- Jala nelayan Kali Surabaya terganggu endapan kerak limbah tepung dan pernis industri.
- Daya kembang jala nelayan merosot hingga lima puluh persen akibat limbah lengket.
- Sebanyak empat nelayan Komunitas Sekar Mulyo mendata keberadaan berbagai spesies ikan sungai.
- Sensus segmen Perning hingga Sumberame mencatat dominasi spesies jendhil sebanyak 13 ekor.
- Sebanyak 14 ekor dari total 18 ikan hasil sensus berjenis kelamin betina.
KOMUNITAS Nelayan Sekar Mulyo dari Dusun Paras, Desa Turi Pinggir, Megaluh, Jombang, menghadapi masalah serius saat menangkap ikan. Empat nelayan sungai, yakni Suprio, Pariyono, Bagus, dan Yanto, merasakan beratnya menjala di perairan Kali Surabaya. Limbah industri cair yang menempel membuat jala rajutan tangan, menjadi sangat lengket atau klet.
Permasalahan pencemaran Kali Surabaya ini mengemuka, saat berlangsung agenda tebar benih ikan di kawasan Wringinanom pada Jumat, 11 September 2026. Kegiatan yang digelar bersama Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I (PJT I) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dengan menggandeng lembaga konservasi lahan basah Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), memang memiliki nilai berarti bagi pemulihan ekosistem Kali Surabaya.
Namun, saat pengetesan jala secara manual mengungkap pembuktian, kepekatan kotoran limbah industri di perairan Kali Surabaya. Yanto mengatakan alat tangkapnya dipenuhi kiter atau limbah pernis dari perusahaan di sekitar sungai. Menurut Yanto, kotoran endapan limbah itu, telah memangkas daya kembang jalanya secara signifikan di air.

Hal ini juga diakui Pariyono yang menyebut bukaan, jala miliknya tidak bisa mengembang sempurna seperti kondisi normal. Pariyono mengungkapkan, betapa paparan limbah tebal di air cukup mengganggu daya sebar jala nelayan. “Nggak bisa sempurna, iya. Ada, Sembilan puluh, paling enam puluh kalau tidak lima puluh,” tutur Pariyono pada Jumat malam.
Bukaan jala yang biasanya mencapai 90 persen itu, kini menyusut drastis hingga tersisa 50 persen. Kondisi ini sangat mengganggu hasil tangkapan ikan harian para nelayan. Kepungan limbah, membuat nelayan harus ekstra membersihkan jala setiap kali selesai ditebar.
Kondisi pencemaran di Kali Surabaya berbanding terbalik dengan kawasan hulu di Sungai Brantas. Yanto menyebut, bisa saja karena arus deras dan kapasitas air hulu lumayan membantu meminimalkan tumpukan limbah industri. “Nggak ada limbah-limbahnya. Limbah kiter nggak ada. Sungainya bersih,” ucap Yanto menggambarkan wilayah hulu.
Pariyono menilai debit air hulu di Sungai Brantas yang melimpah, bisa saja menyamarkan keberadaan buangan polusi cair. Menurut Pariyono, kawasan hulu Kali Surabaya, sebenarnya tetap tidak sepenuhnya terbebas dari ancaman pencemaran.
“Mungkin saja di Brantas karena hulu, airnya lebih banyak. Jadi limbah nggak begitu jelas. Di sana kan juga ada pencemaran,“ kata Pariyono.
Kali Surabaya merupakan salah satu percabangan penting Sungai Brantas. Dari aliran utama Brantas, air mengalir menuju Kali Surabaya dan Kali Porong. Kedua aliran tersebut menjadi bagian penting sistem hidrologi wilayah hilir Brantas.

#Endapan Kerak Tepung Membeban Stamina dan Produktivitas Nelayan
Cerita nelayan dilanjutkan Suprio, saat mereka terlibat dalam kegiatan sensus ikan di segmen Perning Mojokerto hingga Sumberame Wringinanom Gresik, Sabtu, 12 September 2026.
Penjalaan yang dilakukan menyusuri sepanjang empat kilometer itu. Nelayan juga tak selalu bisa menebarkan jala dengan lebar. Hal itu akibat endapan kerak limbah tepung atau yiyit.
Kerak limbah tepung yang melayang di Kali Surabaya itu, menempel cukup kuat pada serat rajutan jala. Suprio menyebut, bahwa apa yang ia ceritakan ini tidak salah. Sebab lokasi pabrik tepung yang berada di walayah hulu sungai yaitu di wilayah Perning. Kerap membuang limbahnya langsung ke badan sungai.

“Masalah yiyit (lendir/kerak limbah) dari tepung, pabrik tepung lokasinya di atas Perning. Nah, kerak limbahnya ya sudah ada contohnya,” ujar Suprio menunjuk jalanya.
Keberadaan yiyit dan sampah yang menyangkut di jala, membuat beban terasa makin berat saat diangkat. Suprio mengungkapkan, gumpalan kerak limbah ini sangat menyulitkan aktivitas harian nelayan di sungai.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Menyusahkan nelayan ya iya. Berat sekali jala ini ya iya,” ungkap Suprio sambil ketawa lebar.
Akibat beban berat tersebut, para nelayan memilih mengurangi frekuensi lemparan jalanya ke perairan sungai. Mereka yang biasanya sanggup melakukan hingga 20 – 25 kali tebaran jala di sepanjang empat kilometer. Pada Sabtu itu, hanya mampu 12 kali
Suprio mengeluhkan jumlah tebaran jala berkurang drastis, hanya mampu sekitar 12 kali. Karena tenaga fisik terkuras beban berat jala. “Berhubung banyak yiyit-nya banyak… sampahnya juga banyak, berkurang tebarannya,” keluh Suprio terkait penurunan produktivitas tangkapan.
Pembersihan jala harus dilakukan secara rutin. Mereka memilih mendaratkan jala agar alat tangkap dapat berfungsi kembali. Kata Suprio, pentingnya membersihkan sisa kerak limbah, sebelum jala dilemparkan kembali ke perairan sungai.
“Harus dibersihin dulu baru ditebar… Kalau nggak dibersihin dulu ya nggak kuat tenaganya,” pungkas Suprio.

#Dominasi Spesies Jendhil dan Profil Pengukuran Populasi Ikan
Meski di tengah ancaman polusi industri. Beberapa jenis ikan asli Kali Surabaya tercatat masih mampu bertahan. Hal ini berdasarkan hasil tangkapan yang dilakukan para nelayan itu
Jenis tangkapan meliputi rengkik (Hemibagrus nemurus), jendil (Pangasius), dan bader merah (Barbonymus balleroides). Ditemukan pula bader putih (Barbonymus gonionotus), palung (Hampala macrolepidota), keting (Mystus nigriceps), serta montho (Oxyeleotris marmorata).
Pendataan bersama tim sensus Kali Surabaya, yang diinisiasi Ecoton ini, mencatat total tangkapan ikan sebanyak 18 ekor. Spesies jendhil mendominasi hasil tangkapan dengan jumlah 13 ekor atau mencapai 72,22 persen. Ikan rengkik dan bader merah masing-masing tercatat sebanyak dua ekor atau 11,11 persen.
Meanwhile, spesies ikan palung hanya terdata sebanyak satu ekor atau setara dengan 5,56 persen. Pengukuran rasio jenis kelamin menunjukkan keberadaan 14 ekor ikan berjenis betina atau 77,78 persen. Populasi jantan hanya berjumlah empat ekor atau mencakup 22,22 persen dari total keseluruhan tangkapan.

Dominasi betina mengindikasikan potensi keberlanjutan proses reproduksi alami populasi ikan di sepanjang Kali Surabaya. Ukuran ikan yang berhasil ditangkap nelayan bervariasi, mulai dari ukuran sedang hingga berukuran besar. Rengkik jantan tercatat memiliki panjang total 46 cm, panjang tubuh 37 cm, dan berat 0,795 kg.
Rengkik betina terbesar yang berhasil didata memiliki panjang total 56 cm dan bobot mencapai 2,000 kg. Spesimen jendhil terbesar yang terukur berjenis kelamin betina dengan panjang total mencapai 55 cm. Jendhil betina tersebut memiliki panjang tubuh 46 cm, lebar 15 cm, dan berat 1,680 kg.
Jendhil jantan terbesar tercatat berukuran panjang total 38 cm dengan lebar tubuh sembilan cm. Untuk jenis lain, palung jantan terukur memiliki panjang total 25 cm dan lebar delapan cm. Bader merah betina memiliki panjang total 24 cm, sedangkan bader merah jantan sepanjang 20 cm. Data ini membuktikan ketahanan ekosistem ikan Kali Surabaya di tengah kepungan limbah industri.***