Lewati ke konten

Belajaraya Surabaya 2026: Tingkatkan Pendidikan Anak-anak Kenalkan Lingkungan Sekitar

| 3 menit baca |Ide | 35 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Realease Editor: Supriyadi

Belajaraya Surabaya 2026 mempertemukan ratusan komunitas, mengajak pendidikan lingkungan dimulai dari rumah, sekolah, dan sekitar, melalui kolaborasi nyata demi bumi berkelanjutan.

Pendidikan lingkungan dinilai perlu dimulai dari ruang-ruang terdekat seperti keluarga, sekolah, dan komunitas lokal. Gagasan ini menjadi benang merah dalam Belajaraya Surabaya 2026 yang digelar di Sekolah Cikal Surabaya, dan diikuti lebih dari seratus komunitas serta pegiat Pendidikan, Sabtu (7/2/2026).

Forum kolaborasi yang diinisiasi jaringan Semua Murid Semua Guru (SMSG) ini menjadi ruang bertemunya pendidik, komunitas, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan berdampak nyata.

Koordinator Divisi Engagement & Empowerment SMSG, Renita Yulistiana, menegaskan pentingnya kerja lintas sektor dalam pendidikan. Menurutnya, tantangan pendidikan tidak bisa diselesaikan secara parsial.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi, integrasi, dan inovasi menjadi tiga pilar utama agar pendidikan benar-benar memberi dampak,” ujarnya.

Dalam sesi Ngobrol Publik #2 bertajuk “Lingkungan: Belajar Jaga Bumi, Mulai dari Sekitar”, sejumlah narasumber membagikan praktik konkret pendidikan lingkungan.

Rafika Aprilianti dari ECOTON Foundation menyoroti minimnya kedekatan anak-anak dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyebut banyak anak di Surabaya yang tidak mengenal nama sungai atau jenis ikan di wilayahnya sendiri.

“Banyak anak tidak tahu nama sungai atau jenis ikan di Surabaya. Kita perlu membawa mereka terjun langsung ke alam, bukan hanya belajar teori di kelas,” ungkapnya.

Sementara itu, Dedhy Bharoto Trunoyudho, Co-Founder Garda Pangan, mengangkat persoalan sampah makanan. Ia menjelaskan, limbah makanan di tempat pembuangan akhir menghasilkan gas metana yang berdampak besar terhadap krisis iklim.

“Perubahan tidak harus dimulai dari semua orang. Cukup 25 persen di sekitar kita yang peduli, sisanya akan mengikuti,” jelasnya merujuk pada teori konformitas.

Dari sisi keluarga dan pendidikan rumah, Lyly Freshty dari Dewan Asas Charlotte Mason Indonesia menekankan pentingnya keterikatan emosional anak dengan alam.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Tanpa keterhubungan batin, sulit bagi anak untuk peduli. Alam perlu menjadi guru sejak dini, dengan teladan orang dewasa,” ujarnya.

#Ruang Belajar Alternatif

Kegiatan belajar di lapangan membawa anak-anak untuk memahami ekologi sungai dan dampak mikroplastik pada lingkungan. | Foto: ECOTON

Selain isu lingkungan, Belajaraya Surabaya juga membahas literasi di era digital. Andika Faris, Guru Duta Canva Indonesia menekankan, literasi saat ini mencakup kemampuan memahami dan menyaring informasi digital.

Adhicipta R. Wirawan dari Komunitas Papan Dolanan Arek Surabaya (PADAS) memperkenalkan board game sebagai media belajar alternatif. Menurutnya, permainan papan melatih pengambilan keputusan, empati, dan interaksi sosial yang sulit diperoleh dari pembelajaran berbasis teks semata.

Sementara itu, Nuri Fauziah dari Komunitas Iseek melihat literasi dari perspektif psikologi. Ia menyebut literasi sebagai kemampuan membaca pola emosi dan perilaku, terutama dalam penggunaan media digital yang memiliki dampak positif sekaligus negatif.

Antusiasme peserta terlihat dari munculnya rencana kolaborasi antarkomunitas.  Seorang ibu bernama Tian dari Kumpul Dongeng Surabaya menyatakan, ketertarikannya untuk bekerja sama dengan ECOTON dalam pendidikan lingkungan berbasis dongeng.

“Mendongeng bisa menjadi jembatan yang menyenangkan untuk mengenalkan isu sungai, lahan basah, hingga mikroplastik kepada anak-anak,” katanya.

Pemahaman ekologi diperkuat melalui eksplorasi sungai, membiasakan anak menghargai lingkungan sejak dini. | Foto: ECOTON

Acara ditutup dengan sesi Temu Penggerak Pendidikan dalam format Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti lebih dari 110 komunitas pendidikan dari Jawa Timur. Forum ini menghasilkan komitmen bersama melalui Deklarasi Penggerak Pendidikan untuk memperkuat pendidikan yang berpihak pada anak dan lingkungan.

Moderator acara, Devira Putri Rahmawati dari Komunitas Narasi Jatim, menegaskan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus dimulai dari program besar. “Menjaga bumi berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, dari sekitar kita,” tutupnya.***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *