SAAT ITU usia Aeshnina Azzahara Aqilani atau yang biasa kita sapa Nina, bisa dibilang masih bocah, 14 tahun. Saat kebanyakan anak masih sibuk debat “lebih enak main Roblox atau Genshin?”,
Tapi Nina sudah menulis surat protes ke pemimpin dunia. Isinya? “Stop kirim limbahmu ke negeri kami.” Ia bukan marah-marah di kolom komentar media sosial, tapi berpidato di panggung COP26 Glasgow, Skotlandia, Inggris Raya pada 31 Oktober – 12 November 2021
Berasal dari desa kecil di Jawa Timur, Nina tak hanya jadi simbol “harapan generasi muda”, tapi juga bukti bahwa aktivisme tak butuh kartu nama atau status influencer. Gaya bicaranya lugas, tulus, dan natural, tapi ya itu, boleh dibilang, ada bercak marah tapi waras.
#Dari Surat Protes ke Panggung Dunia
Sebagian anak seusia Nina mungkin masih ngerapalkan rumus bangun ruang. Tapi Nina sudah menulis surat ke Presiden AS dan beberapa pemimpin negara G7. Isinya sederhana tapi nyelekit, “We don’t need your waste, we already have enough of our own problems, ” begitu kata Nina, ketika dalam wawancara dengan SEA Today pada 2 Desember 2021.
Surat itu lahir dari pengalaman pribadi, ada sebuah desa di Jawa Timur jadi tempat pembuangan limbah plastik impor. Dari situ, Nina sadar, persoalan lingkungan bukan teori di buku IPA, tapi kenyataan di mana ia tinggal.
Dan, entah siapa yang lebih menampar, bocah SMP, saat itu Nina bersekolah, berani ngomong begini, atau negara-negara besar yang masih pura-pura tuli.
“I choose it myself and I’m very happy to do this, “ ucap Nina. Pilihan sadar di usia dini, pilih peka mulai awal atau mengabaikan keadaan yang ke depannya akan membawa kerunyaman.
Kebanyakan orang tua takut anaknya ikut demo. Tapi orang tua Nina justru menanamkan kebiasaan, protes dengan menulis surat atau aksi di jalan ketika ada kebijakan lingkungan yang merugikan kehidupan. Dari situ, tumbuh satu kebiasaan yang lebih berani, bertanya “kenapa plastik dari luar negeri bisa nyasar ke desa di Indonesia?”
Nina menjelaskan, “I choose it myself and I’m very happy to do this, ” “Aku memilih ini sendiri dan aku senang melakukannya,” begitlah Nita mengungkapkan pilihannya.
Tapi yang jelas, tak ada drama orang tua yang mendorong-dorong anaknya ke spotlight. Ia memang memilih jalan itu. Di usia belasan, Nina sudah belajar bahwa menjaga bumi bukan proyek besar, melainkan keputusan sehari-hari. Dari memilih minum pakai botol isi ulang, sampai menulis surat untuk pemimpin dunia yang kebanyakan janji.

#Dari Film Dokumenter ke Glasgow
Cerita Nina lalu menarik perhatian pembuat film Jerman yang membuat dokumenter “Girls for Future” Kisah empat aktivis muda dari Indonesia, India, Australia, dan Afrika. Film itu membawa Nina ke Amsterdam, lalu Glasgow, tempat diadakannya KTT Iklim COP26.
Di sana, ia tidak sekadar jadi “ikon lucu dari negara berkembang”. Ia tampil di pemutaran film, ikut diskusi, dan terlibat aksi bersama jaringan Break Free From Plastic.
Bedanya dengan pejabat kita, Nina tak sibuk foto di backdrop konferensi. Ia fokus pada pesan, “janji 2050 itu terlalu lama, bumi sudah kepanasan sekarang.”
Dalam satu sesi, ketika wartawan bertanya soal motivasi, Nina cuma senyum dan bilang, “I just want my home to stop smelling like burnt plastic.”
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Sederhana, tapi lebih jujur daripada 10 halaman komitmen kebijakan yang buat pemerintah.
#Tiga Masalah Utama: Warga, Pemerintah, dan Produsen
Kalau disederhanakan, menurut Nina, ada tiga biang keladi pencemaran di Indonesia. Pertama, warga yang belum paham cara kelola sampah. Kedua, pemerintah yang belum menyediakan sistem pengelolaan di tingkat desa. Ketiga, produsen yang masih bebas memproduksi plastik sekali pakai tanpa tanggung jawab.
“If people already understand about it, they will be confused where do I have to put my waste.” – Kalau orang sudah paham soal ini, kata Nina. mereka justru bingung mau buang ke mana.
Intinya, edukasi tanpa fasilitas itu omong kosong. Tidak cukup menyuruh masyarakat sadar, kalau tong sampah aja masih satu untuk semua. Dan soal produsen? Nina menyindir halus, “Kalau bisa buat iklan semegah itu, pasti bisa juga buat sistem daur ulang yang bener.”
#“Start from Yourself” — Dari Desa untuk Dunia
Dalam wawanca itu, Nina mengingatkan dan kalimatnya, tentu saja cukup layak disablon di totebag aktivis muda sekarang. Agar kalau dibawa nongrong tak sekadar omong-omong. Setidak Kawan kamu akan membaca dan menjadi tema diskusi.
“If you want to live in a clean, safe and healthy environment, take action now. Start from yourself.”
Kalau dibaca, orang yang mendengarkan pasti akan berkata, sederhana. Tapi bisa menjadi inspirasi kemudian menanamkan tanggung jawab, setidaknya segera berbuat. Apalagi kita yang tinggal di kota yang kerap disuguhnya sampah yang selalu menggunung.

#Dunia Butuh Lebih Banyak “Nina”
Kisah Nina bukan tentang “kehebatan anak kecil”, tapi tentang betapa absurdnya dunia orang dewasa. Saat negara sibuk debat target nol emisi 2050, Nina yang saat itu baru berusia belasan sudah teriak lantang. Dan kini, saat ia duduk di bangku kuliah, gema suaranya belum juga reda.
Sudah bukan waktunya malu. Karena kadang, yang paling sadar bukan mereka yang punya jabatan, melainkan mereka yang masih belajar IPA kelas 8, seperti Nina—yang tahu bahwa bumi tak butuh janji, tapi aksi kecil yang konsisten.
Kini, generasi muda butuh ruang seperti yang dulu dimiliki Nina, ruang untuk berbicara tanpa disuruh diam, ruang untuk bertanya tanpa dituduh sok tahu. Sebab perubahan besar sering lahir dari keberanian sederhana, seperti menulis surat yang tak semua orang berani kirim.
Dan mungkin, jika setiap kita punya sedikit saja keberanian dan kejujuran seperti Nina, dunia tak perlu menunggu konferensi berikutnya untuk berubah. Ia hanya butuh lebih banyak orang yang mau berkata jujur, “Kami lelah dengan janji, kami ingin bukti.”***