Lewati ke konten

Ketika Tangan-Tangan Kecil Ajari Orang Dewasa Cara Rawat Pesisir Wonorejo

| 5 menit baca |Ekologis | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Anak-anak turun ke lumpur, membebaskan akar mangrove dari lilitan plastik, sambil belajar menjaga laut sejak dini.
  • Di Wonorejo, pelajaran lingkungan tidak dibaca di kelas, tetapi dipelajari langsung dari akar mangrove terlilit plastik.
  • Mangrove bernapas lewat lentisel, tetapi sampah plastik menghalangi kehidupan yang menopang pesisir dan laut Indonesia bersama.
  • Puluhan anak memungut sampah di mangrove Wonorejo, membuktikan kepedulian bisa dimulai dari langkah sederhana bersama alam.
  • Dari sungai menuju laut, sampah plastik mengancam mangrove dan akhirnya kembali ke piring makan manusia setiap hari.

 

Pagi itu, perahu melaju pelan membelah perairan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Di kiri-kanan, barisan mangrove berdiri rapat. Dari kejauhan tampak hijau dan menenangkan. Namun ketika perahu mendekat, pemandangan berubah. Akar-akar mangrove tidak hanya mencengkeram lumpur, tetapi juga menahan kantong kresek, botol minuman, kemasan sachet, sedotan, hingga sandal yang datang entah dari mana.

Mangrove tidak pernah meminta menjadi tempat penampungan sampah. Tetapi begitulah yang terjadi ketika pesisir diperlakukan sebagai tong sampah raksasa.

Hari itu, Minggu (19/7/2026), lebih dari 21 siswa homeschooling tingkat SD hingga SMP, tiga mahasiswa Universitas Brawijaya, dan relawan ECOTON datang bukan untuk berwisata. Mereka sedang mengikuti kegiatan Make Mangrove Green Again, sebuah kegiatan yang sarat makna, yaitu membebaskan akar mangrove dari lilitan plastik.

#Ketika Pohon Kehilangan Ruang Bernapas

Prigi Arisandi, pendiri ECOTON, tidak memulai pelajaran dengan angka-angka pencemaran. Ia menunjuk batang mangrove.

“Mangrove bernapas melalui lentisel. Saat plastik menutupinya, pohon kehilangan ruang untuk bernapas. Meski mangrove tetap tegak, tetapi pelan-pelan kehilangan kehidupannya,” ucap Prigi di depan para siswa.

Penjelasan Prigi membuat anak-anak memandang mangrove dengan cara berbeda. Pohon-pohon itu bukan lagi terlihat sebagai tanaman pesisir, melainkan makhluk hidup yang juga membutuhkan ruang untuk bernapas.

Mangrove di Kawasan Wonorejo itu memang sedang menyimpan pekerjaan besar yang sering luput dari perhatian. Tumbuhan ekosistem itu sebenarnya memiliki banyak fungsi; selain menahan abrasi, menyerap karbon dalam jumlah besar, dan menyaring polutan, ekosistem ini juga menjadi tempat bertelur, berlindung, serta mencari makan bagi ikan, kepiting, udang, burung, serta beragam satwa lain. Ketika mangrove rusak, laut kehilangan salah satu ruang paling penting bagi kehidupan.

“Kita menggunakan plastik hanya beberapa menit, tetapi alam harus menanggung akibatnya selama ratusan tahun,” ucap Prigi.

Plastik yang terjebak di kawasan pesisir Wonorejo ini, lanjut Prigi, akan terus dihantam sinar matahari, gelombang, dan gesekan hingga pecah menjadi serpihan mikroplastik. Semakin kecil ukurannya, semakin sulit dibersihkan.

“Ketika plastik terurai menjadi mikroplastik, benda itu tidak hilang. Mikroplastik masuk ke lumpur, terbawa air, dimakan biota laut, lalu tanpa kita sadari kembali ke piring kita,” jelas Prigi.

Siswa menyimak penjelasan mengenai manfaat mangrove sebagai pelindung pesisir dan habitat berbagai biota laut. | Foto: Fully Syafi

#Gugatan dari Balik Lumpur Pekat

Setelah mendapat penjelasan, anak-anak turun ke lumpur. Tidak ada yang mengeluh meski bau menyengat bercampur lumpur pekat. Tangan-tangan kecil itu menarik plastik yang melilit akar mangrove satu per satu.

Dalam waktu sekitar 30 menit, lebih dari 20 karung berkapasitas 25 kilogram berhasil dipenuhi sampah.

Abdullah, siswa kelas dua sekolah dasar, tampak kelelahan. Namun wajahnya justru menyimpan kegelisahan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Tadi aku habis ambili sampah plastik yang melilit akar pohon. Banyak banget sampahnya dan sulit dilepaskan dari akar pohon mangrove-nya. Sampah-sampah ini dari orang-orang yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Aku ada pesan buat orang-orang, kalau buang sampah harus di tempatnya dan kurangi pakai plastik sekali pakai karena sampahnya bisa mencemari pantai,” ucap Abdullah.

Kalimat itu terdengar tidak dibuat-buat, justri jelas mengandung pertanyaan yang layak ditujukan kepada orang dewasa: mengapa anak-anak harus membersihkan sampah yang tidak mereka hasilkan?

Nashwa, siswi kelas satu SD, juga membawa pulang pengalaman pertamanya membersihkan pantai.

“Ini pertama kali ikut bersih-bersih pantai. Sampahnya sangat banyak. Tadi aku dapat dua karung sampah yang bermacam-macam, ada botol plastik, wadah minuman kemasan sachet, sedotan, dan sampahnya bau. Jadi mulai sekarang harus bisa mengurangi pakai plastik agar tidak mencemari laut.”

Ia kemudian bercerita bahwa setiap bepergian selalu membawa botol minum dan wadah makan sendiri. Kebiasaan kecil itu mungkin tampak sepele, tetapi perubahan besar memang sering lahir dari tindakan yang paling sederhana.

Bagi Ariesta, salah satu orang tua peserta, pelajaran hari itu tidak mungkin digantikan oleh ruang kelas. Anak-anak tidak hanya mendengar cerita tentang mangrove. Mereka menyentuh lumpurnya, mencium baunya, melihat plastik yang membelit akar, lalu membersihkannya sendiri.

Meski lumpur melekat di tangan, siswa tetap bersemangat membersihkan mangrove demi menjaga kelestarian pesisir. | Foto: Fully Syafi

“Ketika anak-anak melihat, menyentuh, dan merasakan langsung kondisi lingkungan, pembelajaran menjadi jauh lebih bermakna dibandingkan hanya membacanya di kelas, ” ucapnya.

#Lebih Percaya Tindakan daripada Janji

Kegiatan seperti ini memang tidak langsung membuat laut bersih. Aksi ini juga tidak serta-merta menyelesaikan persoalan sampah plastik yang terus mengalir melalui sungai menuju pesisir. Namun setidaknya, hari itu ada sesuatu yang berhasil diselamatkan.

Bukan hanya akar-akar mangrove yang terbebas dari lilitan plastik, melainkan juga cara pandang anak-anak terhadap alam. Mereka belajar bahwa sungai, pantai, dan laut adalah satu tubuh yang saling terhubung. Sampah yang dibuang jauh di hulu pada akhirnya akan tiba di akar mangrove.

Barangkali, pelajaran paling penting justru datang dari mereka. Ketika orang dewasa masih sibuk memperdebatkan solusi pencemaran, anak-anak memilih turun ke lumpur dan bekerja.

Dan sering kali, alam memang lebih percaya kepada tindakan daripada janji.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *