Riset histopatologi di tambak Sidoarjo menemukan jejak logam berat dan kerusakan ginjal bandeng—peringatan sunyi tentang abainya negara pada pesisir dan pangan rakyat.
Di Desa Kalanganyar, Sedati, Sidoarjo, bandeng (Chanos chanos) tumbuh dalam air payau yang tak lagi sepenuhnya asin oleh laut. Air itu bercampur dengan limpasan sungai. Dan bersama itu, muncullah risiko.
Sebuah skripsi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (2015) mencatat kegelisahan yang konkret: masuknya logam berat kadmium (Cd) dan timbal (Pb) ke sistem tambak rakyat.
Penelitian yang mengukur kandungan Cd dan Pb pada air dan sedimen, lalu memeriksa ginjal bandeng melalui uji histopatologi. Hasilnya tampak tenang di permukaan: kadar Cd di air <0,0024 ppm dan Pb <0,0044 ppm. Namun sedimen menyimpan temuan berbeda. Cd terdeteksi 1,079 ppm, sementara Pb tidak terdeteksi. Air bisa mengalir dan tampak bersih; sedimen menyimpan kandungan membahayakan.
Masalahnya bukan hanya di angka dalam penelitain itu. Sungai Gedangan, yang bermuara ke wilayah ini, menerima beban limb

ah industri dari kawasan sekitar. Air sungai itu dipakai mengairi tambak. Rantai sebab-akibatnya sederhana: dari pabrik ke sungai, dari sungai ke tambak, dari tambak ke meja makan. Dalam ekologi, tak ada yang benar-benar hilang; semua hanya berpindah tempat.
Bandeng adalah komoditas rakyat. Ikan itu murah, banyak dikonsumsi orang, dan menjadi penyangga protein bagi di banyak keluarga. Ketika tambak tercemar, yang terancam bukan hanya produksi, melainkan kepercayaan.
#Ginjal yang Berbicara
Ginjal ikan adalah organ ekskretori sekaligus tempat akumulasi. Organ ini menyaring, menetralkan, dan – ketika beban terlalu berat – menunjukkan luka. Dalam penelitian itu ditemukan perubahan histopatologis pada ginjal bandeng: atrofi, hialinisasi glomerulus, dan cloudy swelling. Pada masa pemeliharaan tiga bulan, skor kerusakan tertinggi tercatat: atrofi 2,44; hialinisasi glomerulus 2,55; cloudy swelling 2,55.
Istilah-istilah itu mungkin terdengar masing asing terdengar di khalayak, tetapi maknanya mudah dipahami, bahwa terjadi gangguan pada struktur jaringan.
Atrofi menandakan penyusutan; hialinisasi menunjukkan perubahan pada glomerulus—bagian penting penyaring darah; cloudy swelling menggambarkan pembengkakan sel akibat gangguan metabolik. Dalam bahasa awam, ginjal itu bekerja dalam tekanan.
Memang, parameter kualitas air saat penelitian, suhu 29°C, pH 7,5, DO 6,2 mg/L, salinitas 17,8 ppt. Terlihat dalam batas layak bagi bandeng. Namun kualitas fisika-kimia yang “cukup baik” tidak otomatis meniadakan risiko akumulasi logam berat. Logam tidak selalu mematikan secara akut; zat ini kerap bekerja perlahan, mengganggu enzim, menggantikan kofaktor biologis, dan mengacaukan keseimbangan fisiologis.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Di sinilah ironi itu muncul. Air tampak memenuhi syarat. Ikan tetap hidup. Produksi berjalan. Tetapi pada level mikroskopis, jaringan memberi sinyal. Kerusakan tidak selalu dramatis; ia bisa berupa penurunan fungsi yang sunyi.
#Negara, Pesisir, dan Tanggung Jawab

Riset ini memang berskala akademik. Kajian yang tidak mengadili pabrik tertentu, tidak pula menyimpulkan krisis kesehatan publik. Namun dalam riset itu menyodorkan pertanyaan yang lebih luas: bagaimana tata kelola limbah di kawasan pesisir industri? Apakah pengawasan kualitas air berhenti pada kolom-kolom baku mutu, tanpa menelisik sedimen dan biota?
Logam berat seperti Cd dan Pb dikenal toksik dan bioakumulatif. Ia dapat masuk melalui insang, kulit, lalu terdistribusi ke organ. Jika akumulasi berlangsung lama, risiko tidak hanya berhenti pada ikan. Konsumsi jangka panjang oleh manusia membuka kemungkinan paparan yang lebih luas. Rantai makanan tidak mengenal batas administrasi.
Tambak rakyat berada di hilir—secara geografis dan politis. Mereka menerima apa yang dilepas dari hulu. Ketika limbah tak terkelola dengan disiplin, beban ekologis dipikul oleh petani kecil. Mereka jarang punya laboratorium, apalagi akses uji AAS untuk memeriksa kandungan logam. Yang mereka punya adalah pengalaman: panen menurun, ikan mudah sakit, atau pertumbuhan terhambat.
Maka, penelitian seperti ini seharusnya tidak berhenti di rak perpustakaan. Kajian ini perlu dibaca sebagai peringatan dini. Pengawasan tak cukup hanya pada air permukaan; sedimen dan jaringan biota mesti menjadi bagian dari pemantauan rutin. Transparansi data kualitas lingkungan di kawasan industri pesisir bukan kemewahan, melainkan kewajiban.
Bandeng dari Kalanganyar mengingatkan kita bahwa pembangunan tanpa disiplin limbah adalah utang yang dibayar oleh ekosistem. Dan ekosistem, pada akhirnya, adalah dapur kita sendiri. Jika ginjal ikan sudah berbicara melalui mikroskop, mungkin saatnya negara mendengar—sebelum luka yang sunyi itu menjadi krisis yang kasatmata.***

*)Ladya Kurnia Dwi Putri, mahasiswa Biologi, Angkatan 2023, Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sedang menjalani program studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Artikel ini merupakan opini pribadi penulis sebagai bagian dari pemenuhan program studi independen melalui editing redaksi.