Lewati ke konten

Krisis Air di Lereng Gunung Anjasmoro: Sungai Gogor Wonosalam Jombang Mengering

| 4 menit baca |Reportase | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Marga Bagus
  • Kemarau panjang ekstrem di lereng Gunung Anjasmoro menyebabkan aliran Sungai Gogor di Jombang mengalami kekeringan terparah, memaksa warga melakukan pembagian waktu giliran penggunaan air bersih secara ketat setiap hari.
  • Mengeringnya debit air sungai yang dikelola mandiri oleh Hipam berdampak langsung pada warga di tiga dusun, mengganggu sektor domestik rumah tangga, serta mengancam kelangsungan irigasi perkebunan kopi dan durian setempat.
  • Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pertanian warga, aliran Sungai Gogor yang masuk kawasan DAS Brantas juga memiliki fungsi edukasi penting bagi kegiatan penelitian biotilik siswa SMPN 1 Wonosalam.
  • Krisis air parah ini diduga kuat diperparah oleh masifnya aktivitas alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kopi di kawasan hulu Taman Hutan Raya Raden Soerjo akibat pengawasan yang lemah.
  • Perkumpulan Telapak Jawa Timur mendesak pemerintah segera turun tangan menata ulang konservasi hulu serta menertibkan berbagai pihak demi menciptakan keadilan dalam pemanfaatan sumber air bersih secara berkelanjutan.

KEMARAU panjang yang melanda kawasan Jawa Timur membawa dampak parah bagi kehidupan warga di lereng Gunung Anjasmoro. Aliran Sungai Gogor yang terletak di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, mengalami kekeringan ekstrem.

Kondisi tersebut terungkap dalam perbincangan santai di Kedai Senja Wonosalam bersama warga setempat, Yusuf dan Susanto. Mereka mengungkapkan, penurunan debit air sebenarnya merupakan fenomena yang rutin terjadi setiap tahun. Kendati demikian, kemarau pada tahun ini dirasakan sebagai yang paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Dampak dari keringnya aliran sungai akibat kemarau panjang ini sangat kami rasakan. Kondisi seperti ini (debit air menurun) terjadi setiap tahun, tapi tahun ini yang paling parah,” ujar Yusuf, Ahad malam, 1 November 2026.

Seorang warga berdiri di aliran Sungai Gogor, Wonosalam, Jombang, yang kini mengalami kekeringan. Sungai yang biasanya mengalir dengan suara gemericik tersebut kini menyisakan bebatuan dan dasar sungai yang kering. | Foto: Supriyadi

Mereka tidak ingat mulai kapan air di Sungai Gogor ini mulai mengering. Tapi kata Susanto, hal itu baru terasa ketika warga bergiliran memanfaatkan air. Air keluar dari pipa hanya satu jam.

BACA JUGA:  Brunei ke Jombang, Bukan ke IKN: Warsubi Lebih Gesit dari Menteri

“Biasanya air dari pipa ledengnya itu keluar jam 5 sampai 7 pagi. Itu kita, warga ini, gantian,” ucap Susanto.

Sebagaimana diceritakan mereka, sumber air di Sungai Gogor selama ini dikelola secara mandiri oleh Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hipam). Mengeringnya aliran sungai ini memaksa warga di tiga dusun, yakni Dusun Sumber Gogor, Mangir Rejo, dan Wonosalam, Desa Wonosalam, harus rela mengantre secara bergiliran demi mendapatkan pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga.

Tidak hanya sektor domestik, para petani di wilayah tersebut juga dihadapkan pada situasi pelik. Aliran irigasi yang biasanya diandalkan untuk menyirami lahan perkebunan durian dan kopi kini ikut terganggu, memicu kekhawatiran mendalam akan ancaman penurunan hasil panen.

“Ya untuk menyiram kopi, duren itu lho, mas,” ucap Yusuf.

Sungai Gogor bukan hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan warga dan menyirami pertanian. Sungai yang hulunya berlokasi di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas ini. juga memiliki fungsi penting di bidang pendidikan. Aliran sungai ini kerap digunakan Polisi Air bentukan siswa SMPN 1 Wonosalam untuk kegiatan penelitian biotilik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Yusuf dan Susanto menceritakan kondisi ketersediaan air bersih yang semakin terbatas di Sungai Gogor, Wonosalam, Jombang, saat berbincang di Kedai Senja, Ahad malam, 1 November 2026. | Foto: Supriyadi

Alih Fungsi Lahan di Tahura Raden Soerjo

Menanggapi krisis lingkungan ini, Gubernur Perkumpulan Telapak Jawa Timur, Amiruddin Muttaqin, melayangkan kritik tajam terkait lemahnya pengawasan di kawasan konservasi Tahura Raden Soerjo yang menjadi hulu Sungai Gogor. Menurutnya, kawasan tangkapan air tersebut seharusnya berada di bawah pengawasan ketat.

Ia menduga, anjloknya debit air sungai secara drastis ini, tidak semata-mata dipicu faktor cuaca ekstrem. Tapi sebut Amiruddin, diperparah oleh masifnya aktivitas alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kopi.

BACA JUGA:  Alarm Ekologis Kali Surabaya dan Langkah Petro Tirta - PT Petrokimia Gresik (Persero) Pulihkan Habitat Ikan
Sungai Gogor di Wonosalam, Jombang, yang mengering saat kemarau. Aliran sungai ini biasanya dimanfaatkan siswa SMPN 1 Wonosalam untuk kegiatan penelitian biotilik dan pembelajaran lingkungan. | Foto: Arum Wismaningsih

“Penyebab menurunnya debit air sungai kami duga ada aktivitas alih fungsi lahan, jadi kebun kopi,” tegas Amiruddin.

Ia sangat menyayangkan tindakan pembabatan tanaman hutan demi membuka lahan kopi baru. Padahal, menurutnya, budidaya kopi dapat dilakukan secara bijak, tanpa harus merusak ekosistem hutan penyangga.

“Mestinya harus tahu, menanam kopi itu tidak harus membabat tanaman hutan. Tanaman kopi itu kan sifatnya tumpang sari. Bisa tumbuh tanpa harus menghabisi tanaman hutan,” tambahnya.

Menyikapi permasalahan ini, Perkumpulan Telapak Jawa Timur dengan tegas, meminta pemerintah segera turun tangan menata pengaturan serta pemanfaatan air di kawasan hulu.

“Bukan hanya menata konservasi hulu, tapi juga menertibkan berbagai pihak, termasuk pengusaha air, pengelola wisata di Wonosalam ini, agar ada keadilan dalam penggunaan sumber air di sini,” tandas Amiruddin.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *