan Kolektif

“Keberadaan sapu-sapu yang tidak terkendali semakin memperparah tekanan ekologis yang sudah ada. Persaingan habitat tersebut berisiko mendesak populasi ikan asli hingga mendekati ancaman kepunahan lokal. Oleh karena itu, penanganan keberadaan spesies invasif menjadi bagian tak terpisahkan dari analisis kesehatan sungai,” jelas Heri.

Pendiri Ecoton Prigi Arisandi menunjukkan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) hasil tangkapan dalam Sensus Ikan Kali Surabaya 2026. | Foto: Fully Syafi

#Petro-Tirta Dorong Restorasi dan Penangkaran Ikan Lokal

Sementara itu Ketua Program Petro-Tirta, Amalia Febrianty, mendorong pemulihan habitat Kali Surabaya. Menurutnya, kesehatan sungai perlu dinilai melalui kondisi biota perairan. Ikan menjadi salah satu indikator penting kondisi ekosistem sungai.

“Kalau habitatnya tidak sehat, penebaran ikan tidak akan menyelesaikan persoalan. Sumber pencemar harus dikendalikan dan kondisi sungai harus dipantau secara berkala,” ujar Amalia.

Petro-Tirta mendorong pengembalian Kali Surabaya sebagai habitat ikan lokal. Upaya itu dilakukan melalui restorasi sungai dan perlindungan bantaran. Bantaran sungai dapat menjadi nursery ground bagi anakan ikan.

Amalia juga mengungkapkan pengendalian sumber pencemaran Kali Surabaya. Perlu adanya pengawasan pembuangan limbah cair industri dilakukan secara konsisten. Limbah domestik juga membutuhkan instalasi pengolahan air limbah komunal.

Langkah berikutnya adalah penangkaran berbagai jenis ikan lokal. Jenis yang menjadi perhatian meliputi jendhil, rengkik, wader pari, dan nilem. Bader merah, bader putih, serta muraganting juga masuk dalam rencana pengembangan.

“Petro-Tirta telah kolaborasi dengan Ecoton dan Petrokimia mengajak mengembalikan keanekaragaman hayati ikan-ikan di Kali Surabaya melalui kegiatan budidaya ikan lokal dan pembenihan ikan air tawar khas Kali Surabaya,” ungkap Amalia.

Hasil tangkapan nelayan berupa ikan jendhil terjerat jala saat Sensus Ikan Kali Surabaya 2026. | Foto: Fully Syafi

Menurut Amalia, pemulihan habitat harus berjalan bersama pengendalian pencemaran. Penebaran ikan perlu didukung kondisi lingkungan yang sesuai. Pemantauan kesehatan biota juga harus dilakukan secara berkala.

“Kalau kita berbicara tentang pemulihan sungai, indikatornya bukan hanya air terlihat bersih. Kita juga harus melihat apakah biota yang hidup di dalamnya masih mampu berkembang secara normal,” kata Amalia.

Temuan dominasi betina menjadi dasar untuk memperluas penelitian ekosistem. Data 14 betina dan empat jantan menunjukkan ketimpangan pada sampel. Sementara angka sekitar 80 persen menggambarkan rangkaian pengamatan tim.

Kali Surabaya merupakan bagian penting dari sistem DAS Brantas. Aliran itu menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Karena itu, perubahan struktur populasi perlu dipantau secara berkelanjutan.

Melihat hal ini Amalia menegaskan, sensus berikutnya harus mencakup lokasi yang lebih luas serta jumlah sampel yang lebih banyak. Menurutnya, pembandingan antara rasio kelamin, kualitas air, dan kondisi habitat sangat diperlukan agar dugaan gangguan ekologis dapat diuji secara objektif.

“Sensus berikutnya perlu memperluas lokasi dan jumlah sampel pengamatan. Rasio kelamin perlu dibandingkan dengan kualitas air dan kondisi habitat. Dengan pendekatan itu, dugaan gangguan ekologis dapat diuji secara objektif,” tegas Amalia. ***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *