Lewati ke konten

Bawa Nilai Hablumminal ‘Alam, IAI Hasanudin Kediri dan ECOTON Gembleng Maba Soal Kerusakan DAS Brantas

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • IAI Hasanudin dan ECOTON mengedukasi 80 mahasiswa baru tentang pencemaran sungai, mikroplastik, sampah plastik, dan tanggung jawab lingkungan.
  • ECOTON mengingatkan kondisi Sungai Brantas yang menghadapi pencemaran, termasuk fenomena ikan mati massal saat musim kemarau.
  • Mahasiswa IAI Hasanudin didorong menjadi penggerak perlindungan sungai melalui advokasi berbasis data dan pengurangan sampah dari lingkungan kampus.
  • Sampah popok, plastik, dan limbah industri menjadi ancaman ekosistem sungai yang dibahas ECOTON dalam kegiatan PBAK IAI Hasanudin.
  • Edukasi lingkungan di IAI Hasanudin mendorong mahasiswa menerapkan pengurangan sampah dan memperkuat gerakan perlindungan sungai bersama masyarakat.

Penulis: Muhammad Isomudin, selama ini aktif sebagai Project Officer Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK), program ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation).

INSTITUT Agama Islam (IAI) Hasanudin Kediri menggandeng ECOTON mengedukasi 80 mahasiswa baru tentang pencemaran sungai. Edukasi tersebut menjadi bagian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).

Forum itu menghubungkan keunggulan akademik dengan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai tersebut dirumuskan melalui hablumminallah, hablumminannas, dan hablumminal ‘alam.

Koordinator Kampanye dan Edukasi ECOTON Alaika Rahmatullah memaparkan kondisi sungai saat ini. Ia menyebut kualitas sungai Brantas terus menghadapi tekanan pencemaran. Menurut Alaika, fenomena ikan mati massal terjadi setiap kemarau. Kondisi ini, kata Alaika, menunjukkan kualitas air yang tidak mendukung kehidupan biota.

“Sungai saat ini kondisinya sudah kritis dan memprihatinkan. Masyarakat, akademisi, dan praktisi harus terlibat, memiliki tanggung jawab menjaga sungai, “ ujar di depan mahasiswa baru IAI Hasanudin Kediri, Sabtu, (12/9/2026).

Menurutnya, Sungai Brantas juga menjadi sumber air baku bagi warga Kota Surabaya. Karena itu, perlindungan sungai perlu menjadi bagian pendidikan lingkungan.

Alaika mengaitkan kepedulian sungai dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam. Ia menyebut istilah sungai atau nahr dan anhār muncul dalam Al-Qur’an. Ia juga merujuk Surah Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan lingkungan.

BACA JUGA:  Hujan Mikroplastik dari Milan sampai Malang: Ketika Langit Turun Hujan Deras Ternyata Sampah Manusia Sendiri

“Kalau kita mengutip surat itu, kerusakan alam atau lingkungan yang terjadi, sangat berkaitan dengan aktivitas manusia, ‘ ucap Alaika.

Pemateri menyampaikan bahaya sampah plastik, sementara botol sekali pakai terlihat digunakan peserta selama kegiatan berlangsung. | Foto: Muhammad Isomudin

#Popok dan Plastik Mengancam Ekosistem Perairan

Selanjutnya, Alaika juga memaparkan persoalan sampah popok di kawasan hilir sungai. Menurutnya, kondisi air di sejumlah kawasan semakin hitam dan berbau.

“Sampah popok yang mengandung berbagai senyawa kimia, banyak kita jumpai di sepanjang aliran sungai. Kita tahu, sampah popok itu sangat berpotensi mengganggu hormone, “ ucap Alaika.

Temuan ECOTON, menurutnya, menunjukkan potensi gangguan reproduksi pada ikan. “Dampak jangka panjangnya bisa membuat kepunahan ikan. Ikan mengalami gangguan reproduksi ketika mengalami kondisi interseks, “ jelas sarjana Biologi dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang) ini.

Pencemaran sungai juga disebut, Alaika berkaitan dengan aktivitas industri. ECOTON selama fokus mencermati buangan industri kertas hingga penyedap makanan.

Selain itu juga menyoroti persoalan plastik dalam industri daur ulang. Karena yang terjadi saat ini, sampah plastik yang masuk bersama bahan baku dapat berakhir dibakar. Pembakaran plastik, kata Alex, sapaan Alaika, berpotensi melepaskan polutan berbahaya ke lingkungan. ECOTON menilai pengelolaan plastik masih menghadapi keterbatasan serius.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Dalam pemaparannya, hanya sekitar dua persen plastik didaur ulang. Sebagian besar lainnya belum dapat dikelola kembali secara optimal. Proses daur ulang plastik itu, umumnya mengalami penurunan kualitas. Kondisi ini tentu saja, turut memperpanjang persoalan sampah plastik setelah digunakan, “ urai Alex.

Mahasiswa mengikuti edukasi lingkungan, namun botol plastik sekali pakai masih digunakan dalam acara membahas sampah. | Foto: Muhammad Isomudin

#Mahasiswa Diminta Bergerak Berbasis Data

Sementara itu, mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam Alfinatus Sa’diah, mengapresiasi materi yang disampikan Alaika. Ia berpendapat, persoalan sampah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat desa.

BACA JUGA:  Limbah Dua Industri Mojokerto Lampaui Baku Mutu, Beban Pencemar Sungai Jadi Sorotan Serius

“Materi ini sangat bagus dan relevan dengan kondisi kampung saya. Masih terdapat banyak titik timbulan sampah liar di mana-mana, “ ucap Alfinatus.

Alfinatus berharap pengelolaan sampah, bisa terintegrasi dibangun hingga tingkat desa. Ia pun mengusulkan pembentukan bank sampah sebagai bagian penguatan pengelolaan.

“Maka sangat perlu sekali dibangun bank sampah, yang terkeloa dengan baik, “ usulnya.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa juga mempertanyakan solusi bagi desa. Pertanyaan tersebut mencakup desa yang belum memiliki bank sampah. Mahasiswa lainnya mempertanyakan keberlanjutan tekanan publik terhadap industri. Mereka mengaitkannya dengan penerapan tanggung jawab produsen atau EPR.

ECOTON mendorong warga membangun kelembagaan lingkungan berbasis komunitas. Warga dapat melibatkan RT, RW, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat. Kelembagaan tersebut dapat diperkuat melalui peraturan desa atau surat keputusan. Mahasiswa juga didorong membangun jejaring advokasi berdasarkan data lapangan.

Advokasi dapat diarahkan kepada korporasi untuk memperbaiki desain kemasan. Gerakan guna ulang juga dinilai perlu diperluas melalui komunitas.

Presiden Mahasiswa IAI Hasanudin Idris menilai edukasi lingkungan penting bagi mahasiswa. Menurutnya, kampus dapat menjadi ruang pembentukan kesadaran lingkungan.

“Kami ke depan juga akan menerapkan prinsip pengurangan sampah. Gerakan harus kita mulai dari lingkungan kampus, “ ucapnya.

Idris juga mengatakan mahasiswa berencana membawa praktik pengurangan sampah kepada masyarakat. Upaya ini, kata Idris, akan dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

“Perubahan dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana setiap individu. Selanjutnya, kebiasaan tersebut dapat diterapkan bersama keluarga dan masyarakat, “ kata Idris.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *