Lewati ke konten

Alarm Ekologis Kali Surabaya dan Langkah Petro Tirta – PT Petrokimia Gresik (Persero) Pulihkan Habitat Ikan

| 5 menit baca |Advertisement | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Sensus Kali Surabaya menemukan 80 persen ikan tertangkap betina, memperkuat kekhawatiran terhadap gangguan ekosistem dan keberlanjutan populasi ikan lokal terkini.
  • Kerusakan habitat Kali Surabaya mendorong Petro Tirta, Ecoton, dan Wadulink Sumengko mengembangkan konservasi ikan lokal serta restorasi bantaran sungai bersama.
  • Dua belas spesies ikan lokal dinyatakan punah, sementara pencemaran, perubahan habitat, spesies asing, dan penangkapan berlebihan terus mengancam keberadaan ikan.
  • Petro Tirta membangun tiga kolam semi-RAS berukuran 4×5 meter untuk pembenihan bader putih, bader merah, dan ikan gabus lokal tersebut.
  • Amalia Fibrianty menyerukan pemulihan sungai, menegaskan penebaran ikan harus disertai pengendalian pencemaran dan perbaikan habitat secara menyeluruh di Kali Surabaya.

 

BANTARAN Kali Surabaya di Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, tampak lengang pada pertengahan September 2026. Aliran air berwarna kecokelatan membelah kawasan permukiman dan industri. Sampah plastik dan popok sekali pakai mengapung di permukaan air.

Di sudut lain, beberapa industri membuang limbah cair langsung ke badan sungai. Sungai yang semula bening kini tercemar limbah pabrik. Pendangkalan sungai juga terjadi di Kawasan Lebaniwaras, desa yang berbatasan langsung dengan Sumengko.

Tak ada lagi cerita anak-anak bermain di sepanjang aliran Kali Surabaya seperti dulu. Hanya sejumlah pemancing yang duduk berjam-jam menunggu kail disambar ikan. Warga kini memilih menjauh dari kondisi sungai yang memburuk.

Beberapa hari kemudian, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Perum Jasa Tirta (PJT) I, dan tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) berkumpul di bantaran sungai. Mereka menggelar tebar benih, sekaligus membahas kerusakan ekosistem Kali Surabaya yang kian parah. Sensus sungai pun digelar untuk memetakan kondisi perairan pada Jumat – Ahad, 11–13 September 2026.

BACA JUGA:  Mikroplastik, Panas, dan El Niño: Ancaman Baru bagi Ekosistem Bulukumba
Koordinator Petro Tirta, Amalia Fibrianty, menimbang ikan jendil dalam kegiatan Sensus Sungai Kali Surabaya. | Foto: Supriyadi

Hasil pengukuran di beberapa titik menunjukkan temuan yang memprihatinkan bagi habitat air tawar itu. Sebanyak 80 persen populasi ikan yang tertangkap merupakan betina. Temuan ini menjadi petunjuk kuat adanya gangguan sistem reproduksi akibat pencemaran perairan.

#Dominasi Ikan Betina dan Ancaman Kepunahan Spesies

Ketimpangan rasio kelamin ikan memperlihatkan ketertekanan ekosistem yang semakin parah. Peneliti menemukan 12 spesies ikan lokal kini dinyatakan punah dari perairan tersebut. Perubahan suhu, masuknya spesies asing, dan penangkapan berlebihan mempercepat penurunan populasi. Limbah cair industri dan rumah tangga memperburuk kualitas air baku sungai. Ikan lokal kehilangan tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak.

Kondisi ini mendorong lahirnya kolaborasi program Petro Tirta dengan melibatkan ECOTON, PT Petrokimia Gresik (Persero), dan komunitas Warga Peduli Lingkungan (Wadulink) Sumengko. Gerakan ini mengusung misi Merawat Ikan, Merawat Sungai untuk memulihkan daya dukung lingkungan. Pemulihan menyasar perlindungan habitat sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat bantaran.

Fasilitas budidaya konservasi Petro Tirta menggunakan tiga kolam berukuran 4×5 meter dengan sistem semi-RAS untuk melestarikan ikan lokal Kali Surabaya. | Desain Petro Tirta/AI

Koordinator Petro Tirta, Amalia Fibrianty, menyatakan bahwa ancaman terhadap habitat air sudah mencapai tahap kritis. Kerusakan lingkungan sungai berdampak langsung pada kelangsungan hidup biota di dalamnya.

“Menjaga ikan bukan hanya soal ikan. Kita sedang menjaga rumahnya,” kata Amalia kepada TitikTerang, Senin (14/9/2026).

Amalia menjelaskan bahwa perubahan kondisi air memaksa biota sungai beradaptasi secara ekstrem. Ikan tidak hilang secara tiba-tiba dari aliran sungai. Penurunan kualitas air, gangguan aliran, dan hilangnya vegetasi sempadan menjadi penyebab utama. Kepunahan spesies lokal akan memutus rantai makanan alami di sepanjang perairan.

“Ini bisa saja nantinya, dengan kepunahan spesies ikan lokal akan memutus rantai makanan alami di sepanjang perairan sungai,” ungkap Amalia.

#Langkah Konservasi Melalui Sistem Pembenihan Semi-RAS

Program Petro Tirta membangun fasilitas budidaya konservasi di Desa Sumengko. Fasilitas ini menggunakan tiga unit kolam berukuran masing-masing 4 × 5 meter. Setiap kolam dilengkapi sistem filtrasi semi-RAS menggunakan tong penyaring khusus. Air diangkat dari Kali Surabaya melalui saluran intake menuju kolam pemeliharaan. Air tersaring kemudian dialirkan kembali ke sungai melalui saluran outlet yang terkontrol.

Fasilitas tersebut difokuskan untuk mengembangbiakkan tiga jenis ikan lokal Kali Surabaya. Spesies yang dibudidayakan meliputi bader putih (Puntius gonionotus), bader merah (Puntius semifasciolatus), dan kuthuk atau gabus (Channa striata).

“Bader putih dan bader merah ini nanti, berperan penting menjaga keanekaragaman hayati di Kali Surabaya. Sementara ikan gabus bertindak sebagai predator alami yang mengendalikan populasi spesies lain,” jelas Amalia.

Kondisi Kali Surabaya tak hanya menghadapi limbah industri, tetapi juga dipenuhi sampah yang tersangkut di bantaran sungai. | Foto: Fully Syafi

Selain pembenihan, aksi pemulihan dilakukan dengan menanam 250 bibit tanaman di sempadan sungai. Penanaman pohon bertujuan memperkuat struktur tanah tepi sungai dari ancaman erosi. Pemulihan sempadan juga menyediakan ruang berlindung alami bagi benih ikan. Pembudidayaan ikan lokal ditujukan untuk kegiatan pelepasan kembali atau restocking secara berkala.

“Keberadaan ikan lokal bisa kita bilang merupakan indikator utama kesehatan ekosistem Kali Surabaya. Menjaga kelestarian ikan sama artinya dengan merawat tempat hidup masyarakat di sekitarnya,” ungkap Amalia.

#Restorasi Habitat Menjadi Kunci Keberlanjutan Sungai

Penebaran benih ikan ke sungai tidak akan efektif tanpa perbaikan ekosistem secara menyeluruh. Amalia juga mengimbau semua pihak fokus pada pemulihan kualitas air sungai. Penebaran ikan tanpa pengendalian pencemaran hanya menjadi langkah kesiangan yang sia-sia.

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menunjukkan ikan jendil hasil tangkapan dalam kegiatan Sensus Kali Surabaya. | Foto: Fully Syafi

“Jangan hanya tebar ikan, pulihkan juga sungainya,” tegas Amalia, yang juga Communication Master dari Universitas Brawijaya ini.

BACA JUGA:  MOZAIK: Alga Jeruk Penangkap Mikroplastik Kali Tebu?

Amalia menambahkan bahwa keberhasilan program konservasi diukur dari daya dukung sungai. Sungai harus mampu menjadi habitat yang mendukung populasi ikan secara sehat dan beragam. Keberadaan 12 spesies yang punah menjadi sinyal bahaya bagi pengelola perairan. Pemulihan Kali Surabaya memerlukan komitmen jangka panjang dari industri dan warga.

Masyarakat sekitar kini dilibatkan aktif dalam memantau kualitas air dan perkembangan ikan. Pelatihan pemantauan diberikan kepada warga, sekolah, dan komunitas lokal di Wringinanom.

“Kita mengajak warga agar menjaga lingkungan, terutama tidak membuang sampah maupun limbah apa pun ke sungai. Pemulihan Kali Surabaya ini kita harapkan mampu menciptakan air yang terjaga, ikan lestari, dan masyarakat sejahtera,” pungkas Amalia.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *