Lewati ke konten

Bengawan Solo Bojonegoro: Sungai “Cemar Lagi”, Siapa yang Bisa Disalahkan?

| 2 menit baca |Sorotan | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

BOJONEGORO – Kalau Bengawan Solo itu manusia, mungkin dia sudah menderita trauma berkepanjangan. Baru saja lega karena sempat dianggap “cukup bersih”, eh… beberapa minggu kemudian, dia kena pencemaran lagi. Warga Bojonegoro, yang biasanya santai sambil mancing atau cuci baju di pinggir sungai, mendadak pasang ekspresi cemas: “Loh, kok airnya keruh lagi?”

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Luluk Alifah, bilang, penyebab pasti pencemaran masih misterius. Sampel air sudah dikirim ke laboratorium di Surabaya pada 23 September 2025, dan hasilnya diperkirakan keluar 8 Oktober 2025. Artinya, warga masih harus menunggu jawaban sambil menatap sungai yang makin mirip teh susu.

“Kami koordinasi sama DLH Jatim, BBWS Bengawan Solo, dan Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup. Semua ini supaya bisa tahu sumber pencemarannya dan menentukan langkah penanggulangan,” kata Luluk, Rabu, (1/10/2025).

Kalau bahasa gampangnya, DLH Bojonegoro lagi main “detektif lingkungan”. Tapi sayangnya, main detektif ini kadang serasa main petak umpet sama polusi, sumbernya di mana, pelakunya siapa, semuanya bikin kepala pusing.

#Perlu Koordinasi dengan Hulu

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Koordinasi nggak cuma di Bojonegoro. Ngawi, yang ada di hulu, juga dilibatkan karena laporan terakhir menunjukkan kondisi air di sana juga ikut tercemar. Artinya, pencemaran ini nggak bisa dianggap masalah lokal—ini drama lintas kabupaten, lengkap dengan intrik dan plot twist yang nggak jelas siapa penjahat utamanya.

Pemantauan pun terus dilakukan, baik lewat pengamatan langsung maupun data Online Monitoring Status Mutu Air milik Kementerian Lingkungan Hidup. Tapi kalau warga berharap hasilnya cepat, mungkin harus siap kecewa. Sebab, data terakhir dari Stasiun Air Padangan menunjukkan pola pencemaran yang repetitif: 16–23 September 2025 cemar sedang, 27 September–1 Oktober 2025 cemar sedang lagi. Benar-benar siklus yang bikin hati was-was.

Intinya, Bengawan Solo di Bojonegoro lagi memberi pelajaran penting, sungai itu hidup, tapi sekaligus rapuh. Kalau warga dan pemerintah nggak tanggap, bisa-bisa dia cuma jadi “sungai Instagramable” di foto drone—keruh, tercemar, tapi tetap viral.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *