Lewati ke konten

Bedah Persoalan Plastik di Kota Lama: Menagih Komitmen EPR Industri untuk Sungai Surabaya

| 4 menit baca |Mikroplastik | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

 

Forum di Kota Lama Surabaya membedah ancaman plastik sekali pakai yang terurai menjadi mikroplastik, menyoroti tanggung jawab industri dan masa depan sungai.

Persoalan plastik sekali pakai tetap menjadi sorotan berbagai kalangan, termasuk dalam diskusi publik yang digelar di kawasan Kota Lama, Surabaya, Selasa (3/3/2026). Sejumlah pegiat lingkungan, akademisi, dan komunitas sungai berkumpul membahas dampak lanjutan limbah plastik yang terfragmentasi menjadi mikroplastik dan mencemari perairan.

Kegiatan yang menghadirkan perwakilan dari Ecoton dan Sungai Watch ini memang tidak diikuti banyak peserta. Namun diskusi berlangsung terbuka, dengan ajakan konkret kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dimulai dari diri sendiri lalu diperluas menjadi gerakan bersama.

Sejumlah riset menunjukkan plastik sekali pakai berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Mikroplastik dilaporkan telah terdeteksi pada berbagai sampel biologis dan lingkungan, mulai dari air sungai, air minum, hingga udara.

Beberapa penelitian juga menemukan partikel mikroplastik pada darah, urin, serta sampel air ketuban ibu hamil. Temuan-temuan ini memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap tubuh manusia.

Secara ilmiah, mikroplastik berpotensi memicu respons peradangan dan mengganggu sistem metabolisme. Sejumlah studi awal juga mengaitkannya dengan kemungkinan gangguan saraf serta penurunan fungsi kognitif akibat akumulasi partikel di organ vital.

Meski demikian, para peneliti masih terus mendalami sejauh mana dampak jangka panjangnya bagi kesehatan manusia.

Diskusi di Kota Lama itu pun menyoroti dua hal utama, tanggung jawab produsen, serta efektivitas penanganan sampah di sungai-sungai Surabaya agar tidak terus menjadi jalur masuk mikroplastik ke rantai kehidupan.

#Mendesak Tanggung Jawab Industri

Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilian, menekankan pentingnya advokasi kepada perusahaan produsen kemasan. Menurut dia, beban pencemaran plastik tak bisa hanya ditimpakan kepada masyarakat sebagai konsumen akhir.

“Untuk nantinya kita advokasikan ke perusahaan-perusahaan terkait agar mereka bertanggung jawab membuat kemasan yang entah itu lebih ramah lingkungan atau yang setidaknya meminimalisir polusi plastik itu,” ujar Rafika.

Ia juga menjelaskan, skema Extended Producer Responsibility (EPR) perlu dijalankan secara konsisten. Melalui pendekatan ini, produsen tidak berhenti pada tahap distribusi produk, tetapi juga bertanggung jawab atas pengelolaan limbahnya. Plastik sekali pakai yang tidak terkelola dengan baik akan terurai menjadi partikel berukuran sangat kecil.

“Selama ini yang terjadi di masyarakat, pemahamannya plastik akan terurai dalam 300–400 tahun. Tapi kalau pada kenyataannya saat ini sudah membahayakan manusia, siapa yang bertanggung jawab?” ucapnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Mikroplastik ini sulit terlihat oleh mata, tetapi berpotensi masuk ke rantai makanan melalui air dan biota sungai. Ecoton juga mengembangkan pendekatan reduce dan reuse sebagai bagian dari strategi pengurangan timbulan sampah plastik.

Rafika menyebut temuan riset lembaganya di Gresik. Studi Ecoton menunjukkan adanya mikroplastik dalam sampel air ketuban dan urine ibu hamil di wilayah tersebut. Temuan ini, menurut dia, menjadi peringatan bahwa pencemaran plastik telah masuk ke ranah kesehatan manusia.

Upaya tersebut, lanjut Rafika, bukan semata soal estetika atau ekonomi sirkular, melainkan bagian dari strategi memulihkan fungsi sungai. Sungai merupakan sumber kehidupan yang menopang kebutuhan dasar warga. Airnya dimanfaatkan oleh perusahaan daerah air minum untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan domestik lain.

“Harapannya bisa lebih diperhatikan lagi terhadap kualitas airnya supaya sungainya itu kembali berfungsi seperti sebelumnya,” ujarnya.

Infografik Ecoton tentang temuan mikroplastik di berbagai organ tubuh manusia, sekaligus dorongan perlunya baku mutu mikroplastik dalam air untuk melindungi kesehatan publik.

#Sungai dan Masa Depan Peradaban

Perwakilan Sungai Watch, Fatima, mengajak peserta diskusi melihat sungai dalam perspektif sejarah panjang peradaban manusia. Ia menanggapi pertanyaan mengenai kondisi sungai saat ini—apakah lebih baik, stagnan, atau justru memburuk.

“Kalau kita melihat sebenarnya sungai kalau dimanfaatkan dengan baik itu bisa bermanfaat untuk berbagai macam lini kehidupan,” kata Fatima. Ia mencontohkan sistem irigasi yang telah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu.

Fatima merujuk pada kawasan Mesopotamia—wilayah yang kini mencakup Suriah dan Irak—yang berada di antara Sungai Efrat dan Tigris. Ketika sungai dikelola dengan baik, katanya, lahirlah peradaban-peradaban besar.

Analogi itu ia tarik ke konteks Surabaya. Sejumlah sungai di kota ini telah dimanfaatkan sebagai sarana irigasi, ruang publik, hingga destinasi wisata. Namun, manfaat tersebut terancam jika kualitas air terus menurun akibat pencemaran plastik dan mikroplastik.

Diskusi mengemuka pada evaluasi kebijakan pengelolaan sampah sungai. Peserta menilai, fokus penanganan masih bersifat hilir—mengangkat sampah dari permukaan—tanpa menyentuh akar persoalan produksi dan konsumsi plastik sekali pakai.

Para pembicara sepakat bahwa perubahan memerlukan kolaborasi multipihak: pemerintah daerah, industri, komunitas, dan warga. Advokasi terhadap produsen kemasan dinilai penting untuk mendorong inovasi material yang lebih aman bagi lingkungan.

Di penghujung forum, suasana Kota Lama yang bersejarah tentu saja akan menjadi pengingat, jika peradaban tumbuh di sekitar sungai, tetapi juga bisa runtuh jika sumber airnya tercemar.

Bagi para pegiat lingkungan, menjaga sungai Surabaya dari ancaman mikroplastik bukan sekadar agenda ekologis, melainkan investasi masa depan kota.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *