Lewati ke konten

Team Microplastic Journey SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, Siap Syiarkan Bahaya Mikroplastik

| 4 menit baca |Mikroplastik | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Release Editor: Marga Bagus

Program edukasi di SMP Muhammadiyah 9 Jakarta mendorong puluhan siswa menyusun kampanye lingkungan dan meneliti ancaman mikroplastik.

SMP Muhammadiyah 9 Jakarta memperluas pendidikan lingkungan melalui program Microplastic Journey, yang digelar bersama Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Program berlangsung sejak 11 – 25 Mei 2026. Melibatkan lebih dari 75 siswa dari Mulan Ambassador dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Mereka mempelajari ancaman mikroplastik dari aktivitas sehari-hari.

Kegiatan difokuskan pada pengenalan sumber pencemaran mikroplastik, proses terbentuknya partikel plastik berukuran kecil, serta dampaknya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem.

Edukasi mikroplastik masuk lingkungan sekolah ini, materi disampaikan melalui diskusi, video edukasi, permainan interaktif, dan penyusunan strategi kampanye.

Menurut Kepala SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, Amrillah, S.Pd., program yang diajarkan kepada para siswanya, memberi perspektif baru, serta bisa melihat isu pencemaran plastik yang semakin dekat dengan kehidupan pelajar.

“Edukasi bahaya mikroplastik melalui Microplastic Journey ini, kami terima sebagai pengetahuan yang bermanfaat tentunya. Kami sangat senang dengan kolaborasi dan MoU yang telah dibuat bersama Ecoton, “ kata Amrillah, Senin, (25/5/2026).

Amrillah juga mengatakan, harapannya ke depan menjadi program lanjutan untuk bersama-sama mengurangi risiko mikroplastik. “Kami akan melakukan menjaga lingkungan sekolah, agar bermanfaat bagi siswa maupun lingkungan sekitar,” tambahnya.

Untuk memulai program ini, sekolah juga menyiapkan program lanjutan setelah kegiatan berakhir. Agenda yang mulai dipetakan, yaitu mencakup kampanye melalui media sosial, pameran poster lingkungan, dan penguatan edukasi kepada pelajar, agar isu mikroplastik terus dibahas di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Para siswi Tim Microplastic Journey SMP Muhammadiyah 9 Jakarta mengamati sampel menggunakan mikroskop digital dalam sesi edukasi untuk mengenali jejak mikroplastik dan memahami dampaknya terhadap lingkungan serta kesehatan | Dok. Ecoton

Di sisi lain, Wakil Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 9 Jakarta, Choliqul Hairi Darozat, mengaku sangat senang dengan program ini. Ia mengatakan, pendekatan partisipatif ini memberi pengalaman baru bagi para siswa.

“Sangat senang bisa ada kegiatan Microplastic Journey ini. Harapan kami bisa menambah wawasan, sekaligus menjadi penyegar bagi kita agar lebih fokus menunjukkan bahwa kita membutuhkan pengetahuan, lalu bisa menyebarkan informasi mikroplastik ini kepada teman dan keluarga,” ujar Choliqul.

Program yang mendapat dukungan dari Korea Green Foundation ini. Pada tahap awal, para siswa diajak memahami, bagaimana produk rumah tangga, kemasan sekali pakai, dan material berbasis plastik dapat melepaskan partikel mikroplastik ke lingkungan.

“Dari sini kita melihat para siswa memiliki pengalaman belajar berbeda. Mereka tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga diajak memahami bagaimana kebiasaan sehari-hari dapat berkontribusi terhadap pencemaran mikroplastik. Harapannya, pengetahuan ini bisa diteruskan kepada teman, keluarga, dan lingkungan sekitar,” ujar Hairi.

#Siswa Soroti Produk Sehari-hari

Salah satu sesi yang paling banyak menarik dala kegiatan, perhatian peserta pada permainan edukatif Polusi vs Solusi.

Dalam permainan itu, siswa diajak mengidentifikasi kebiasaan sehari-hari, yang dinilai ramah lingkungan, justru yang terjadi berpotensi menambah pencemaran plastik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dari diskusi itu, sejumlah siswa mulai mengkritisi produk yang selama ini dianggap aman.

Regan, siswa kelas 8 Imam Ahmad, misalnya. Ia mengatakan dengan tegas, jika gelas kertas (cup), yang banyak dijumpai pada penjual minuman, masih menyimpan persoalan plastik.

“Gelas kertas itu termasuk polusi, kan? Meskipun di luar bentuknya kertas, tapi di dalamnya ada lapisan plastik untuk menahan air minumnya. Jadi sama saja seperti gelas plastik. Dan itu sangat berpotensi pencemaran mikroplastik,” kata Regan.

Sementara itu, Muhammad Prya, siswa kelas 7, lebih banyak menyoal kantong teh celup. Menurutnya, teh celup itu berpotensi melepaskan partikel mikroplastik, saat bersentuhan dengan air panas.

Dua siswi SMP Muhammadiyah 9 Jakarta mengambil sampel air untuk diuji menggunakan mikroskop digital dalam pengamatan jejak mikroplastik sebagai bagian dari program Microplastic Journey | Dok. Ecoton

“Teh celup itu polusi karena ketika diseduh bisa melepaskan serat dari kantong tehnya yang kemungkinan plastik, apalagi air tehnya panas,” ujar Prya.

Pandangan lain datang dari Kiara, siswi kelas 7, yang menilai pembalut kain dapat menjadi pilihan guna ulang yang lebih ramah lingkungan.

“Pembalut kain adalah solusi karena tersusun dari katun dan bisa digunakan ulang daripada pembalut plastik sekali pakai yang langsung dibuang. Aku ingin mencoba menggunakan pembalut kain setelah kegiatan ini,” kata Kiara.

Tim pendamping Ecoton menilai diskusi kritis dari pelajar itu, menunjukkan perubahan cara pandang siswa terhadap hubungan konsumsi harian dengan pencemaran plastik.

Setelah sesi kelas berakhir, peserta mulai menyusun strategi kampanye. Sekolah berencana memperluas penyebaran informasi tentang bahaya mikroplastik melalui poster, konten media sosial, dan aktivitas kampanye yang melibatkan komunitas pelajar.

Bagi sekolah, isu mikroplastik kini dipandang berkaitan dengan kualitas udara, air minum, serta risiko kesehatan manusia. Karena itu, pendidikan lingkungan diarahkan agar siswa mampu memahami persoalan dari tingkat rumah tangga hingga ruang publik.

Kegiatan penutup mempertegas peran siswa sebagai agen perubahan. Melalui diskusi, permainan, dan perencanaan kampanye, pelajar didorong mengambil langkah konkret untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Program Microplastic Journey memperlihatkan sekolah dapat menjadi ruang pendidikan lingkungan yang efektif. Dari ruang kelas, pembahasan mikroplastik mulai bergeser menjadi gerakan yang dibawa siswa ke rumah, media sosial, dan lingkungan sekitar.

Kolaborasi antara sekolah dan organisasi lingkungan diharapkan memperluas kesadaran publik terhadap ancaman plastik yang terus meningkat.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *