- Film Good Morning Tomorrow mengajak generasi muda mengenal sungai lebih dekat. Sungai bukan sekadar aliran air, tetapi ruang kehidupan yang memiliki hak ekologis dan harus dilindungi.
- Melalui kisah Ellana, Good Morning Tomorrow mengajak penonton mempertanyakan asal air yang digunakan sehari-hari, perjalanan dari hulu ke hilir, serta ancaman pencemaran terhadap kehidupan manusia.
- Sungai memiliki batas kemampuan menampung pencemaran. Good Morning Tomorrow memperlihatkan persoalan limbah dan mengajak masyarakat menyadari pentingnya menjaga kualitas air demi kehidupan generasi sekarang dan mendatang.
- Mengambil sejumlah lokasi perairan di Jawa Timur, Good Morning Tomorrow menghadirkan persoalan kualitas air sekaligus mengajak masyarakat melihat sungai sebagai ekosistem yang perlu dihormati dan dijaga.
- Bagi generasi muda, mengenal sungai berarti memahami kehidupan. Good Morning Tomorrow mengajak Gen Z meninggalkan pandangan bahwa sungai sekadar saluran air dan mulai mengakui hak ekologisnya.

Ditulis oleh Jessica Zahratul Jannah, siswa kelas IX APL 2 SMK Negeri 1 Driyorejo yang sedang menjalani magang di Ecoton pada 11 Agustus–18 Desember 2026.
SEBELUM saya cerita lebih jauh tentang film Good Morning Tomorrow, yang pengambilan gambarnya di sepanjang Kali Surabaya dan Kali Tebu di Kenjeran Surabaya, saya ingin bertanya kepada teman-teman: apakah kalian penasaran dengan film itu?
Pastinya kalian harus penasaran dan wajib menontonnya! Sebagai pelajar dan bagian dari Generasi Z, kalian harus tahu cerita di balik film ini. Menurut saya, film Good Morning Tomorrow sangat bagus karena mengajak orang-orang, terutama kita generasi muda, untuk mencintai sungai.
Tanpa adanya sungai, sumber daya alam di sekitar kita tidak akan bisa kita nikmati dan rasakan. Bagaimana tidak? Tanpa sungai yang bersih, kita akan kekurangan sumber air dan tidak lagi mengenal habitat alami sungai.
Kalau kita sampai tidak mengenal semua itu, pastinya kita jadi tidak berpengetahuan, kan? Padahal pengetahuan itu sangat penting bagi kita. Ciri orang cerdas menurut saya adalah ketika di dalam dirinya dilengkapi pengetahuan, terutama memahami fungsi sungai. Memahami sungai pun tidak hanya sebatas melihatnya sebagai air yang mengalir begitu saja, tetapi di sana ada kehidupan yang kompleks sekaligus penopang utama bagi kelangsungan hidup manusia.
Oke, teman-teman, mari kita bicara filmnya. Sebenarnya, saya sudah menonton film ini saat diputar di pinggir Kali Surabaya, tepatnya di Taman Suaka Ikan Wringinanom, Gresik, yang dikelola ECOTON pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Di pemutaran perdana atau premiere itu, teman-teman dari wilayah berdekatan dengan lokasi acara berdatangan. Mereka menyaksikan film bersama kami yang sedang menjalani program magang di ECOTON.
Semula saya tak mengerti maksud dari film ini. Saya mengira ini film biasa, seperti sinetron yang banyak tayang di televisi atau viral di media sosial. Ternyata tidak, teman. Setelah diskusi dengan beberapa teman yang magang di ECOTON dan kembali menonton di Institut français d’Indonésie (IFI) pada Kamis, 15 Oktober 2026, film ini ternyata banyak edukasinya; bagaimana merawat sungai dan mencintai Kali Surabaya.
Padahal Kali Surabaya itu dekat rumah saya, teman. Tapi saya tak pernah menyadari kalau sungai itu juga berfungsi bagi kehidupan warga sekaligus bagian dari persoalan vital kehidupan yang harus dijaga kelestariannya.

Banyak yang Tak Tahu Fungsi Sungai
Mungkin saya, seperti yang dialami Ellana Go, seorang siswi kelas 3 SMA di Surabaya, baru menyadari persoalan sungai setelah diajak main film Good Morning Tomorrow itu. Ellana banyak bertanya tentang asal air yang digunakan manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi saya, pertanyaan Ellana itu tak sederhana, sebab hal itu saya rasakan juga. Kenapa kalau sungai menjadi sumber kehidupan manusia, justru kita cemari?
Jawabannya ternyata ada pada karakter Jofanny. Dari sini saya baru tahu, Jofanny memang paham betul persoalan Kali Surabaya karena aktif di ECOTON, yang merupakan lembaga yang fokus pada persoalan sungai. Jadi saya bisa menangkap persoalan yang terjadi di Kali Surabaya.
Pencemaran yang terjadi di Kali Surabaya bukan hanya terjadi karena limbah industri saja, yang kalau teman-teman tahu, limbahnya rata-rata dibuang ke Kali Surabaya padahal industri-industri itu juga mengambil air dari Kali Surabaya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBukan hanya industri saja, teman-teman, yang mencemari Kali Surabaya, tapi juga warga yang tinggal di sepanjang sungai itu. Mereka tidak mengelola sampah rumah tangganya dengan baik dan dibuang begitu saja ke badan sungai.
“Kita ini tanpa menyadari bahwa sungai memiliki batas kemampuan (carrying capacity) dalam menampung pencemaran.”
Sungai Memiliki Batas Kapasitas
Kalau melihat ini, teman-teman, sungai itu memiliki batas kemampuan. Meski airnya mengalir terus, kita jangan sampai berpikiran kalau membuang sampah ke sungai, “Airnya kan mengalir, nanti juga hanyut.” Tidak. Sampahnya tidak bisa hilang, teman. Sampah plastik akan terfragmentasi menjadi mikroplastik dan itu sangat berbahaya.
Seperti yang diungkapkan Jofanny dalam film itu, masyarakat sering kali menganggap remeh dan berpikir bahwa sungai akan selalu ada, tanpa menyadari bahwa sungai memiliki batas kemampuan (carrying capacity) dalam menampung pencemaran.
“Kita ini tanpa menyadari bahwa sungai memiliki batas kemampuan (carrying capacity) dalam menampung pencemaran,” begitulah kata Jofanny kira-kira.

Sungai Ternyata Memiliki Hak
Barangkali teman-teman harus tahu, dalam film ini juga disinggung hal yang pernah saya dengar dari kakak-kakak mahasiswa yang magang di ECOTON: bahwa sungai itu memiliki hak, yang mereka sebut Rights of Rivers (Hak-Hak Sungai), sebuah pandangan yang mengajak kita dari semula mengabaikan sungai jadi memperhatikannya.
Gerakan Rights of Rivers ini menegaskan bahwa sungai memiliki hak yang tak boleh dipengaruhi pihak lain. Airnya biarkan mengalir tanpa ada sampah maupun limbah. Ketika itu terjadi, sungai itu terluka, sungai itu akan sakit. Secara otomatis kehidupan kita, manusia ini, yang bergantung pada sungai pun ikut terancam.
Berbagai lokasi di daerah aliran sungai pencamaran, pengotoran sunga terjadi. Seperti Kali Porong, Kali Mlirip, dan Kali Sadar. Kali Surabaya di kawasan Karang Pilang dan kawasan Hutan Kali Surabaya. Kali Tambakwedi, Kali Tebu, serta Pintu Air Gunung Sari.
Berbagai lokasi itu mestinya harus menjadi cerminan pentingnya pengawasan kualitas air secara berkala.
Film ini juga menyelipkan pemantauan parameter teknis kekeruhan air menggunakan skala NTU (Nephelometric Turbidity Unit) yang dijelaskan oleh Alfa Aritma Novianti terkait pengolahan air minum, serta pandangan pakar dari Agung Wicaksono mewakili Perum Jasa Tirta I.
Melalui berbagai pernyataan dan sudut pandang yang disampaikan, pertanyaan saya, apakah Good Morning Tomorrow nantinya berhasil mengajak masyarakat, sadar akan fungsi sungai? Tak ada lagi pencemaran, sungai harus kita jadikan ruang hidup yang menyenangkan. Tidak brisik ulah mesin pabrik. Karena ada pesan kuat dsi film itu, yaitu pemulihan ekosistem perairan menuntut kesadaran bersama, penegakan aturan hukum sungai dengan tegas terhadap pencemaran sungai. ***