Lewati ke konten

Baja Belum Naik, Janji pun Masih Melayang: Pasar Ploso Jombang dan Proyek yang (Sedikit) Tertinggal

| 3 menit baca |Sorotan | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Denny Saputra Editor: Supriyadi

JOMBANG – Proyek rehabilitasi Pasar Ploso yang digadang-gadang bakal jadi wajah baru ekonomi utara Jombang, ternyata belum juga menunjukkan taringnya. Dari target progres yang mestinya lebih maju, realisasi fisiknya baru mencapai 33,1 persen—tertinggal sekitar dua persen dari jadwal seharusnya.

Ketua Komisi C DPRD Jombang, M Zahrul Jihad, usai melakukan sidak pada Senin (13/10/2025), menyebut keterlambatan itu masih dalam batas wajar. “Keterlambatan ini disebabkan beberapa kendala teknis, terutama karena proses pemasangan atap belum dimulai dan pekerjaan sanitasi harus dilakukan secara manual. Alat berat tidak bisa masuk karena aktivitas pedagang di area pasar masih berjalan,” ujar Zahrul, Selasa (14/10/2025).

Masalahnya, ini bukan proyek taman kota yang bisa disterilkan begitu saja. Pasar tetap hidup—pedagang masih jualan, pembeli tetap datang, dan para pekerja proyek harus menari di antara kios sayur dan tumpukan karung bawang. Sebuah pemandangan yang menggambarkan betapa sulitnya membangun ulang ekonomi rakyat kecil tanpa benar-benar mengganggu denyut hidup mereka.

#Antara Baja, Waktu, dan Kata “Kalau”

Zahrul menilai, kalau baja atap sudah naik, progres pasti cepat terkejar. Kata kuncinya di sini adalah “kalau”—kata favorit para pelaksana proyek di mana pun di Indonesia. Kalimat yang sederhana tapi sering jadi pembuka dari seribu penundaan.

Namun memang, di dunia proyek pemerintahan, dua persen keterlambatan mungkin masih tergolong “romantis”. Yang penting, laporan progresnya tetap bisa diketik dan foto lapangan tetap bisa diunggah dengan senyum.

Proyek ini menelan anggaran Rp3,3 miliar. Bukan angka kecil, apalagi untuk pasar yang disebut-sebut strategis. Tapi seperti banyak proyek lain, semangat besar di awal sering luluh di tengah jalan, saat aspal mulai panas dan atap belum juga berdiri.

#Pasar Bukan Sekadar Bangunan, tapi Nafas Ekonomi

Anggota Komisi C DPRD Jombang, Sayifulloh, mengingatkan agar proyek ini jangan dianggap remeh. Menurutnya, Pasar Ploso adalah urat nadi ekonomi masyarakat utara Jombang—tempat ribuan warga menggantungkan hidup, menakar rezeki, dan menegosiasikan harga cabai setiap pagi.

Ia menegaskan, pelaksana proyek dan pengawas lapangan dari CV Panama Karya harus segera melakukan evaluasi teknis maupun administrasi. “Progres fisik harus menyesuaikan dengan realisasi keuangan yang sudah dicairkan,” tegasnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di balik kalimat formal itu, terselip pesan yang lebih tajam: jangan sampai pasar selesai di atas kertas, tapi gagal di lapangan. Karena yang sedang diuji bukan cuma kekuatan struktur baja, tapi juga keteguhan kepercayaan publik—sesuatu yang jauh lebih sulit diperbaiki daripada atap yang belum naik.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang, Suwignyo, tampak memilih melihat sisi terang dari proyek yang sempat tersendat ini. Menurutnya, progres rehabilitasi justru menunjukkan hasil positif.

“Pengerjaan pagar keliling sudah selesai, sekarang fokusnya pada pemasangan atap,” ujarnya dengan nada optimistis—seolah baja yang baru tiba bukan sekadar material, tapi juga pembawa harapan baru.

Suwignyo tak menampik bahwa sempat terjadi jeda karena menunggu kedatangan baja struktur, bahan vital yang menentukan kelanjutan proyek. “Progresnya cukup bagus. Memang sempat ada sedikit deviasi dari rencana, tapi kini sudah kembali positif, bahkan ada yang melampaui target,” katanya, menutup pernyataan dengan gaya khas pejabat yang ingin menenangkan publik.

Tentu saja, dalam kamus proyek pemerintah, istilah “melampaui target” kadang berarti “akhirnya sesuai jadwal setelah sempat molor.” Tapi tidak apa-apa—selama baja sudah datang dan semangat tetap terpasang, semoga yang melampaui nanti bukan cuma laporan progres, tapi juga rasa percaya warga bahwa pasar ini benar-benar akan selesai tepat waktu, bukan sekadar papan proyek yang memudar di musim hujan.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *