Lewati ke konten

Ancaman Laten di Balik Pori-Pori: Temuan Mikroplastik pada Tanaman hingga Kosmetik

| 7 menit baca |Mikroplastik | 56 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Jofan Ahmad Arianto Editor: Supriyadi

Seminar di UIN Sunan Ampel Surabaya memaparkan temuan mikroplastik pada kosmetik, serangga, tanaman, hingga pekerja sampah—menggambarkan ancaman lingkungan yang perlahan masuk ke tubuh manusia.

Suasana lantai enam Laboratorium Pemberdayaan atau Coastal Community Development Laboratory Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, , tampak ramai pada Kamis pagi, 12 Maret 2026. Puluhan mahasiswa berkumpul dalam seminar penelitian bertema pencemaran mikroplastik, isu yang kian sering dibicarakan dalam diskursus lingkungan global.

Forum ini memaparkan hasil penelitian enam mahasiswa, lima di antaranya berasal dari Program Studi Biologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan satu mahasiswa dari Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang.

Para peneliti itu, Intan Fatimah Az-Zahrah, Eka Febriana Puji Lestari, Kallista Maharani, M. Zacky Ammardyas Hilmi, dan Safa’at Aliffudin Atmajaya dari Program Studi Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya. Sementara Aulia Rizky Imelda Wardhani mewakili Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang.

Sekretaris Program Studi Biologi UIN Sunan Ampel, Atiqoh Zummah, S.Si., M.Sc. dalam sambutannya menyampaikan, program MBKM memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman penelitian langsung di lapangan.

“Melalui program magang ini mahasiswa bisa melihat persoalan lingkungan secara nyata. Banyak hal yang tidak didapatkan di kelas, tetapi dapat dipelajari ketika mereka turun langsung ke lapangan,” kata Atiqoh.

Perempuan yang sejak 2019 sebagai pengajar di UIN Sunan Ampel ini juga menyampaikan apresiasinya kepada Ecological Conservation and Wetlands Observatian (ECOTON) yang telah menjadi mitra dalam program MBKM.

“Kehadiran pendiri ECOTON dalam seminar ini menjadi kesempatan penting bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai isu-isu lingkungan,” ujar Atiqoh.

Melalui program studi independen ini, mahasiswa bisa melihat persoalan lingkungan secara nyata. Banyak hal yang tidak didapatkan di kelas, tetapi dapat dipelajari ketika mereka turun langsung ke lapangan,” ujar Atiqoh.

Sementara itu pendiri ECOTON, Prigi Arisandi menyinggung berbagai persoalan lingkungan yang sering kali luput dari perhatian masyarakat. Padahal, kata dia, dampaknya dapat berlangsung lama dan menjangkau berbagai aspek kehidupan.

Salah satu isu yang kini semakin menjadi perhatian adalah mikroplastik. Partikel plastik yang sangat kecil ini terbentuk dari degradasi plastik yang terpapar panas, gesekan, atau proses kimia di lingkungan.

“Ukuran plastik yang terus terpecah semakin kecil membuatnya lebih mudah masuk ke tubuh manusia,” ujarnya. Ia menambahkan, persoalan tersebut sering kali dianggap sepele meski dampaknya dapat meluas.

Pendiri ECOTON itu juga menyinggung aksi mahasiswa yang selama ini berupaya menyuarakan persoalan kerusakan lingkungan. Menurutnya, keberanian mahasiswa untuk mengangkat isu lingkungan menjadi bagian penting dalam mendorong kesadaran publik.

“Keberanian mahasiswa menyuarakan kerusakan lingkungan sangat penting untuk mendorong kesadaran publik terhadap persoalan yang sering diabaikan,” ujar Prigi.

Dari kiri: Eka Febriana Puji Lestari (mahasiswa peneliti), Eva Agustina, M.Si. (Dosen Pembimbing Magang), Prigi Arisandi (Founder ECOTON), dan Atiqoh Zummah, M.Sc. (Sekretaris Program Studi Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya). | Dok Ecoton

#Dari Kosmetik hingga Capung di Tambak

Paparan penelitian mahasiswa dalam seminar tentu saja memperlihatkan betapa luasnya penyebaran mikroplastik di lingkungan.

Salah satu penelitian yang mengangkat topik pelembap bibir atau lip serum, menjadi perhatian peserta. Karena produk ini digunakan langsung di area mulut sehingga memiliki potensi tertelan oleh pengguna.

Peneliti melakukan skrining awal menggunakan metode BTM-B. Hal ini tujuannya untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya mikroplastik dalam produk kosmetik. Sampel kemudian dianalisis melalui ekstraksi, pengamatan mikroskopis, dan pengujian spektroskopi.

Hasilnya menunjukkan, sekitar 80 persen sampel yang diuji mengandung mikroplastik. Dalam setiap dua gram produk ditemukan rata-rata 112 partikel mikroplastik dengan tiga bentuk yang berbeda.

Pengujian lanjutan menggunakan analisis FTIR menunjukkan adanya polimer seperti nilon yang teridentifikasi dalam sampel.

“Produk kosmetik yang digunakan sehari-hari ternyata bisa menjadi salah satu jalur masuk mikroplastik ke dalam tubuh manusia,” ujar salah satu peneliti Kalista dalam paparannya.

Penelitian lain menelusuri keberadaan mikroplastik pada capung di kawasan tambak di Surabaya. Capung dipilih karena memiliki dua fase hidup, yakni fase nimfa di air dan fase dewasa di udara, sehingga dapat mencerminkan kondisi lingkungan di dua habitat sekaligus.

Penelitian dilakukan di tiga lokasi yang berada di sekitar kawasan tambak dengan karakter wilayah yang berbeda. Salah satu lokasi berada di kawasan permukiman yang aktivitas manusianya cukup tinggi.

Hasil analisis menunjukkan adanya 47 partikel mikroplastik yang ditemukan dalam sampel capung dari ketiga lokasi tersebut. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah fiber atau serat dengan ukuran kurang dari 0,5 milimeter.

Pengujian FTIR menunjukkan adanya senyawa polyisobutylene yang diduga berasal dari gesekan ban kendaraan serta polyethylene yang umum digunakan dalam plastik kemasan.

Salah satu peneliti menjelaskan bahwa mikroplastik dapat masuk ke perairan melalui berbagai jalur, termasuk aktivitas mencuci yang melepaskan serat sintetis dari pakaian.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Serat dari pakaian dapat masuk ke perairan, kemudian mengalami degradasi menjadi mikroplastik dan akhirnya termakan oleh organisme air,” ujar Fatimah.

Suasana seminar penelitian pencemaran mikroplastik di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya tampak hidup dengan diskusi aktif antara mahasiswa dan peneliti. | Dok. ECOTON

#Ancaman yang Merayap dalam Rantai Kehidupan

Paparan berikutnya menyoroti penelitian mengenai mikroplastik pada guano atau kotoran kelelawar. Selama ini guano dikenal sebagai pupuk organik yang kaya nutrisi dan banyak dimanfaatkan dalam pertanian.

Meskipun demikin, penelitian menunjukkan bahwa guano juga dapat menjadi media akumulasi mikroplastik.

Melalui proses pengambilan sampel, destruksi organik, filtrasi, serta analisis FTIR, para peneliti menemukan bahwa mikrofilamen menjadi jenis mikroplastik yang paling dominan, mencapai lebih dari 50 persen dari total partikel yang ditemukan.

Ukuran partikel sebagian besar kurang dari satu milimeter. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa polyisobutylene merupakan polimer yang paling dominan.

Para peneliti menduga partikel, berasal dari serangga yang dimakan oleh kelelawar. Serangga tersebut sebelumnya terpapar mikroplastik dari lingkungan.

Proses ini menunjukkan bagaimana mikroplastik bergerak dari aktivitas manusia ke lingkungan, masuk ke ekosistem serangga, dimakan oleh kelelawar, lalu terakumulasi dalam guano yang digunakan sebagai pupuk di lahan pertanian,” ujar Eka Febriana.

Penelitian lain menunjukkan keberadaan mikroplastik pada daun tanaman padi. Partikel ini diduga berasal dari udara dan kemudian menempel pada permukaan daun.

Para peneliti menemukan total 79 partikel mikroplastik dari dua lokasi penelitian yang berbeda. Jenis yang paling dominan adalah fiber yang ringan dan mudah terbawa angin.

Warna partikel yang ditemukan bervariasi, antara lain biru, kuning, ungu, dan transparan. Ukurannya bahkan dapat mencapai sekitar 0,05 milimeter sehingga berpotensi masuk melalui stomata atau pori-pori daun tanaman.

“Jika partikel mikroplastik masuk ke jaringan daun, proses fotosintesis tanaman dapat terganggu,” kata Zacky.

Penelitian lain mengkaji mikroplastik pada kodok dan katak yang hidup di area pertanian. Hewan amfibi ini dipilih karena hidup di dua habitat—darat dan air—sehingga rentan terhadap paparan berbagai jenis polutan.

Dari hasil analisis ditemukan 121 partikel mikroplastik dalam sampel yang diteliti. Sawah padi menjadi lokasi dengan kelimpahan mikroplastik tertinggi.

“Partikel yang paling banyak ditemukan adalah fiber berwarna hitam. Warna ini diduga muncul akibat paparan sinar ultraviolet yang menyebabkan perubahan warna pada plastik,” jelas Alif.

Diskusi dalam seminar juga menyinggung dampak pencemaran udara terhadap kesehatan manusia, khususnya pada pekerja sampah.

Penelitian mengenai paparan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) menunjukkan bahwa senyawa tersebut dapat berasal dari berbagai sumber pembakaran seperti asap rokok, pembakaran sampah, maupun emisi industri.

Senyawa ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui pernapasan, kemudian dimetabolisme dan dikeluarkan melalui urin.

Peneliti menemukan adanya hubungan antara paparan PAHs dengan peningkatan biomarker inflamasi dalam tubuh.

“Paparan ini berkorelasi dengan peningkatan jumlah sel darah putih yang menunjukkan adanya respons peradangan dalam tubuh,” sebut Aulia.

Seminar itu kemudian ditutup dengan sesi diskusi panjang. Mahasiswa dan dosen mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari kemungkinan mikroplastik dalam produk kosmetik lain hingga dampaknya terhadap produksi padi.

Para peneliti sepakat bahwa langkah pencegahan paling sederhana yaitu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghentikan kebiasaan membakar sampah secara terbuka.

Temuan penelitian mahasiswa tersebut menunjukkan satu kenyataan yang sulit diabaikan: mikroplastik kini telah menyebar di hampir seluruh ekosistem.

Dari kosmetik yang digunakan di bibir, serangga di tambak, tanaman di sawah, hingga udara yang dihirup manusia, partikel plastik yang nyaris tak kasat mata itu perlahan masuk ke dalam rantai kehidupan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *