Lewati ke konten

Gebrakan Generasi Muda di Bantaran Sungai: Dari Detektif Ikan hingga Suara Kritis Pelajar!

| 9 menit baca |Pelajar Mbois | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Ratusan pelajar SMA menyatu dengan alam di Kali Surabaya Festival 2026, meneliti kualitas air sungai dan menyuarakan pesan kelestarian!
  • Menjadi detektif sungai hingga bikin poster kampanye kreatif, Chantika Amira bagikan pengalaman seru selama lima hari belajar di bantaran!
  • Menjaga air baku hingga pelestarian 35 jenis ikan lokal, Amalia Rahargi soroti aksi nyata kolaborasi Program PETRO-TIRTA dan warga!
  • Quinnsha Cavalry lontarkan orasi menohok bagi para pencemar: stop buang sampah karena Kali Surabaya bukan tempat pembuangan limbah kita!
  • Dari riset mikroplastik hingga aksi nyata di Wringinanom, tulisan pelajar Gresik-Sidoarjo buktikan kepedulian kaum terpelajar menjaga ekosistem sungai kita!

KALAU kamu pikir festival itu cuma soal konser panggung megah atau jajanan yang bikin kantong bolong, siap-siap buat dibuat terpukau! Kali Surabaya Festival 2026—yang digelar pada 21–25 September 2026 di Taman Suaka Ikan bantaran Kali Surabaya kelolaan ECOTON—hadir sebagai ajang edukasi ekologi paling seru, tajam, dan beneran tak ada bandingannya! Di sini, ratusan pelajar menyatu dengan alam, meneliti air sungai secara langsung, hingga menyuarakan kritik sosial yang membakar semangat kepedulian lingkungan.

Kumpulan catatan inspiratif dari Chantika Amira Ramadhani (SMAN 1 Driyorejo Gresik), Amalia Rahargi (SMAN 1 Tarik Sidoarjo), dan Quinnsha Cavalry A.Y / Alry (SMAN 1 Tarik Sidoarjo) menyajikan petualangan belajar yang penuh daya pikat. Mulai dari keseruan aksi River Detective dan pembuatan poster kampanye kreatif bersama Bapak Prigi Arisandi pendiri ECOTON, pentingnya mengatasi tantangan sedimentasi serta pelestarian 35 jenis ikan lokal lewat Program PETRO-TIRTA, hingga orasi menohok yang mengingatkan kita semua bahwa Kali Surabaya Bukan Tong Sampah Kita!

Selamat membaca dan mari rasakan sendiri energi perubahan dari generasi muda yang siap pasang badan demi kelestarian sungai kita![]

Keren dan berani banget! Kawan-kawan siswi ini tampil kompak membentangkan poster kritis. Lewat tulisan tajam “Indonesia Gelap Sampah Plastik Meluap” dan “Limbah Industri Cemari Sungai, Pemerintah Abai Ikan Terbantai”, anak-anak SMA ini membuktikan kalau kaum terpelajar nggak pernah ragu buat pasang badan demi kelestarian Kali Surabaya! | Foto: Supriyadi


Chantika Amira Ramadhani
Kelas: XI | SMAN 1 Driyorejo Gresik

Dari Ikan sampai Poster: Serunya Lima Hari Kali Surabaya Fest 2026

HAII! Kenalin, aku Chantika dari Kelas 11 SMAN 1 Driyorejo! Hari ini aku mau cerita serunya ikut kegiatan sekaligus belajar lebih dalam tentang Kali Surabaya di gelaran Kali Surabaya Fest 2026!

Kalau mendengar kata “festival”, yang kebayang di pikiran mungkin panggung megah, konser musik, atau deretan jajanan yang bikin dompet mendadak tipis. Tapi Kali Surabaya Fest 2026 punya konsep yang beda banget. Selama lima hari berturut-turut, dari Senin sampai Jumat, 21–25 September 2026, kawasan sungai disulap jadi pusat kegiatan seru buat mengenal lingkungan, kehidupan ikan, sampai menyoroti masalah ekologi di sekitar kita.

Hari pertama dibuka dengan agenda super seru: River Detective. Puluhan pelajar diajak jadi “detektif sungai” buat mengidentifikasi ikan lokal Kali Surabaya. Sekitar 50 siswa SMA, MA, dan SMK antusias ikut dalam kegiatan ini. Kita nggak cuma duduk manis mendengarkan materi, tapi harus menyelesaikan berbagai misi tantangan—mulai dari mengenali jenis ikan, membaca kondisi air dari kacamata ikan, sampai mencari solusi buat menjaga habitatnya.

BACA JUGA:  Udara Bersih Belum Tentu Aman: Mikroplastik Mengintai di Setiap Tarikan Napas

Dari aksi detektif ini, terungkap fakta kalau masih banyak pelajar yang belum kenal spesies ikan di sungai sekitar mereka. Bahkan dari 50 peserta, 26 orang mengaku baru pertama kali tahu jenis ikan lokal Kali Surabaya. Padahal, sungai ini masih jadi rumah bagi banyak spesies unik. Nah, setelah kenalan sama para penghuninya, bahasan mulai mengalir ke kondisi sungainya sendiri.

Hari kedua membawa peserta buat melihat sungai bukan sekadar aliran air biasa, tapi bagian dari kehidupan yang punya hak buat tetap bersih dan sehat. Isu pencemaran, sampah plastik, dan ancaman mikroplastik mulai dibedah dengan pendekatan yang relevan sama keseharian anak muda.

Memasuki hari ketiga, peserta nggak cuma diskusi teori—kita turun langsung ke lapangan! Dalam kegiatan uji kualitas air dan pengamatan biotilik, ditemukan 27 partikel mikroplastik dalam 500 ml sampel air Kali Surabaya. Kita juga mencatat kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yang drop di angka 0,1 mg/L, serta menemukan 35 individu makroinvertebrata.

Angka-angka itu mungkin kelihatan kaya data praktikum biologi biasa. Tapi pas kita lihat dan amati langsung di tepi sungai, ancaman pencemaran jadi terasa makin nyata. Ternyata krisis lingkungan itu bukan cuma teori di buku pelajaran!

Setelah tiga hari berkutat dengan riset ikan dan kondisi air, hari keempat giliran ide kreatif yang turun tangan.

Puluhan pelajar dari tingkat SD sampai SMA mengikuti Training Class Poster Kampanye Sungai pada Kamis, 24 September. Pematerinya keren banget, langsung disampaiin oleh Prigi Arisandi, pendiri ECOTON. Kita diajak belajar bikin poster kampanye yang bukan cuma estetik, tapi punya pesan sosial yang tajam dan mengena.

Peserta lalu dibagi ke dalam kelompok kecil berisi tiga orang buat mengeksekusi poster bertema “Manfaat Sungai dan Peduli Lingkungan”. Ada yang kebagian tugas menggambar, merangkai kata-kata naratif, sampai sibuk mewarnai. Namanya juga kerja kelompok, pasti ada sedikit drama seru, kaya peserta yang kelupaan bawa alat warna sampai harus pinjam sana-sini. Tapi justru momen-momen kecil kaya gitu yang bikin suasana makin hidup!

Poster karya teman-teman akhirnya bukan cuma pajangan tugas. Di dalamnya tersimpan suara kritis anak muda tentang kondisi sungai yang kita saksikan langsung. Ada yang mengajak warga stop buang sampah ke sungai, ada yang menyoroti bahaya limbah, sampai mengingatkan kalau biota air juga butuh ruang hidup yang layak.

Alur rangkaian acara selama lima hari ini bener-bener tersusun rapi dan berkesan. Kita diajak kenalan dulu sama penghuni sungainya, melihat kondisi rumahnya, menemukan akar masalahnya, lalu diajarin cara menyuarakannya ke publik.

Langkah ini penting banget mengingat Kali Surabaya adalah urat nadi ekosistem. Dalam sensus ECOTON bersama PT Petrokimia Gresik lewat Program Petro Tirta pada September 2026, tercatat ada 71 ekor ikan dari tujuh jenis lokal, yakni Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem/Muntho, dan Muraganting. Ikan Jendil jadi spesies yang paling mendominasi dengan total 44 ekor (sekitar 65 persen).

BACA JUGA:  Dari Halmahera ke Lakardowo Mojokerto: Saat Aktivis Sagea Belajar Menyapa Sungai dengan Ilmu dan Empati

Jadi pas kita bicara soal menjaga sungai, yang kita lindungi bukan cuma airnya aja. Ada ikan, tumbuhan, biota mikro, dan seluruh ekosistem yang menggantungkan hidup di sana.

Lima hari di Kali Surabaya Fest 2026 ngebuktiin kalau belajar isu lingkungan itu gak harus kaku dan bikin ngantuk. Bisa dikemas lewat permainan edukatif, observasi lapangan, diskusi interaktif, sampai poster karya visual yang penuh warna.

Menjaga sungai memang gak harus selalu dimulai dari gerakan raksasa. Kita bisa mulai dari hal paling dekat: kenal satu jenis ikan lokal, paham satu masalah pencemaran, mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, atau simpelnya berhenti buang sampah sembarangan.

Sebab setelah tahu kehidupan di dalamnya dan ancaman yang mengintai, rasanya makin susah buat kita tinggal diam dan cuek.

Inilah oleh-oleh paling berharga dari Kali Surabaya Fest 2026: bukan cuma kenangan lima hari yang seru, tapi alasan kuat buat kita semua untuk lebih peduli pada sungai yang selama ini sering kita lewati begitu saja!***

Keren banget aksi adik-adik dari MI Darunnajah Lebanisuko, Wringinanom ini! Keterlibatan mereka di Kali Surabaya Festival 2026 bener-bener bikin salut. Sambil asyik mewarnai gambar ikan endemik Kali Surabaya, mereka menyalurkan kepedulian sejak dini—bukti nyata kalau adik-adik kita ini nggak ingin ikan-ikan lokal itu hilang dari sungai kita! | Foto: Supriyadi

Amalia Rahargi
Kelas: 11 SMAN 1 Tarik, Sidoarjo

Kali Surabaya dan Upaya Pelestariannya: Menjaga Air Baku, Habitat Ikan, dan Masa Depan Kita

KEBERADAAN Kali Surabaya punya peran yang super vital buat keberlangsungan hidup warga di Jawa Timur. Sebagai salah satu cabang utama dari Kali Brantas, alirannya mengular dari Mojokerto, melintasi Sidoarjo dan Gresik, hingga membelah Surabaya sebelum akhirnya bermuara di Selat Madura. Aliran sungai ini memegang banyak fungsi krusial: mulai dari pasokan air irigasi pertanian, bahan baku utama PDAM, kebutuhan industri, sampai benteng utama pengendalian banjir.

Namun di balik peran besarnya, ada ancaman serius yang terus mengintai, salah satunya masalah sedimentasi. Proses ini terjadi pas material lumpur, pasir, dan kerikil terbawa arus lalu mengendap di dasar sungai. Kalau pembiaran terjadi dan sedimentasi makin menumpuk, sungai bakal mengalami pendangkalan parah yang memangkas kapasitas tampung air. Dampaknya jelas mengerikan: risiko luapan air alias banjir bakal meningkat drastis, terutama pas debit air melonjak tinggi di musim penghujan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Nggak cuma ancaman pendangkalan, kesehatan ekosistem dan keanekaragaman hayati Kali Surabaya juga butuh perhatian ekstra. Pada 11 September 2026 lalu di Wringinanom, Gresik, digelar aksi pelepasan ribuan benih ikan lokal seperti Tawes, Tombro, dan Gabus ke aliran Kali Surabaya. Aksi ini merupakan bagian dari kolaborasi Program PETRO-TIRTA yang melibatkan ECOTON, PJT I, BBWS Brantas, pemerintah, elemen perusahaan, komunitas, warga, hingga teman-teman pelajar.

BACA JUGA:  Kepo Sama Ikan Lokal Kali Surabaya? Intip Aksi Seru Pelajar di Sini!

Rangkaian kegiatan tersebut nggak cuma sebatas tebar benih ikan, tapi juga diisi edukasi lingkungan interaktif, susur sungai lewat wisata perahu, pembangunan kolam budidaya ikan lokal, sampai agenda sensus ikan. Data ECOTON mencatat kalau Kali Surabaya sebenarnya masih menjadi rumah bagi sekitar 35 jenis ikan air tawar. Tapi kelangsungan hidup ikan-ikan ini sangat bergantung pada kejernihan air dan kualitas habitatnya. Tebar benih ikan nggak akan ada artinya kalau kita masih membiarkan sampah dan limbah meracuni aliran air.

Pelestarian Kali Surabaya pada akhirnya bukan cuma soal kerja bakti memunguti sampah di pinggir sungai. Kita dituntut buat menjaga kualitas air baku, melindungi habitat ikan lokal, menekan pencemaran dari hulu, mengatasi masalah sedimentasi, serta membangun kepedulian bersama. Lewat kolaborasi yang makin solid antara pemerintah, perusahaan, komunitas lingkungan, sekolah, dan warga, Kali Surabaya bakal tetap berdiri kokoh sebagai sumber kehidupan sekaligus rumah yang aman bagi biota perairan!***

Bu Guru panutan memang beda! Bu Mai, guru dari SMAN 1 Tarik, Sidoarjo ini telaten banget mendampingi para siswanya selama kegiatan Kali Surabaya Festival 2026. Nggak cuma ngarahin, beliau juga semangat mengabadikan momen seru pas anak-anak lagi aksi heboh bareng maket ikan besar! Guru suportif kaya gini nih yang bikin agenda belajar lingkungan jadi makin berkesan dan seru! | Foto: Supriyadi

Quinnsha Cavalry A.Y (Alry)
Kelas XI | SMAN 1 Tarik Sidorjo

KALI SURABAYA BUKAN TONG SAMPAH!

Kita minum air.

Kita mandi pakai air.

Kita hidup karena air.

Tapi kenapa sungai kita perlakukan kaya tempat pembuangan dosa manusia?

Di Jawa Timur, Kali Surabaya memegang peran yang super penting sebagai bagian dari sistem Sungai Brantas. Alirannya jadi urat nadi kehidupan, tempat bertumpunya ekosistem, biota air, hingga jutaan manusia yang butuh pasokan air bersih setiap hari.

Lalu apa yang kita kasih balik buat sungai?

Sampah. Limbah. Mikroplastik. Racun.

Dan pas kondisi sungai makin tercemar dan sekarat, kita masih aja punya keberanian buat ngeles:

“Cuma buang satu sampah doang. Emang ngaruh?”

Ngaruh banget!

Karena satu sampah dari satu orang, ditambah satu sampah dari orang lain, lalu dikali ribuan manusia yang berpikir dangkal kaya gitu, hasilnya adalah satu sungai yang hancur dan sekarat!

Sejak tahun 1996, ECOTON terus konsisten bergerak lewat riset lapangan, edukasi publik, sampai advokasi lingkungan demi melindungi ekosistem perairan. Mereka berjuang keras mendobrak pola pikir masyarakat agar berhenti menganggap pencemaran sungai sebagai sesuatu yang wajar atau biasa saja.

Jadi masalah utamanya bukan cuma soal siapa yang membuang sampah ke aliran air.

Masalah terbesarnya adalah kenapa kita membiarkan kebiasaan buruk itu terus dianggap normal!

Kita nggak butuh lebih banyak orang yang cuma pandai bilang, “Duh, kasihan ya sungainya.”

Kita butuh orang-orang yang beneran bertindak dan berhenti meracuninya!

STOP RACUNI SUNGAI!

STOP NORMALISASI SAMPAH!

KALI SURABAYA BUKAN TONG SAMPAH KITA!***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *