Lewati ke konten

Firoh Belajar Merawat Air dari Ecoton

| 5 menit baca |Sosok | 35 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Jauh dari pusat kota, Ecoton menjadi ruang sunyi tempat Firoh belajar membaca air, kesempatan, dan hidup, melalui laboratorium, praktik lapangan, serta pertemanan lintas kampus.

Saat menyampaikan temuannya bahwa Sungai Brantas tercemar limbah industri dan timbunan sampah akibat belum adanya regulasi penataan lingkungan yang tegas dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. | Foto: Amiruddin Muttaqin

Lembaga Lahan Basah Ecoton tak menyambut dengan gemerlap. Tempat itu hadir sederhana, agak jauh dari pusat kota, dan terasa sunyi. Justru di ruang yang sunyi itulah Lutfiyatul Maghfiroh, yang akrab disapa Firoh, mahasiswa perempuan Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura, menemukan belajar yang paling jujur.

“Kesan pertama saya, banyak kegiatan yang belum pernah saya lakukan,” katanya pelan, yang disampaikan, Selasa, (3/1/2026).

Firoh datang, tentu saja dengan pengalaman. Sejak SMA, ia sudah mengenal praktik-praktik penelitian lingkungan. Pada 2020–2023, ia menempuh pendidikan di SMK, sudah menjalani magang selama tiga bulan di Perum Jasa Tirta I. Pengalaman itu dilanjutkan dengan magang mandiri di Dinas Lingkungan Hidup Jombang.

Melihat perjalanan itu, laboratorium, pastinya bukan ruang asing baginya. Baginya Ecoton tetap menghadirkan sesuatu yang berbeda dan baru. Di sini, pengetahuan, praktik, dan keberpihakan pada lingkungan menyatu dalam satu tarikan napas.

Belajar di Ecoton bukan sekadar mengikuti jadwal. Ada audiensi, diskusi, turun langsung ke lapangan, serta analisis laboratorium yang menyita waktu dan tenaga. Semua dijalani bukan sebagai kewajiban untuk mengejar nilai akademik, melainkan sebagai proses memahami lingkungan secara utuh.

“Saya paling terkesan saat ikut audiensi di Gedung DPRD Jawa Timur dan bertemu pejabat Provinsi Jawa Timur, membahas Sungai Brantas,” ujarnya.

Firoh juga mengaku bersyukur karena selama studi independen di Ecoton, ia dibimbing langsung oleh pendiri Ecoton, Prigi Arisandi. “Itu membuat saya semakin terkesan dan bersyukur,” katanya.

Usai audiensi, Lutfiyah dan Meir berfoto bersama Ketua Bapemperda DPRD Provinsi Jawa Timur Yordan M Batara-Goa usai audensi. | Foto: Amiruddin Muttaqin

#Nama, Kesempatan, dan Jalan Panjang Pendidikan

Panggilan Firoh sejatinya bukan satu-satunya sapaan yang pernah melekat padanya. Ada pula nama Tungpi, panggilan masa kecil yang membuatnya sedikit tersipu ketika ditanya.

“Itu nama saya waktu kecil,” katanya sambil tersenyum, seolah mengingat kembali kelucuan masa lalu.

Namun bagi Firoh, nama bukan perkara utama. “Nama itu bukan hal yang paling penting,” katanya. “Yang penting adalah kesempatan belajar.”

Tentu saja, kalimat itu terucap dari sebuah pengalaman. Meski belum begitu jauh, tapi terasa untuk dirasakan menjadi sebuah refleksi, bagi Gen Z saat ini.

Firoh yang lahir, 5 November 2004 dan tumbuh di Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, Jombang. Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Al Hikmah Janti, dilanjutkan ke MTs Al Hikmah Janti, lalu SMK Mojoagung. Mengaku tidak semua teman seangkatannya berkesempatan melanjutkan pendidikan tinggi.

Lutfiyatul Maghfiroh, saat mengikuti kegiatan tanam bersama Program JAPRI yang diinisiasi Ecoton dan PT Petrokimia Gresik. | Dok. Ecoton

“Banyak teman saya ingin kuliah, tapi belum dapat kesempatan karena keadaan,” katanya lirih.

Karena itu, kuliah baginya bukan sekadar status. Pendidikan tinggi adalah ruang untuk mencari pengalaman, menimba pengetahuan, dan menentukan arah hidup. Saat ini, Firoh berada di semester lima, menuju enam. Ia berharap bisa menyelesaikan studinya pada Desember 2026 – “kalau bisa cepat,” katanya sambil tersenyum kecil.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di Ecoton, ia bertemu dengan banyak orang dari latar belakang yang beragam. Dalam penilaian Meir Tsabita Rihadatul Aisy, teman satu angkatan dan sejurusan. Firoh adalah pribadi friendly.

Meir, panggilan Meir Tsabita Rihadatul Aisy, memang tidak ingat betul siapa yang memulai menyapa saat pertama memasuki bangku kuliah. “Bagi saya, Firoh itu pribadi yang baik,” kata Meir. “Mungkin saja dia dulu yang menyapa saya. Pas kebetulan sama-sama dari Jombang, saya tinggal di Perak, “ terang Meir.

Di Ecoton, pertemanan tidak dibangun oleh sekat usia atau asal kampus. Semua setara sebagai pembelajar. Firoh mudah bergaul, baik dengan yang seusia maupun yang lebih tua. Lingkungannya terbuka, cair, dan saling menguatkan.

Lutfiyatul Maghfiroh melakukan pengambilan sampel air di Kali Surabaya sebagai bagian dari kegiatan penelitian. | Foto: Dok. Pribadi

 

#Membaca Air, Membaca Masa Depan

Pengalaman paling berkesan bagi Firoh terjadi saat pengambilan sampel air di Kali Surabaya, dari Dam Mlirip, Mojokerto, hingga Dam Jagir, Wonokromo, Surabaya. Sebanyak 43 titik pengamatan diteliti, dengan 19 parameter kualitas air yang diukur.

Dikerjakan bersama Meir, ketika pengambilan sampel air dan pembuatan jurnal. Di situlah teori berubah menjadi kenyataan. Pengukuran DO, TDS, dan pH dilakukan secara in situ—langsung di lokasi. Air tidak lagi sekadar angka dalam catatan, melainkan sesuatu yang disentuh, dicium, diamati, dan dianalisis. Lima hari penuh dihabiskan untuk proses analisis.

Bagi Firoh, kegiatan laboratorium bukan hal baru. Ia sudah terbiasa menggunakan mikroskop sederhana, lup, timbangan digital, gelas ukur, gelas beker, tabung reaksi, termometer, pH meter air dan tanah, hingga alat uji kualitas air seperti DO, kekeruhan, dan TDS. Namun di Ecoton, semua peralatan itu mendapatkan konteks yang lebih luas.

Data tidak berdiri sendiri. Data terhubung dengan sungai, masyarakat, dan kebijakan. Dari Dam Mlirip hingga Dam Jagir, Firoh dan tim menyusun jurnal analisis kualitas air, sebuah kerja sunyi yang kelak dapat menjadi suara bagi sungai.

Lutfiyatul Maghfiroh dan Meir Tsabita Rihadatul Aisy, mempresentasikan hasil penelitian yang tengah disiapkan menjadi jurnal di kediaman Meir. | Foto: Supriyadi

“Yang paling menonjol adalah semangat penelitian dan praktik langsung,” katanya. “Belajar tidak hanya lewat teori, tapi turun ke lapangan, mengambil sampel, berdiskusi, dan melihat langsung kondisi lingkungan.”

Pengalaman itu meneguhkan pilihannya. Manajemen sumberdaya perairan baginya bukan disiplin akademik belaka, melainkan jalan hidup.

Tentang harapan ke depan, Firoh tidak banyak bicara. Ia hanya berharap apa yang ia pelajari menjadi input—bekal—untuk melangkah lebih jauh. Seperti sungai, pengetahuan harus terus mengalir.

Di Ecoton, Firoh belajar satu hal penting: belajar tidak selalu bising. Kadang ia hadir dalam sunyi, di pinggir sungai, di balik tabung reaksi, dan dalam percakapan sederhana antarsesama pencari makna.

Dari tempat yang jauh dari pusat kota itu, ia justru menemukan pusat dari perjalanan belajarnya sendiri. Dan diimplementasikan setelah nanti meninggalkan Ecoton bersama Meir, Kamis, (5/2/2026).***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *