- Untuk kali pertamanya, MIMO ECOTON mendatangi Wonosalam, Jombang. Bersama 50 pelajar, tim memantau Kali Gogor dan menemukan mikroplastik serta indikasi pencemaran ekosistem sungai.
- Pemantauan Kali Gogor melibatkan 50 pelajar Wonosalam dan Mojoagung Jombang. Hasil pengamatan menemukan 20 partikel mikroplastik, didominasi fiber, serta fosfat mencapai 0,8 ppm.
- MIMO ECOTON mengajak pelajar menyelami kondisi Kali Gogor melalui praktik langsung. Dari mikroskop hingga biotilik, mereka menemukan tanda pencemaran di kawasan hulu Brantas.
- Kandungan fosfat Kali Gogor mencapai 0,8 ppm, empat kali nilai acuan. Temuan ini muncul saat pelajar bersama MIMO ECOTON melakukan pemantauan kualitas air sungai.
- Dari 17 individu makrozoobentos hingga 20 partikel mikroplastik, pelajar mengungkap kondisi Kali Gogor. MIMO ECOTON mendorong citizen science untuk menjaga hulu DAS Brantas.
UNTUK kali pertama Mobil Laboratorium Mikroplastik (MIMO) – ECOTON mendatangi Wonosalam, Kabupaten Jombang. Kehadiran MIMO ini bertujuan mendukung kegiatan pemantauan rutin kualitas air Kali Gogor, yang merupakan anak sungai di bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Kegiatan berlokasi di Kedai Tanah Senja ini melibatkan 50 pelajar yang terdiri dari Polisi Air Wonosalam dan SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung. Mereka mengikuti serangkaian agenda yang dijadwalkan tim MIMO, mulai dari edukasi lingkungan, pengambilan sampel air, sampai pada pengujian kualitas air sungai.
Perwakilan Polisi Air Wonosalam, Rizki Putri dan Zema Aqilla, dalam keterangannya bergantian menyampaikan jika kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang selama ini mereka lakukan.
“Kalau hari Minggu kami memang melakukan kegiatan biotilik di sungai ini (Kali Gogor), gunanya untuk melihat atau memantau sungai. Kehadiran MIMO, membuat kami senang. Apalagi sekarang musim kemarau,” ucap Rizki kepada tim MIMO yang dikutip Titikterang, Ahad (18/10/2026).
Rizki juga menyampaikan bahwa praktik secara langsung ini akan menambah pengetahuan dirinya dan teman-teman sekolahnya dalam mengenal lingkungan, terutama sungai. Karena baginya sungai adalah sumber kehidupan terpenting, maka perlu dilakukan pemantauan secara berkala.
“Melalui praktik pengambilan dan pengamatan sampel air menggunakan mikroskop secara langsung, kami belajar bahwa ancaman mikroplastik itu nyata di lingkungan perairan kita dan perlu dipantau secara berkelanjutan,” terang Rizki.
“Kami berharap kesadaran untuk mengurangi plastik sekali pakai dapat dimulai dari lingkungan sekolah, misalnya dengan membawa botol minum (tumbler) dan wadah makanan sendiri,” tandas Zema melanjutkan Rizki.
Rangkaian acara diawali dengan pembekalan materi edukasi mengenai bahaya plastik sekali pakai dan pentingnya pelestarian ekosistem hulu sungai. Selanjutnya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok kerja untuk melakukan pengujian lapangan, meliputi biomonitoring makrozoobentos dengan metode biotilik, pengamatan mikroplastik, serta pengukuran kandungan fosfat air sungai. Usai praktik pengambilan dan pengujian sampel, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil temuan mereka di hadapan seluruh peserta.
“Melalui praktik pengambilan dan pengamatan sampel air menggunakan mikroskop secara langsung, kami belajar bahwa ancaman mikroplastik itu nyata di lingkungan perairan kita dan perlu dipantau secara berkelanjutan.”

Biomonitoring Makrozoobentos Indikasikan Kualitas Air Tercemar
Kelompok pertama yang dipimpin Julia Fahma (siswi kelas 9B, Polisi Air) dan Aulia Nur Azizah (siswi kelas 12, SMAN 1 Mojoagung) fokus pada pengamatan makrozoobentos menggunakan metode biotilik untuk menilai kesehatan ekosistem perairan.
Dari hasil penyisiran, kelompok ini menemukan total 17 individu biota yang mengindikasikan struktur komunitas makrozoobentos dari famili Gammaridae, Atyidae, Veliidae, Simuliidae, Tabanidae, dan Mesoveliidae. Berdasarkan keberadaan dan keanekaragaman biota indikator tersebut, hasil evaluasi awal menunjukkan bahwa kondisi ekosistem Sungai Gogor telah terindikasi mengalami pencemaran.
Mikroplastik Jenis Fiber Mendominasi Hasil Pengamatan
Kelompok kedua yang dikomandoi Muhammad Rajua Surya Sastro Saputra dan Defi Eka Maulita (keduanya siswa kelas 12 SMAN 1 Mojoagung) menguji kandungan mikroplastik dalam air Sungai Gogor.
Melalui pengamatan mikroskopis awal, kelompok ini mengidentifikasi 20 partikel mikroplastik. Temuan tersebut didominasi oleh jenis fiber atau serat sintetis sebanyak 12 partikel (berasal dari limbah pencucian kain/tekstil), 7 partikel jenis film (lembaran plastik tipis dari kantong kresek atau kemasan), serta 1 partikel jenis fragment (serpihan plastik keras dari kemasan sachet atau wadah botol).
Selain itu, tim juga menemukan dua objek yang teridentifikasi sebagai fitoplankton. Pengamatan ini menjadi langkah penting dalam memberikan pemahaman visual kepada pelajar mengenai bahaya partikel mikroplastik di perairan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

Kandungan Fosfat Melampaui Baku Mutu hingga Empat Kali Lipat
Sementara itu, kelompok ketiga yang dipimpin Rendi Dwi Saputra (siswa kelas 11 SMAN 1 Mojoagung) mengukur parameter kimia berupa kadar fosfat dalam air sungai. Hasil pengujian laboratorium lapangan menunjukkan kadar fosfat mencapai 0,8 ppm.
Angka tersebut empat kali lebih tinggi dari nilai acuan baku mutu sebesar 0,2 ppm sebagaimana diatur dalam PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Tingginya kadar fosfat ini mengindikasikan adanya masukan nutrien berlebih, terutama dari limbah domestik seperti buangan air detergen dan sisa aktivitas rumah tangga yang masuk ke badan air tanpa pengolahan memadai. Kondisi debit air sungai yang menyusut saat musim kemarau turut mempertinggi konsentrasi zat terlarut tersebut.
“Sungai Gogor ini memiliki fungsi vital sebagai penyangga kawasan hulu Brantas.Oleh karena itu, perlindungan sungai ini membutuhkan komitmen bersama. Dari genarasi muda hingga warga sekitar.“
Kolaborasi Generasi Muda untuk Kelestarian Hulu Brantas

Sementara itu pegiat lingkungan yang juga peneliti Ecoton Amiruddin Muttaqin mengatakan, kehadiran perdana MIMO -ECOTON di Wonosalam ini, ia harapkan sebagai pemantik penguatan gerakan pemantauan sungai berbasis warga (citizen science) dan generasi muda.
“Sungai Gogor ini memiliki fungsi vital sebagai penyangga kawasan hulu Brantas.Oleh karena itu, perlindungan sungai ini membutuhkan komitmen bersama. Dari genarasi muda hingga warga sekitar, “ ujar Amiruddin.
Tentunya, lanjut Amiruddin, mulai dari pengurangan sampah plastik sekali pakai, penghentian pembuangan limbah langsung ke sungai, sampai pada perbaikan sistem pengelolaan limbah domestik.
“Melalui kegiatan ini, maka para peserta diharapkan dapat menyebarkan pengetahuan dan kepedulian lingkungan ke lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat luas sebagai bagian dari generasi muda pelindung sungai, “ jelas Amirudin.***
Tentang ECOTON & Laboratorium MIMO:
Yayasan ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada konservasi lahan basah dan pemulihan ekosistem sungai. MIMO (Mobil Laboratorium Mikroplastik) merupakan fasilitas laboratorium bergerak milik ECOTON yang dirancang untuk melakukan edukasi, pemantauan, dan riset mikroplastik secara partisipatif di berbagai wilayah perairan Indonesia.
Kontak Media / Informasi Lebih Lanjut:
- Organisasi: ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation)
- Email: info@ecoton.or.id
- Situs Web: www.ecoton.or.id