Brand audit sampah di SMA Al-Muslim Sidoarjo mengungkap dominasi kemasan plastik sekali pakai, menegaskan urgensi tanggung jawab produsen dan perubahan perilaku menjelang Ramadhan Hijau.
Suara plastik yang diremas dan bau sisa makanan bercampur debu menyertai aktivitas puluhan siswa SMA Al-Muslim Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu, (11/22026). Bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), mereka menggelar brand audit sampah untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional sekaligus menyambut Ramadhan Hijau.

Kegiatan dengan cara memilah sampah itu, para siswa diajari membaca jejak industri di balik kemasan yang kerap luput dari perhatian.
Sebanyak 50 kader lingkungan dari jenjang SD, SMP, dan SMA Al-Muslim terlibat dalam kegiatan ini. Kolaborasi lintas usia itu dimaksudkan sebagai strategi pendidikan sejak dini yang dikembangkan lembaga Al-Muslimun. Jika persoalan sampah, terutama plastik sekali pakai, tidak berhenti di tempat sampah, tetapi berkelindan dengan sistem produksi dan konsumsi. Dampaknya pada Kesehatan manusia.
Para siswa mengumpulkan, memilah, dan mencatat merek-merek yang paling sering mereka temukan dalam tumpukan sampah sekolah. Hasilnya, terkumpul 357 potong sampah plastik.
Dari audit yang dilakukan para siswa, tercatat beberapa perusahaan menjadi penyumbang terbesar, seperti Danone sebesar 5,3 persen, Ultra Jaya 4,2 persen, Indofood 2,5 persen, dan Siantar Top 2 persen.
Data itu menjadi pintu masuk bagi para siswa untuk memahami konsep Extended Producer Responsibility (EPR), jika produsen seharusnya ikut bertanggung jawab atas kemasan yang mereka edarkan.

#Plastik, Industri, dan Risiko Kesehatan
Founder Ecoton Prigi Arisandi menegaskan, persoalan plastik di Indonesia tak bisa dilepaskan dari pola konsumsi harian. “Orang Indonesia itu paling banyak ‘makan’ plastik,” ujarnya.
Sedotan (straw), styrofoam, hingga kemasan sachet menjadi bagian tak terpisahkan dari makanan sehari-hari. Menurut Prigi, pengurangan plastik sekali pakai harus dimulai sekarang, terutama menjelang Ramadhan yang identik dengan peningkatan konsumsi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelPrigi juga mengingatkan soal risiko pangan ultra-proses. Ia merujuk temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut makanan seperti sosis tak hanya bermasalah dari sisi kemasan plastiknya, tetapi juga kandungan di dalamnya. “Banyak pengawet, dan ironisnya makanan kategori ultra processing food justru digemari anak-anak,” katanya.
Senada, Alaika Rahmatullah dari Divisi Advokasi Ecoton menyoroti karakter plastik sachet yang berlapis-lapis dan nyaris mustahil didaur ulang. Menurut Alaika, masalah ini bermula dari desain produksi industri.
“Saat ini lebih dari 16 ribu senyawa kimia terdeteksi dalam plastik, dan 13 ribu di antaranya termasuk endocrine disruptive chemical,” ujarnya, yang juga menkelaskan, bahwa senyawa ini berpotensi mengganggu hormon dan kesehatan manusia.

Penelitian Ecoton bahkan, kata Alaika, menemukan senyawa ftalat dalam darah perempuan pemilah sampah di Gresik. Zat itu diketahui berkaitan dengan risiko kanker dan gangguan hormon.
“Temuan kami memperkuat argumen bahwa persoalan plastik tidak hanya dikatakan sebagai isu lingkungan semata, tetapi juga ancaman kesehatan bersama (publik), “ jelasnya.
Smentera itu Kepala SMA Al-Muslim, Dr. Mahmudah, S.Ag., M.Pd., menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen sekolah menanamkan kepedulian lingkungan terhadap para siswa. “Kalau kita sadar sampah itu masalah, kita bisa mencari solusi, maka perlu dikenalkan sejak dini” katanya.
Menurut Mahmudah, cara paling efektif, tentu saja denga mengurangi, bahkan menolak plastik sekali pakai. Ramadhan, baginya, bulan yang penuh keberkahan dan momentum membersihkan hati, fisik, tentu saja juga lingkungan.
Kegiatan yang sambut antusiasme para siswa itu, ditutup dengan sesi visualisasi gagasan. Para siswa menuangkan pesan lingkungan melalui gambar dan poster, ditujukan bagi teman sebaya mereka.
Pesan utamanya tergambar jelas: kurangi plastik sekali pakai, mulai dari diri sendiri. Dari halaman sekolah di Sidoarjo, suara kecil itu diharapkan menggema lebih jauh, menjadi keteladan dan tanggungjawab bersama atas persoalan sampah, menjadikan tak hanya berada di tangan konsumen, tetapi juga produsen.***