Lewati ke konten

Good Morning Tomorrow: Sungai, Kita, dan Masa Depan yang Dipertaruhkan

| 5 menit baca |Kolom | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Fio Atmadja
  • Ratusan pelajar berkumpul di tepi Kali Surabaya menyaksikan dokumenter Good Morning Tomorrow. Lewat kisah Ellana Go, mereka diajak melihat langsung luka pencemaran yang mengancam pasokan air bersih harian masyarakat.
  • Dari balik apartemen mewah hingga susur sungai 46 kilometer, film Good Morning Tomorrow menyingkap pahitnya limbah Kali Surabaya. Sebuah peringatan nyata bahwa ancaman krisis air baku sudah berada di depan mata.
  • Kualitas air Kali Surabaya kian merosot akibat limbah industri dan sampah. Melalui pemutaran Good Morning Tomorrow, generasi muda diajak menyadari pentingnya menjaga aliran sungai demi keberlangsungan pasokan air bersih kota.
  • “Air yang kita rusak akan sampai lagi saat kita menggunakannya.” Pesan tajam dari film Good Morning Tomorrow ini menggugah ratusan siswa untuk melihat krisis sungai dari sudut pandang yang berbeda.
  • Kolaborasi PJT I dan ECOTON menghadirkan Good Morning Tomorrow di Taman Suaka Ikan. Tayangan edukatif ini sukses membakar daya kritis pelajar untuk menjaga sungai sebagai penopang utama masa depan bersama.

Penulis: Supriyadi, jurnalis Titikterang.co.id

SUASANA berbeda mewarnai Taman Suaka Ikan Kali Surabaya, Jumat (9/10/2026). Ratusan pelajar dari SMK Negeri 1 Cerme Gresik, SMAN 1 Wringinanom, SMP PGRI Wringinanom, dan SMA Negeri 1 Tarik Sidoarjo berkumpul di tepian sungai.

Kedatangan kaum pelajar di lokasi itu, tujuannya tak lain, menghadiri pemutaran film dokumenter berjudul Good Morning Tomorrow, sebuah karya visual yang diproduksi selama bulan Agustus 2026 ini, telah memotret krisis kualitas air dan masa depan Kali Surabaya.

Film hasil kolaborasi Perum Jasa Tirta (PJT) I Jawa Timur dan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) ini, menyajikan pesan lingkungan secara emosional. Cerita dari film itu, bergerak melalui sudut pandang Ellana Go, siswi kelas XII SMA yang tinggal di sebuah apartemen mewah di Kota Surabaya.

BACA JUGA:  Gudang Boneka-Plastik Jombang Terbakar: Ancaman Racun, Lemahnya Pengawasan Industri, dan Peringatan ECOTON soal Bahaya Mikroplastik

Di balik kenyamanan hidupnya, lewat garapan Motion Witness ini, Ellana menyimpan keresahan mendalam. Karena tidak pernah tahu dari mana air yang ia gunakan untuk minum, memasak, dan mandi berasal.

Perspektif penonton pun kian terbuka, begitu cerita mempertemukan Ellana dengan Jofanny, artis muda yang selama ini sebagai pengelola REFILIN di ECOTON. Pengalamannya, selama ini menyusuri aliran sungai secara langsung, telah membuka tabir pahit Kali Surabaya. Bagaimana tumpukan sampah banyak tersangkut di tepi aliran, warna air yang kusam, hingga deretan pipa yang menyalurkan limbah cair.

“Yang paling membuat dadaku sesak, pemandangan ini sudah menjadi biasa,” ujar Jofanny dalam adegan film.

Melalui perjalanan sungai sepanjang 46 kilometer, dari DAM Mlirip Mojokerto hingga muara di Surabaya itu. Film yang bertindak sebagai Executive Producer Daru Setyorini Direktur Ecoton  dan Producer Prigi Arisandi, dikenal sebagai pendiri Ecoton ini, menegaskan jika kerusakan yang terjadi pada sungai ini,  sangatlah berdampak langsung pada kelangsungan hidup manusia.

Bagaimana aliran airnya sering diabaikan masyarakat sendiri. Padahal pada kenyataannya, sungai itu sangat memegang peranan krusial sebagai penopang kehidupan sehari-hari.

Beban Pencemaran dan Ancaman Air Clean

Good Morning Tomorrow juga mengupas tuntas, bagaimana kaitan antara kesehatan sungai dan proses distribusi air bersih. Saat ini, Perumda Air Minum (PDAM) Surya Sembada, sebuah perusahaan pengelola air baku BUMD Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, selama ini telah memproduksi lebih dari 12.000 liter air bersih per detik. Produksi itu untuk melayani sekitar 640.000 pelanggan. Namun, penurunan kualitas air baku akibat pencemaran kian menyulitkan proses pengolahan.

Masuknya limbah kimia terlarut dan sampah ke badan air, memaksa pengelola memutar otak. Peningkatan volume pencemar, juga menuntut penyesuaian penggunaan bahan kimia dalam proses penjernihan.

Poster pemutaran perdana film Good Morning Tomorrow bertajuk “Ketika Sungai Menjadi Masalah Personal”, yang mengangkat pesan aksi kecil untuk masa depan yang hijau. Film produksi 2026 ini menampilkan Ellana Go dan Jofanny serta disutradarai Kasan Kurdi. Pemutaran perdana digelar di Taman Suaka Ikan Desa Wringinanom, Gresik, Jumat (9/10/2026). | Dok. Ecoton

Dalam kondisi kekeruhan ekstrem, beban filter air melonjak tinggi, sehingga proses pembersihan ulang (backwash) harus dilakukan lebih sering, yang berisiko menurunkan kapasitas produksi harian.

Pesan yang disampaikan dalam film itu amat gamblang, sebenarnya. Di mana pencemaran sungai tidak berhenti di aliran air saja. Tetapi merambat langsung hingga ke kran rumah tangga masyarakat.

Urgensi Kolaborasi dan Perubahan Sikap Generasi Muda

Untuk menanggulangi ancaman krisis air, PJT I Jawa Timur telah mengoperasikan sistem pemantauan otomatis berbasis Water Quality Monitoring System (WQMS), menggelar patroli susur sungai, serta menerjunkan alat berat untuk pembersihan sampah. Meski demikian, langkah teknis ini tidak akan cukup tanpa adanya sinergi lintas sektor.

Film ini menekankan perlunya kolaborasi erat antara pengelola sumber daya air, pemerintah, instansi lingkungan hidup, penegak hukum, dan masyarakat umum. Data hasil uji laboratorium harus diperkuat dengan penindakan hukum yang tegas terhadap para pencemar industri maupun domestik.

Bagi para siswa yang hadir, pemutaran film di alam terbuka itu, telah memberikan pengalaman edukatif yang membekas. Tayangan ini mengikis persepsi bahwa isu lingkungan merupakan domain pemerintah semata.

“Air yang kita jaga atau kita rusak, akan sampai lagi kepada kita saat kita sendiri yang menggunakannya,” bunyi salah satu kutipan kunci dalam film.

Pemutaran Good Morning Tomorrow di Taman Suaka Ikan Kali Surabaya, kalau boleh dibilang telah sukses menjembatani media audio-visual, pendidikan lingkungan, dan pengamatan lapangan secara langsung.

Bagaimana setelah penayangan film, telah membuat kaum pelajar itu terlihat kritis dalam bertanya. Tentu saja dari pemutaran film, telah berhasil menggugah kesadaran generasi muda, jika merawat sungai adalah momentum penting, menyelamatkan sumber kehidupan dan masa depan bersama.***

BACA JUGA:  Ketika Tangan-Tangan Kecil Ajari Orang Dewasa Cara Rawat Pesisir Wonorejo

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *