Lewati ke konten

Kunjungi ECOTON, Siswa Surabaya Grammar School Amati Sampel Air Tercemar Mikroplastik

| 4 menit baca |Reportase | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Sebanyak 15 siswa student exchange dari Surabaya Grammar School bersama lima guru pendamping mengunjungi Yayasan ECOTON pada Rabu, 28 Oktober 2026, untuk mempelajari riset pencemaran air secara praktis.
  • Dipandu oleh peneliti ECOTON Arief Sabililah, para siswa mengamati sampel air Kali Surabaya menggunakan mikroskop untuk mengidentifikasi mikroplastik (partikel <5 mm) serta memahami ancamannya terhadap ikan dan ekosistem perairan melalui program Petro-Tirta.
  • Manajer Program Petro-Tirta, Amalia Fibrianty, mengenalkan pemantauan kualitas air sungai berbasis indikator biologis memanfaatkan makroinvertebrata bentik (Rhizoprionodon acutus, Unionidae, Geridae hemitera, Macrobrachium rosenbergii, dan Scirtidae).
  • Dipandu oleh PIC Microplastic Journey ECOTON, Tasya Khusna, siswa mempraktikkan pembuatan eco-enzim dari fermentasi kulit buah, air, dan gula merah selama 2–3 bulan sebagai solusi pengurangan limbah dari sumbernya.
  • Para peserta (seperti Adrice dan Charice) merasa antusias karena kegiatan laboratorium berbasis praktik langsung ini berhasil menjembatani teori di kelas dengan aksi nyata kelestarian sungai serta membangun kesadaran kritis generasi muda (evidence-based).

Penulis: Lid Deborah Widodo, Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation [Ecoton] selama periode 10 Agustus – 04 Desember 2026.

 

SEBANYAK 15 siswa peserta program student exchange dari Surabaya Grammar School didampingi lima orang perwakilan sekolah, mengunjungi Yayasan ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation). Kegiatan edukasi lingkungan yang dimulai pukul 09.30 WIB ini memberikan kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat riset pencemaran air, pengamatan mikroplastik, metode biotilik, hingga pemanfaatan eco-enzim secara langsung.

Sesi edukasi mengenai mikroplastik dipaparkan langsung peneliti ECOTON, Arief Sabililah. Dalam sesi ini, para siswa diajak mengamati sampel air Kali Surabaya menggunakan mikroskop. Tujuannya agar siswa bisa mengidentifikasi keberadaan mikroplastik.

BACA JUGA:  Firoh Belajar Merawat Air dari Ecoton

“Jadi tujuan siswa datang ke sini (ECOTON), kami tidak memberikan materi secara teoretis saja. Para siswa juga kami ajak melihat penelitian lingkungan, selalu ini kami lakukan dengan pendekatan praktis,” kata Arief, Rabu (28/10/2026).

Masih kata Arief, kehadiran para siswa diharapkan memperoleh gambaran mengenai proses pengamatan, metode yang selama ini digunakan ECOTON dalam penelitian, sekaligus bagaimana hasil penelitian dapat membantu mengidentifikasi persoalan pencemaran sebagai bagian dari upaya mendukung perlindungan ekosistem perairan.

“Partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, yang tidak dapat dilihat mata ini, dari permukaan sungai. Praktik ini sekaligus menyoroti pentingnya program Petro-Tirta, selama ini digagas ECOTON, dalam mengenalkan persoalan pencemaran sungai dan bahaya mikroplastik bagi ikan serta kesehatan ekosistem perairan,” jelas Arief.

Antusiasme Siswa dalam Riset Laboratorium

Sebagaimana diketahui, sepanjang kegiatan, para peserta menunjukkan rasa ingin tahu yang begitu besar untuk memahami mekanisme identifikasi partikel mikroplastik.

Hal ini diungkapkan Adrice, salah satu siswa peserta student exchange. Ia mengatakan, kesehatan ekosistem sungai menggunakan indikator makroinvertebrata—yang selama ini baru ia kenal—serta mempelajari pengelolaan sampah organik memberikan wawasan baru.

“Saya belajar lebih banyak tentang mikroplastik, bagaimana dampaknya terhadap seluruh lingkungan, dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampaknya,” ujar Adrice.

Adrice juga menambahkan, sesi presentasi dan pengamatan langsung yang mengenalkan mikroplastik di laboratorium merupakan bagian paling berkesan baginya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Karena memberikan perspektif baru mengenai bagaimana partikel berukuran renik dapat berinteraksi dengan organisme perairan dan membutuhkan penanganan serius,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Realitas Miris Kali Tebu Surabaya: Dari Saset hingga Sofa di Mata Mahasiswa Unesa

Memahami Kualitas Air Melalui Biotilik dan Eco-Enzim

Selain mikroplastik, para siswa juga diperkenalkan pada metode pemantauan kualitas air berbasis biologis atau biotilik, yang dijelaskan Manajer Program Petro-Tirta, Amalia Fibrianty. Metode ini memanfaatkan keberadaan makroinvertebrata bentik sebagai bioindikator kesehatan ekosistem sungai.

Dalam penjelasannya, pemantauan melibatkan identifikasi sejumlah organisme indikator seperti Rhizoprionodon acutus (ikan cucut), Unionidae (kijing), Geridae hemitera (serangga air), Macrobrachium rosenbergii (udang air tawar), hingga Scirtidae (kumbang air). Pendekatan ini melengkapi pengukuran parameter fisik dan kimia air secara holistik.

Para siswa juga mempelajari pembuatan eco-enzim yang dipandu PIC Microplastic Journey ECOTON, Tasya Khusna. Praktik ini memanfaatkan sisa kulit buah (seperti jeruk) yang difermentasikan bersama air dan gula merah dalam wadah tertutup selama 2 hingga 3 bulan sebagai bentuk edukasi pengelolaan limbah organik dari sumbernya.

Menghubungkan Teori dan Aksi Nyata Keberlanjutan

Pengalaman melihat langsung proses riset ilmiah di laboratorium memberikan kesan mendalam bagi para peserta dalam memahami kompleksitas masalah lingkungan dan pentingnya perlindungan daerah aliran sungai (DAS).

“Melalui kegiatan ini, saya belajar tentang pentingnya isu lingkungan keberlanjutan dan bagaimana tindakan kecil dapat memberikan dampak besar dalam menjaga kualitas air,” ungkap Charice, siswa peserta lainnya.

Charice menyebutkan bahwa eksplorasi laboratorium menjadi pengalaman favoritnya karena berhasil menjembatani antara materi pembelajaran di kelas dengan aplikasi riset di lapangan guna mencari solusi atas persoalan lingkungan.

Melalui program edukasi seperti inisiatif Petro-Tirta, ECOTON terus mendorong generasi muda untuk membangun kesadaran kritis, berbasis bukti ilmiah (evidence-based), dan menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian ekosistem sungai baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *